SIGIT

SIGIT
Terlambat


__ADS_3

 


 


“ Apa kau sangat ingin bertemu dengannya, mungkin jika kau sudah bertemu coba katakan apa yang ingin kau sampaikan kepadanya selama ini. Tetapi hanya satu pesanku, saat kau bertemu dengannya jangan pernah kau lupakan Arka yang saat ini selalu ada untuk mu.” Ucap Via memegang tanganku dan menatap mataku. Benar apa kata Via itu yang aku takutkan, aku takut akan melukai perasaan Arka. Walau aku sudah yakin untuk memilih Arka tetapi aku takut goyah saat aku melihat Sigit.


Lamunanku teringat saat kejadian 6 tahun lalu. Sisa sekolah kami tinggal 6 bulan lagi, aku dan Sigit pun semakin dekat.


“ Pak buka pintunya.” Teriakku didepan gerbang kepada security untuk membukakan pintu gerbang yang sudah terkunci. Ya pintu gerbang itu terkunci karena aku telat 5 menit tiba di sekolah. Bukan security yang membukakan pintu malah Pak Iwan guru PKN sekaligus guru BP yang terkenal killer.


“ Risya kamu kenapa terlabat?” Ucap Pak Iwan dengan nada tinggi sambil memegang kayu kecil andalannya.


“ Maaf Pak tadi saya bangun kesiangan.” Ucapku dengan nada terbata – bata karena deg degan jika berhadapan dengannya.


“ Masuk dan beridiri kamu dilapangan.” Ucap Pak Iwan dengan matanya yang melotot, wajahnya yang seram membuat semakin membuatku tegang.


Aku segera berlari kelapangan, aku pikir hanya aku saja yang telat hari ini. Ternyata tidak, sudah ada Sigit sang Mr. Late yang sudah berdiri di lapangan.


“ Risya kamu tumben telat.” Ucap Sigit saat aku berlari dan berdiri disampingnya.


“Iya nih, gara – gara semalem aku habis membaca Novel jadi kesiangan. Hmmmm.” Ucapku menundukan kepala dengan nada kecewa.


“ Ya sudah tidak perlu menyesal begitu karena datang terlambat.” Ledek Sigit sambil tersenyum melihat kearahku.

__ADS_1


“ Iya kamu enak bilangnya gampang tetapikan nanti hasil aku datang di laporkan sama Ibu dan Ayahku. Kalau Orang Tua kamu mungkin enggak akan kaget karena kamu memang sering terlambat.” Ucapku dengan nada kesal dan sedikit meledek Sigit.


“ Kalian,, siapa yang menyuruh kalian berumpi. Saya panggil kalian kesini agar kalian lari keliling lapangan. Cepat lari 10  kali keliling lapangan.” Ucap Pak Iwan dengan nada marah dan mengangkat tongkat kebanggaannya. Melihat itu kami pun berlari mengelilingi lapangan. Saat Pak Iwan sedang keembali keruang guru kami berlari santai kerena sudah capek memutari lapangan yang ke 6 kalinya.


“ Apa kamu capek Risya?” Tanya Sigit yang mengimbangi larinya denganku. Akhh rasanya saat Dy berkata begitu aku ingin menjawabnya “ Tidak Sigit, aku malah bahagia jika harus selalu berlari bersamamu untuk mengerjar cinta kita.” Tetepi itu hanya isi hatiku yang tidak mampu aku ungkapkan kepadanya saat itu.


Aku tak menjawab pertanyaan Sigit saat itu tapi aku hanya tersenyum kepadanya semoga Dy menegrti arti senyumku itu.


10 kali sudah kami berlari dan membutuhkan waktu 15 menit. Kami pun di persilahkan kembali ke kelas kami dan mengikuti pelajaran.


Kelas kami kini dilantai 2, aku sudah benar – benar tidak sanggup untuk berjalan dan meniaki anak tangga.


“ Ayo naik.” Ucap Sigit yang tiba – tiba jongkok di depanku dan memintaku untuk naik kepunggungnya. Tidak berpikir panjang akhirnya aku pun naik kepunggungnya. Kami berjalan menaiki anak tangga dan koridor sekolah yang sepi. Keetulan saat itu kelas kami paling ujung koridor, Aku senderkan kepalaku di bahu Sigit dan memegang dirinya erat. Apa aku tak memberatkannya tetapi aku membuang jauh – jauh pikiran itu, aku hanya nyaman sekali saat itu berada di dekatnya.


“ Turunkan aku disini saja, kita hanya akan melewati satu kelas lagi. Tidak enak jika ada guru yang melihat.” Ucapku kepada Sigit memintanya untuk menurunkan tubuhku dari gendongannya.


“ Terimakasih.” Ucapku saat Sigit menurunkan tubuhku.


“ Risya kamu masuk duluan ya ke kelas.” Ucap Sigit yang tiba – tiba menyenderkan tubuhnya ke tembok disampingnya. Wajahnya pun terlihat pucat. Sigit memegang kepalanya dan langsung berlari kembali kebawah.


“ Sigit mau kemana.” Teriakku saat aku melihat Sigit yang tiba – tiba berlari dan menuruni anak tangga kembali.


Aku masuk kelas dan duduk di kursiku, namun pikiranku masih melayang kepada Sigit. Apalagi wajahnya tadi terlihat pucat. Jangan – jangan Dy sakit ? pikiranku benar – benar kacau saat itu. Sampai akhirnya aku memberanikan ijin keluar kelas.

__ADS_1


“ Permisi Bu, saya ijin ke toilet dulu.” Ucapku kepada Bu Ambar Guru yang sedang mengajarku saat itu. Aku terpaksa berbohong untuk bisa mencari Sigit.


Aku berlari menuruni anak tangga, aku segera menuju UKS karena aku yakin bahwa dirinya ada ditempat itu.


Aku membuka intu UKS perlahan terlihat Sigit sedang duduk di ranjang UKS, Aku menghapirinya dan melihat tisu yang Ia pegang penuh dengan bercak darah. Sigit langsung menggenggam tisu itu dan membuangnya kedalam tempat sampah yang ada di samping ranjang UKS.


“ Apa itu Git?” Tanyaku saat melihat tisu yang Sigit buang.


“ Bukan apa – apa hanya tisu kotor.” Ucap Sigit seperti menyembunyikan sesuatu. Sigit merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Aku duduk disamping ranjang yang Ia tiduri.


“ Apa kau baik – baik saja?” Ucapku makin khawatir melihat keadaannya saat itu.


“ Ya, aku hanya mengantuk saja.” Ucap Sigit sambil memejamkan matanya. Mungkin ada banyak hal yang Sigit sembunyikan dariku pikirku dalam batin.


“ Ya sudah, aku akan kembali ke kelas.” Ucapku sambil berdiri untuk kembali ke kelas.


“ Terimakasih telah mengkhawatirkan Aku.” Ucap Sigit yang tba – tiba memegang tanganku saat aku berdiri dan tersenyum manis.


Aku hanya membalas senyumnya dan Sigit melepaskan tangannya. Aku berjalan ke luar ruangan UKS menuju kelasku.


Dan hari itu aku tidak melihat Sigit masuk ke kelas, ada beberapa orang bilang bahwa Sigit ijin pulang karena ada kepeluan keluarga.


Seperti biasa setiap pulang sekolah Aku dan teman – temanku sesama anggota PMR selalu ke UKS terlebih dahulu untuk membersihkan UKS atau sekedar merumpi jika tidak ada kegiatan latihan.

__ADS_1


“ Eh ini tempat sampah banyak tisu yang ada darahnya gini ? memang tadi ada yang jatuh atau terluka ya ? “ Ucap Andin yang akan membuang sampah. Deg tiba – tiba jantungku serasa ingin copot saat mendengar ucapan Andin.


Sedangkan yang aku tahu bahwa Sigit yang hari ini ke UKS dan tidak ada murid yang celaka. Apa itu benar – benar milik Sigit, Ya Tuhan apa yang terjadi dengannya. Pikiranku saat itu tidak karuan dan hanya tertuju pada Sigit.


__ADS_2