SIGIT

SIGIT
Bimbang


__ADS_3

 


 


“ Sudahlah jangan menangis lagi, dulu kamu pernah berjanji padaku untuk idak menangis lagi.” Ucap Sigit menghapus air mataku dan tersenyum untuk menenagkanku. Walau terlihat kesedihan di wajahnya namun Dy berusaha tegar dihadapanku.


“ Ka Setya, Ka Risya ayoo ketaman bermain bersama kami.” Ajak Ega yang menghampiriku dan Sigit untuk mengajak kami bermain.


“ Baiklah Ega mari kita ketaman.” Jawabku menghampiri Ega dan mendorong kursi rodanya ketaman. Sigitpun mengikuti kami dari belkang.


Sesampainya ditaman anak – anak sedang bermain gelembung yang terbuat dari air sabun. Aku dan Sigit ikut bermain bersama mereka. Setelah mereka puas bermain gelembung akhirnya kami melanjutkan main petak umpat. Mata aku pun di tutup oleh mereka dengan sebuah syal berwarna merah. Mereka berlari dan aku mencarinya dengan mata tertutup, begitu bahagia terdengar mereka tertawa riang. Aku ikuti suara tawa mereka sampai akhirnya aku menabrak seseorang. Sepertinya ini bukan anak – anak dan Dy juga tinggi.


Aku membuka penutup mataku dan ternyata Sigit yang sudah ada di depanku dengan senyumnya yang manis.


 


“ Assalamualaikum Arka.” Ucapku mengangkat telepon dari Arka dan menjauh dari Sigit.


“ Wa’alaikum salam sayang, apakah kamu begitu sibuk sehingga mengabaikan pesan dariku.?” Ucap Arka di balik telepon dengan nada yang sangat khawatir. Seandainya Arka tau aku sedang bersama Sigit mungkin bukan khawatir lagi tapi curiga menghantuinya.

__ADS_1


“ Maaf Arka aku sedang asik bermain bersama anak – anak panti.” Ucapku mencari alasan agar Arka tak curiga.


“ Aku sudah di tempat Pak Kades membawa bahan yang kau butuhkan untuk hari esok, apa kamu mau aku jemput ke panti.” Ucap Arka di balik telepon.


“ Tidak usah Arka ini kami sudah dijalan akan pulang, ya sudah tunggu di tempat Pak Kades ya.” Ucapku meminta Arka untuk tetap di rumah Pak Kades. Aku tak ingin Arka bertemu dengan Sigit saat ini.


“ Ya sudah, jangan lama – lama aku merindukan mu.” Ucap Arka di balik telepon dengan nada manja.


“ Iya, aku juga. Bye bye..” Ucapku kemudian  menutup telepon dari Arka. Aku segera berpamitan kepada Bu Risma dan Sigit.


“ Maaf Bu Risma dan Mas Sigit saya harus kembali ke rumah Pak Kades karena Dr.Arka sudah menunggu untuk memberikan bahan – bahan  persiapan acara esok.” Ucapku kepada Bu Risma dan Sigit. Sigit langsung menatapku dengan tatapan yang berbeda.


“ Terimakasih Sigit untuk donasinya, itu sangat membantu untuk kami dan warga disini.” Ucapku sambil memberikan salam kepada Sigit.


“ Iya sama – sama senang dapat membantu mu dan warga disini. Apa mau aku antar sampai rumah Pak Kades?” Ucap Sigit yang masih menahan genggaman tanganku. Aku mencoba melepaskan namun Sigit malah memegang lebih erat seakan tak ingin melepaskan tanganku.


“ Sampai Jumpa Sigit.” Ucap Via sehingga membuat Sigit melepaskan tanganku perlahan. Hatiku malah terasa sakit dan sedih saat Dy melepaskan perlahan genggamannya. Kamipun berjalan pulang menuju rumah Pak Kades.


“ Maaf menunggu lama.” Ucapku kepada Arka yang sedang duduk di teras depan rumah Pak Kades saat baru saja tiba. Terlihat dari teh yang hampir habis sepertinya Arka sudah menunggu cukup lama.

__ADS_1


“ Hampir saja aku tertidur karena menunggu mu.” Ucap Arka menggoda diriku. Selama apapun Dy menungguku Arka tak pernah marah ataupun kecewa. Itulah yang membuatku menerimanya karena Dy begitu sabar menghadapiku.


“ Iya, iya maaf. Sebagai gantinya aku buatkan makan ya. Pasti sudah sesore ini kau belum makan siang.” Ucapku kepada Arka dan langsung menuju dapur. Aku buatkan Arka dan teman – temanku nasi goreng, karena bahan yang tersedia tidak lengkap sehingga aku hanya bisa membuat nasi goreng,


Selama aku memasak Arka dan teman – temanku sedang berdiskusi untuk acara hari esok. Karena Arka esok akan ikut mengawasi kami dan membantu kami.


“ Makanan sudah siap.” Ucapku sambil membawa 5 piring nasi goreng. Via membantuku untuk membawakan minum.


“ Wah enak nih sepertinya.” Ucap Kiki sambil mencium wangi nasi goreng buatanku.


“ Wanginya saja yang enak, tapi hati – hati kadang rasanya asin.” Ucap Arka menggodaku sambil mengambil sepiring nasi goreng yang aku tata diatas meja.


“ Akh Dr.Arka bisa saja.” Ucap Runa sambil tertawa dan yang lainpun ikut tertawa karena ulah


lucu Arka.


 


 

__ADS_1


__ADS_2