
“ Pagi Risya.” Ucap Kiky yang sudah bersiap akan keposko kesehatan.
“ Pagi Kiky. Apa kau melihat Runa?” Ucapku sambil mengikat tali sepatuku.
“ Runa dan Amel sedang ke Kota untuk membeli beberapa obat serta bekal untuk makan kita.” Ucap Kiky
“ Hmmm, kalau Via?”
“ Via Dy sudah pergi ke Balai Desa, tadi Dy menitip pesan agar kau menunggunya di Panti. Setelah Dy dari Balai Desa akan menemuimu di Panti.Ya sudah aku berangkat duluan ya.” Ucap Kiky sambil mengenakan topinya dan berjalan melangkah keluar.
“ Ya Hati – hati.” Hari ini kami kembali ke aktivitas kami masih – masing. Aku memakai tas gendongku, aku langkahkan kakiku menuju Panti. Hari ini aku masih harus bertugas dipanti.
Aku yakin suasana dipanti tidak akan sama seperti hari kemarin – kemarin tetap bagaimanapun aku harus bisa membuat anak – anak itu tidak pernah berputus asa dan mengembalikan semangat mereka.
Aku buka pintu pagar dipanti, terlihat Bu Risma yang sedang menyapu halaman, matanya masih terlihat sembab karena kesedihan yang mendalam.
“ Assalamualaikum Bu Risma.” Ucapku saat mendekati Bu Risma dan mencium punggung tangan Bu Risma.”
“ Wa’alaikum salam Nak Risya.” Ucap Bu Risma dengan senyum manisnya, meski mata yang sembab dan wajah pucat tanpa make up tetapi senyumnya masih bisa memberikan ketenangan.
“ Dimana anak – anak Bu ?” Ucapku sambil melihat sekeliling panti yang sepi tanpa lalu lalang anak – anak.
“ Mereka masih mengaji di mushola Nak. Oh iya Nak Risya bisa bantu Ibu ?” Ucap Bu Risma lalu meletakkan sapu lidinya dipohon mangga di samping kami.
“ Untuk apa ya Bu, insyallah saya akan membantu selama saya bisa Bu.” Ucapku sambil melangkahkan kaki kedalam panti bersama Bu Risma. Kami melangkah menuju dapur terlihat sebuah rantang sudah tersusun rapi dengan isinya diatas meja. Kami mendekati rantang itu.
__ADS_1
“ Tolong bawakan ini untuk Mas Setya, sejak semalam Dy belum makan. Saya khawatir jika nanti Dy sakit jika terus tidak makan.” Ucap Bu Risma sambil memberikan rantang itu kepadaku.
“ Iya Bu saya akan mengantarkan makanan ini kepada Sigit.” Ucapku mengambil rantang itu dari tangan Bu Risma.
“ Terimakasih Nak Risya.” Ucap Bu Risma mengelus halus bahuku.
“ Assalamualaikum.” Aku berpamitan menuju rumah Sigit yang berada di samping panti.
“ Wa’alaikum salam.” Ucap Bu Risma mengantarku sampai depan pintu panti.
Aku langkahkan kakiku menuju rumah Sigit, terlihat tukang kebun yang sedang membersihkan halaman rumahnya, Dy tersenyum kepadu dengan sopan. Aku langkahkan lagi kakiku hingga depan pintunya. Aku mengetuk pintu namun tdak terdengar jawaban dari Sigit, pintu rumahnyapun tidak terkunci. Aku masuk secara perlahan dan terlihat sepi. Wajar saja rumah sebesar ini tidak ada assiten rumah tangga dan hanya Sigit seorang yang tinggal disini.
Aku meletakkan makanan itu di meja dapur, mungkin Sigit masih tidur pikirku. Saat aku akan kembali kepanti terdengar suara gelas terjatuh dari kamar utama. Aku langsung berlari menaiki tangga.
Pikiranku sudah kacau dan langsung tertuju kepada Sigit. Aku membuka kamar utama terlihat Sigit sedang membersihkan pecahan kaca itu. Syukurlah ternyata Dy baik – baik saja.
“ Tidak ada apa – apa tadi tidak sengaja aku menyenggolnya.” Ucap Sigit dengan tatapan aneh kepadaku seperti tidak mengenaliku.
“ Mari aku bantu.” Ucapku sambil mengambil pecahan beling itu.
“ Maaf kamu siapa ya?” Ucap Sigit yang ternyata ingatannya sudah mulai memburuk.
“ Auu.” Beling itu melukai jari tanganku. Aku sangat terkejut dan sedih saat Sigit tidak mengenaliku. Apa mungkin apa yang dikatakan Arka itu terjadi, aku tidak bisa menahan airmataku lagi. Air mata itu mengalir perlahan dipipiku.
“ Hati – hati, biarkan aku saja.” Ucap Sigit memegang jemariku yang berdarah dan langsung menghisapnya dengan mulutnya untuk menghentikan darah dijariku.
“ terimakasih, maaf malah menyusahkanmu.” Ucapku menundukan kepala. Sigit menuntunku dan mendudukanku di tepi ranjang. Lalu Dy kembali membersihkan serpihan kaca itu dan membuangnya ketempat sampah yang ada di balkon.
“ Maaf aku tidak mengingat namamu, tiba – tiba pagi ini kepalaku sangat sakit dan pandanganku sedikit kabur.” Ucap Sigit yang duduk disampingku.
__ADS_1
“ Aku Risya, Iya tidak apa – apa, mungkin ini efek dari sakitmu.” Ucapku sambil menetesakan air mata, aku langsung buru – buru menghapusnya agar Sigit tidak melihat.
“ Jangan menangis aku baik – baik saja, apa kita tinggal disini bersama dan memiliki hubungan special?” Ucap Sigit membantuku memhapus air mataku dan mengelus rambutku secara halus.
Aku bingung harus berkata apa kepadanya, aku hanya bisa menundukan kepalaku.
“ Lebih baik kita sarapan terlebih dahulu, kamu belum makan dari kemarin. Habis itu kamu minum obatmu. Aku tidak ingin kondisimu memburuk.” Ucapku sambil memegang tangan Sigit dengan lembut.
“ Maafkan aku tidak bisa mengingatmu, tetapi kamu sangat khawatir kepadaku. Aku pikir kita memiliki hubungan special saat aku melihat mu pertama kali aku merasakan hal yang berbeda.” Ucap Sigit memeluk tubuhku.
“ Anggaplah aku apa kata hatimu jika itu lebih baik untuk mu. Aku akan membantu mu secara perlahan untuk mengingat semuanya.” Ucapku sambil memejamkan mata merasakan hangatnya pelukan dari Sigit.
“ Ya sudah mari kita makan, lalu kita akan menemui Bu Risma dan anak panti.” Ucapku saat Sigit melepaskan pelukannya.
“ Siapa itu Bu Risma dan mengapa aku harus bertemu anak panti?” Ucap Sigit dengan wajah bingung dan sedih.
“ Bu Risma adalah pengurus panti dan anak panti itu anak asuhmu.” Ucapku membantu Sigit mengingatnya secara perlahan.
Aku menyendokan nasi kepiringnya dan lauk serta sayur. Terlihat Sigit yang saat itu kurang nafsu makan sehingga makannya tidak dihabiskan. Aku ambilkan obat yang harus Dia minum. Ternyata selama ini begitu banyak obat yang harus Dia konsumsi untuk meredakan rasa sakit di tubuhnya.
“ Bu Risma bisa kita bicara sebentar.” Aku mengajak Bu Risma menjauh dari Sigit. Aku ceritakan semuanya kepada Bu Risma apa yang terjadi kepada Sigit. Bu Risma tak kuasa menahan kesedihannya. Kami berusaha terlihat kuat saat ada di hadapan Sigit.
Setelah berbincang dengan Bu Risma cukup lama aku membawa Sigit berkeliling melihat Desa. Mungkin dengan seperti ini Dia akan mengembalikan ingatannya sedikit demi sedikit.
“ Desa disini sangat indah, maukah kamu tingal bersamaku disini untuk waktu yang lama.” Ucap Sigit sambil berjalan dan kami berpegangan tangan layaknya sepasang kekasih yang sedang berlibur.
“ Aku sudah berjaniji untuk menemanimu Sigit.” Ucapku berhenti disebuah jembatan dan menatap wajah Sigit yang terlihat pucat. Sepertinya hari ini kesehatannya sangat tidak baik.
“ Terimakasih sayang.” Ucap Sigit menggenggam kedua tanganku dan kami saling memandang.
__ADS_1