SIGIT

SIGIT
BERBEDA


__ADS_3

 


 


“ Via sejak kapan kamu disini?” Ucapku saat tiba di rumah panti setelah memkberi Sigit obat. Saat ini Sigit sedang tidur dan beristirahat.


“ Aku datang pada saat Kamu pergi dengan Sigit keliling Desa. Bagaimana keadaannya Risya?” Ucap Via sambil mengusap halus bahuku.


“ Ingatannya memburuk namun sesekali Dia melupakan ingatannya dan sesekali juga Dia mengingatnya kembali. Aku takut bahwa ingtannya akan hilang selamanya.” Ucapku yang berdiri disamping Via dan menundukan kepala.


“ Sabar ya Risya, apa kamu sudah membertahu Arka tentang kondisinya? Aku dengar bahwa Arka adalah Dokter pribadinya saat ini.” Ucap Via yang terus menatapku dengan iba.


“ Arka sedang di Jakarta, aku bingung bagaimana cara memberitahunya. Aku takut akan terjadi salah paham diantara kami.” Ucapku dengan nada sedih dan bingung harus berbuat apa.


“ Risya, Arka adalah pria yang baik. Aku yakin Dia akan paham dengan semua ini. Percayalah Risya.” Ucap Via yang tersenyum kepadaku. Aku tahu Via adalah sahabat terbaikku. Dia selalu mengerti akan keadaanku setiap saat.


“ Terimakasih Via, kamu selalu ada di pihakku.” Ucapku sambil memeluk tubuh Via.


“ Bagaimana keadaan Mas Setya Nak Risya?” Ucap Bu Risma saat menghampiri kami dengan membawakan 3 gelas minum dan meletakkannya diatas meja yang ada di depan kami.


“ Dia sudah saya beri obat dan sekarang sedang tidur, tadi ingatannya sempat pulih saat melihat Aida.” Ucapku kepada Bu Risma yang duduk di depan kami.


“ Siapa Aida?” Ucap Via yang belum bertemu dengan Aida.


“ Aida adalah anak salah satu orang kepercayaan Mas Setya untuk mengurus lahan kebunnya. Dia sudah dianggap Adik oleh Mas Setya.” Ucap Bu Risma yang membuatku lega. Ternyata Sigit hanya menganggap Aida itu Adiknya.

__ADS_1


“ Oh saya pikir mereka memiliki hubungan khusus.” Ucapku penasaran dengan sosok Aida.


“ Tidak, hanya hubungan Adik dan Kakak saja. Nak Risya saya meminta tolong sekali untuk menjaga Mas Setya. Karena Cuma Nak Risya yang bisa menjaganya.” Ucap Bu Risma penuh harapan.


Aku tidak tahu harus berkata apa, Aku sekilas melirik kearah Via dan Via melirik balik kepadaku.


“ Saya tahu ini membuat Nak Risya bingung terlebih karena Nak Risya merasa tidak enak dengan Dokter Arka.” Ucap Bu Risma menekuk wajahnya merasa kecewa. Wajah Bu Risma terlihat sedih dan bingung.


“ Tidak Bu Risma, bukan aku tidak mau merawatnya tetapi apakah Sigit menginginkannya. Dokter Arka Dia orang yang baik Bu Risma tidak perlu mengkhawatirkannya.” Ucapku sambil memegang tangan Bu Risma.


Aku tahu Bu Risma sangat menyayangi Sigit seperti anaknya sendiri dan Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Sigit diakhir hidupnya. Akhirnya aku menyetujui keinginan Bu Risma untuk tinggal dengan Sigit.


Aku menghubungi Arka dan menjelaskan semuanya, mulai dari ingatan Sigit yang terganggu sampai keinginan Bu Risma. Akhirnya Arka menyetujui permintaan Bu Risma.


Akhirnya malam ini aku menginap dirumah Sigit. Wajahnya masih sangat pucat, koordinasi gerakannya mulai melemah, pendengarannya juga tidak begitu baik. Kadang Dia berhalusinasi kemasa lalu pada saat kami masih SMU.


“ Risya sejak kapan kamu bisa memasak, bukankah minggu kemarin saat mendaki masak mie instan saja kamu tidak bisa.” Ucap Sigit yang menghampiriku didapur saat aku sedang membuatkannya bubur nasi.


“ Aku baru saja belajar dari buku resep ini.” Ucapku kepada Sigit sambil menunjukan sebuah buku, padahal itu bukan buku resep masakan melainkan buku catatanku. Untung saja Sigit tidak menyadarinya.


“ Hayolah Risya kita bukan Bayi yang harus memakan bubur, kita sudah kelas 3 SMU.” Ucap Sigit manja menyandarkan dagunya di bahuku.


“ Tidak apa Sigit, aku lagi ingin makan bubur.” Ucapku mengelus halus rambutnya. Sigit memeluk perutku saat aku memasak seperti anak kecil.


“ Aku tidak ingat mengapa kita bisa berlibur sampai Bandung?” Ucap Sigit menatap mataku dengan wajah heran.

__ADS_1


 


Tuhan jika aku boleh jujur untuk saat ini aku ingin menteskan air mataku. Bagaimana mungkin aku tega menghadapi ini semua, orang yang aku cintai sakitnya semakin parah, dan tubuhnya terlihat semakin kurus dan lemah.


“ Sudah mari kita makan dahulu, nanti buburnya akan dingin.” Ucapku sambil membawa bubur kemeja makan.


Ketika kami sedang asik makan beberapa suap bubur tiba – tiba Sigit merasakan sakit kembali di kepalanya, Dia melempar bubur yang ada diatas meja dan berserakan kelantai.


“ Sigit.” Ucapku saat Dia berlari menaiki tangga.


“ Diam kamu, pergi sana. Kamu tidak perlu mengasihiku.” Ucap Sigit dengan lantang dan membanting pintu kamarnya.


Aku berlari mengejar Sigit namun pintu kamarnya Dia kunci, terdengar dari dalam kamar Dia berteriak histeris sambil membanting beberapa benda. Aku tidak tahu harus melakukan apa, Aku mencoba memanggilnya dan mengetuk pintu kamarnya. Namun Sigit semakin marah dan kondisinya semakin tidak baik. Tubuhku tersungkur di


depan pintu kamarnya. Air mataku akhirnya mengalir lagi dipipiku.


“ Aku bisa merasakan betepa sakit kamu menahan itu semua, aku disini bukan karena mengasihimu. Aku tulus berada disini karena ingin bersamamu. Aku mencintaimu Sigit. Aku mohon buka pintunya.” Ucapku sambil tersedu – sedu, aku mencoba mengetuk lagi pintu itu perlahan. Suara bantingan sudah tidak terdengar, aku semakin


khawatir apakah Sigit tidak sadarkan diri. Ya Tuhan aku mohon lindungi Dia.


“ Pergilah tidur, aku baik – baik saja.” Ucap Sigit tegas kepadaku. Aku tidak sanggup meninggalkannya. Akirnya aku tidur di sofa depan pintu kamarnya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2