SIGIT

SIGIT
AIR MATA TERAKHIR


__ADS_3

 


 


Pagi ini aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Aku tahu bahwa KKN kami belum selesai tetapi aku sudah tidak bisa lagi tinggal di Desa ini mungkin aku akan mencari tempat lain untuk menyelesaikan KKN aku tetapi tidak di Bandung lagi. Karena kenangan di Bandung ini sudah cukup untukku.


“ Kenapa Risya kamu memutuskan ini sebelah pihak?” Ucap Kiky yang kecewa dengan keputusanku.


“ Maafkan aku tetapi aku harus pergi dari sini.” Ucapku sambil mengemas semua barang – barangku.


“ Tidak Risya, ini bukan kemauanmu, tetap disini Risya tugas kita hanya beberapa hari lagi. Esok Arka sudah kembali ke Bandung.” Ucap Runa yang mencoba menahanku.


“ Apa Arka yang memintamu untuk kembali ke Jakarta?” Tanya Amel yang berdiri di pintu kamarku dirumah pak Agung.


“ Bukan, Arka tidak mengetahui semua ini. Bahkan aku tidak memberitahunya jika akan kembali ke Jakarta.” Ucapku yang duduk di tepi kasur.


“ Sudahlah Risya terserah kamu saja, inilah aku tidak menyukai yang namanya Cinta. Dia merusak semuanya. Harusnya kamu lebih dewasa menghadapinya Risya bukan malah mengorbankan pekerjaan kita. Kamu pikir ini hanya tentang kamu. Kamu salah ini tentang kita, tentang nilai kita Risya. Sekalian saja kalian semua ikut pergi.”


Ucap Kiky dengan penuh amarah dan menggebrak pintu kamar. Kiky pergi meninggalkan  kami.


“ Kiky mau kemana kau.” Ucap Runa yang berusaha untuk mengejar Kiky.


Benar kata Kiky aku bodoh dalam hal cinta, tidak seharusnya  aku bermain – main dengan cinta, tidak seharusnya aku bertemu dengan Sigit dan mencintainya. Aku salah dan aku bodoh.


“ Sudahlah Risya tidak perlu mendengarkan apa kata Kiky.” Ucap Via meranngkulku. Amel kini mendekat dan ikut merangkulku. Aku tahu mereka adalah teman yang luar biasa untukku.


“ Kalian tidak tahu dan tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi. Aku lelah.” Ucapku sambil meneteskan air mata di pelukan Amel dan Via.


 


“ RISYA.”


“ RISYA.”


Terdengar seseorang memanggil namaku dari luar, suara wanita yang begitu panik dan bergetar. Kami langsung bergegas keluar untuk menghampiri wanita itu.


“ Bu Risma.” Ujar kami bersama saat melihat Bu Risma dengan wajah panik dan isak tangis, terlihat Bu Risma yang bertelanjang kaki beridiri di ruang tamu.


“ Ada apa Bu?” Ucapku menghapiri Bu Risma dan memegang tangannya.


“ Mas Setya Risya, Mas Setya.” Ucap Bu Risma terbata – bata dengan isak tangis. Jantungku seketika seperti berhenti berdetak saat Bu Risma menyebut nama Sigit. Ya Tuhan  apa yang terjadi terhadap Sigit sehingga Bu Risma sepanik ini, pikiranku sangat buruk tentangnya.


“ Ada apa Bu dengan Sigit?” Ucapku kepada Bu Risma menjadi ikut panik, Aku mencoba menghempaskan pikiran burukku tentang Sigit.

__ADS_1


“ Mas Setya ditemukan tidak sadarkan diri dikamarnya.” Ucap Bu Risma yang terus menangis, Bu Risma menarikku untuk segera kerumah Sigit.


Akhirnya kami semua pergi kerumah Sigit dengan menggunakan motor yang kami pinjam dari warga.


Ketika sampai dirumah Sigit aku segera berlari kekamar Sigit. Terlihat Sigit yang sudah terbaring diatas tempat tidurnya dan seorang Dokter yang berada disampingnya.


“ Bagimana kondisinya Dok?” Ucapku kepada Dokter itu saat menghampiri Sigit.


“ Dia tadi sempat sadar dan memanggil namamu Risya.” Ujar Dokter Adan, Dokter Adan adalah Dokter umum yang bertugas di klinik Panti.


“ Sigit, bangun ini aku ada disini.” Ucapku memegang tangan Sigit, aku tidak kuasa melihatnya seperti ini.


Sigit tidak meresponku sama sekali, kami semua menangis saat melihatnya sepertini.


“ Hey pria angkuh, aku ada disini. Buka matamu atau aku hancurkan semua bola basketmu.” Ucapku yang terus berusaha membangunkan Sigit. Aku yakin Dia akan mendengarku dan membuka matanya.


Bu Risma dan yang lain pergi keluar meninggalkan kami berdua. Aku benar – benar tidak kuasa menahan air mata ini. Jangan sekarang Sigit, belum waktunya kamu harus kuat dan tetap hidup. Teriakku dalam batin.


“ Hey Pria angkuh, apa kamu masih ingat janjimu untuk mendaki bersamaku. Lekas buka matamu. Setelah itu kita daki seribu gunung bersama. Kamu harus menepati janjimu.”  Aku menangis sekencang mungkin saat ini, aku terus memegang tangannya agar Dia merasakan hangatnya tubuhku. Aku cium keningnya dan aku peluk tubuhnya.


“ Bangun Sigit, ayo bangun jangan seperti ini. Menagapa kamu selalu membuatku sedih.” Ucapku penuh emosi.


Sigit meresponku, dia menggerakan tangannya dan membuka matanya perlahan.


“ Hey wanita sombong, jangan menangis. Usap air matamu.” Ucap Sigit dengaan suara yang sangat pelan dan bergetar.


“ Mengapa kamu membuatku khawatir sepert ini, ayo bangun.” Ucapku memeluk Sigit.


Sigit mengelus halus rambutku dan tersenyum.


“ Aku baik – baik saja Risya, usap air matamu.” Ucap Sigit menyetuh pipiku halus.


“ Jangan seperti ini lagi, aku akan memanggil Dokter terlebih dahulu.’ Ucapku sambil memegang tangan Sigit.


“ Tidak Risya, tetap disini.” Ucap Sigit menahanku dalam pelukannya.


“ Sigit.” Ucapku namun jari Sigit menahan mulutku untuk tidak berbicara lagi.


Tidak tahu apa yang dipikirkannya saat ini tetapi aku sangat nyaman dalam pelukannya.


Jika aku bisa meminta agar Sigit tetap bisa hidup dengan menukar kebahagiaanku.


Aku sangat rela jika harus kehilangan kebahagiaanku.

__ADS_1


Jika saja aku bisa memutar waktu, aku ingin mengulang 6 tahun lalu untuk ada di samping Sigit selamanya.


Seandainya kesempatan kedua itu ada, aku ingin mengulang semua kisah kita dari awal.


Seandainya kesempatan kedua itu ada aku ingin Tuhan mempertemukan kita lebih awal.


Tuhan jika kau mendengar Doa kami, aku mohon angkat semua penyakitnya berikan Dia kesempatan untuk hidup. Aku sungguh tidak mampu jika harus terus melihatnya menderita seperti ini.


 


*****


“ Hallo Arka.” Ucapku kepada Arka di balik telephone.


“ Risya, aku sudah mengurus semuanya, aku ingin pernikahan kita di percepat.” Ucap Arka sontak membuatku kaget.


“ Kenapa mendadak sekali Arka.” Aku tidak tahu mengapa Arka merencanakan ini sendirian tanpa persetujuanku.


“ Maafkan Aku Risya, tetapi aku sudah mendapat restu dari Orang Tuamu. Mungkin setelah kau menyelesaikan tugasmu di Desa kita akan melangsungkan pernikahan kita.” Ucap Arka di balik telephone.


“ Tapi apa alasannya, kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya. Kapan kamu kembali ke Bandung.” Ucapku sungguh kecewa dengan keputusan Arka.


“ Aku benar – benar minta maaf sayang, aku akan menjelaskannya nanti setelah kita bertemu. Aku masih mengurus semua surat – surat untuk pernikahan kita. Jika sudah selesai aku akan segera menemuimu. Kamu jaga diri baik – baik. Aku merindukanmu.” Ucap Arka kemudian menutup teleponnya.


Ada apa Arka mengapa secepat ini, mengapa kita tidak bicarakan dulu. Aku tidak habis pikir Dia akan mempercepat pernikahan kita. Satu masalah belum selesai mengapa harus muncul masalah lain.


“ Ada apa Risya?” Ucap Via yang menghampiriku


“ Arka Via, Dia meminta pernikahan kita di percepat. Tetapi aku tidak tahu apa alasannya.”  Ucapku sambil menggenggam tangan Via.


“ Apa kamu tidak bertanya kepadanya.” Ucap Via mengusap halus rambutku.


“ Sudah Via, tetapi Arka tidak memberitahu alasannya. Ada apa Arka ini. Harusnya Dia menunggu satu tahun lagi.” Aku berdiri dari kursiku gdan masih berpikir mengapa Arka mengambil keputusan secepat ini.


“ Mungkin Dia sudah tidak sabar ingin hidup bersamamu.” Ucap Via merangkul bahuku.


“ Tidak, Arka bukan tipe pria seperti itu, aku tahu Arka seperti apa.”


“ Ya sudah kita tunggu saja sampai Arka tiba, oh iya apa kamu akan ikut ke kantor Kepala Desa.” Ucap Via yang sudah bersiap akan ke Balai Desa.


“ Tidak Via, aku sudah ada janji dengan Sigit. Maafkan aku.” Ucapku tersenyum dan memegang bahu Via.


“ Iya Risya aku paham, ya sudah jika terjadi sesuatu lagi segera hubungi kami.” Ucap Via yang kemudian berjalan meninggalkan panti.

__ADS_1


 


 


__ADS_2