SIGIT

SIGIT
Malaikat Kecil


__ADS_3

 


 


“ Panggil Dokter “ Ucap bu Risma meminta seseorang menjemput Dokter klinik yang sengaja di sediakan tidak jauh dari panti.


“ Maaf bu Risma, boleh saya mengecek keadaanya kebetulan saya sedikit paham karena saya mahasiswa kedokteran “ Ucap Ku menghampiri Ega, kebetulan di tas ku ada beberapa alat yang bisa membantu.


“ Silahkan nak Risya “ Ucap ibu Risma dengan isak tangis.


Setelah aku memeriksanya ya tuhan tak menyangka gadis yang tadi terlihat tegar kini dalam keadaan kritis, dy benar – benar anak yang hebat.


“ Bu Risma dy harus segera di bawa kerumah sakit, siapkan mobil. Saya akan mencoba menghubungi rekan saya yang kebetulan bertugas di rumah sakit kota bandung “ Ucap ku meminta bu Risma segera menyiapkan mobil. Semua terlihat sangat sedih saat melihat keadaan Ega.


“ Ega jangan tinggalkan kami, kamu harus kuat “ Ucap seorang anak di pojok pintu kamar sambil menangis terisak – isak. Ku hampiri anak itu dan memeluk nya.


“ Tenang Ega akan baik – baik saja, saya punya teman yang bisa membantu nya “ Ucap ku menenangkan anak itu.


“ Tapi mereka juga dulu seperti Ega ka, lalu mereka meninggalkan kami “ Tangis anak itu semakin dalam. Apa dy berkata mereka berarti selama ini sudah sering anak – anak itu melihat kejadian ini. Sungguh luar biasa anak – anak ini mereka tau umur mereka tak lama lagi tapi mereka begitu bisa menyembunyikan kesedihan dan ketakutan mereka.

__ADS_1


Kami membawa Ega ke dalam mobil dan memberikannya bantuan Infus serta oksigen dari klinik di rumah kanker itu.


“ Hallo ka Arka, ka Arka stay di rumah sakit tidak. Ini Risya sedang bersama pasien kanker dan keadaannya sangat kritis. Ka Arka bisa bantu Risya “ ucap ku saat menelepon Arka. Ya Arka kini sudah menjadi dokter


spesialis kanker di Bandung .


“ Risya sayang kamu tenang ya, saya stay di rumah sakit saat ini. Kamu sudah sampai mana dan sama siapa “ Tanya Arka terlihat mencemaskan ku namun dy masih bisa menenangkan ku. Arka kini menjadi tunangan ku. Sejak kepulangannya dari London setahun lalu dy langsung menemuiku dan menepati janjinya untuk melamarku. Karena aku ingin menjadi dokter juga seperti Bayu dan Arka akhirnya kami memutuskan untuk bertungan terlebIh dahulu.


Aku pun memberi kabar kepada Via agar dy tak khawatir dan mencari ku.


 


 


cemas.


“ Ega sudah terkena kanker selaput otak stadium akhir, dy anak yang baik dan ceria. Dy tak punya orang tua. Tuan membawa nya 2th lalu, dy bertemu Ega sedang berjualan asongan di pinggir jalan. Ega di usia nya yang


sangat belia begitu harus menanggung kesakitan ini.  Ega selalu memberi semangat kepada rekan – rekannya

__ADS_1


sesekali dy selalu menahan rasa nyerinya agar teman – teman nya tak mengkhawatirkannya. Kami belum pernah melihat Ega mengeluh sebelum nya. Dy bagai malaikat penenang yang dikirimkan untuk kami “ Ucap bu Risma tak bisa menahan airmata nya yang terus mengalir, ku peluk bu Risma dan mencoba menenangkannya.


2 jam sudah Ega di ruang ICU belu ada satu orang dokterpun yang keluar dari ruangan itu.


“ Bagaimana kedaan Ega Arka “ Ucap Ku saat Arka keluar dari ruang ICU.


“ Alhamdulillah Ega masih di beri keselamatan namun kita gak bisa berharap banyak semoga tuhan kasih keajaiban. “ Ucap Arka sambil melepas sarung tangannya dan maskernya.


“ Apa Ega sudah boleh di besuk dok “ Tanya bu Risma yang sangat khawatir akan Ega.


“ Maaf bu untuk saat ini belum bisa, mungkin setelah Ega di pindahkan ruangan ibu bisa melihat nya. Risya bisa ikut keruangan saya. “ Ucap Arka penuh wibawa.


“ Permisi ya bu Risma saya tinggal dahulu sebentar “ Ucap ku kepada bu Risma dan aku mengikuti Arka keruangannya.


“ Kamu mau minum apa Risya “ Tanya Arka sambil duduk di samping ku.


“ Gak usah repot – repot. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Ega “ Tanya ku cemas karena meihat ekspresi Arka tadi saat keluar ruangan seperti orang yang putus asa.


“ Bisa kamu ceritakan dulu bagaimana bisa kamu mengenal Ega “ Tanya Arka sambil memegang tangan ku dan berusaha menenangkan ku.

__ADS_1


“ Aku baru saja tiba di desa Cibuyut, lalu aku melihat rumah kanker dan penasaran kemudian aku berkunjung kerumah itu, seorang anak mengajak ku bermain. Kemudian aku berbincang dengan pengurus rumah itu, tiba – tiba tak lama seseorang berteriak Ega pinsan. Saat ku lihat keadaannya sudah kritis. “ Aku menceritakan kejadian itu kepada Arka dan tak bisa menahan tangis ku, rasanya walau aku baru bertemu Ega tapi dy begitu menyentuh hati ku. Sungguh anak yang cantik dan malang. Anak sekecil itu harus menanggung  sakit yang menyakitkan di tubuhnya.


__ADS_2