SIGIT

SIGIT
First Kiss


__ADS_3

 


 


Bu Risma datang dengan membawakan teh hangat dan Arka langsung memasukan lagi foto Risya kedalam buku itu dan meletakan kembali buku itu ditempatnya semula.


“ Silahkan diminum Pak Dokter.” Ucap Bu Risma sambil menaruh Teh hangat di meja samping ranjang Sigit.


“ Terimakasih Bu Risma.” Ucap Arka sambil meminum teh itu. Arka menatap Sigit yang sedang tertidur dan terlalu banyak beban yang Dy pikirkan saat itu. Sigit akhirnya sadarkan diri dan Arka langsung memeriksa keadaannya kembali.


“ Terimakasih Arka telah membantuku.” Ucap Sigit dengan suara pelan dan serak.


“ Tidak usah sungkan, aku saat ini Doktermu.” Ucap Arka sambil melepaskan stetoskop dari telinganya dan menaruhnya di dalam tas hitam miliknya.


“ Bagaimana kedaannya Dokter.” Ucap Bu Risma yang terlihat sangat khawatir.


“ Tidak apa – apa Bu Dy orang yang kuat. Ini obat yang harus kau minum. Jangan terlalu banyak pikiran.” Ucap Arka memberikan obat kepada Sigit untuk Dy minum. Dan Arka tahu apa yang membuat pikiran Sigit terganggu yaitu Risya.


“ Ya sudah aku harus pamit pulang, aku tidak mau Risya curiga akan hal ini.” Ucap Arka sambil menepuk pundak Sigit.


“ Terimakasih sekali lagi.” Ucap Sigit kepada Arka saat Arka hendak melangkah. Bu Risma mengantarkan Arka hingga depan pintu panti dan Arka memasuki mobilnya kembali menuju posko.


 


 


Di Posko.


“ Arka darimana saja kamu, ada apa Arka.” Ucapku yang langsung saja berlari kearah Arka ketika Arka baru saja tiba.

__ADS_1


“ Owh tidak ada apa – apa hanya ada sedikit masalah. Dan sudah aku atasi.” Ucap Arka mengelus halus rambutku dan meninggalkanku begitu saja. Tidak seperti biasanya seperti ada yang Arka sembunyikan.


Hari sudah mulai sore kamipun menutup posko dan akan melanjutkan hari esok. Kami mulai merapihkan perlatan kami untuk dibawa kembali kerumah Pak Agung. Arka semenjak dari kepergian tadi Dy tidak menghampiriku sama sekali. Kini di mobilpun Dy tak berbiacara sepatah katapun.


Akhirnya kami sampai dirumah Pak Agung dan merapihkan peralatan kami.


“ Risya aku pulang ya, maaf besok juga aku tidak bisa membantu karena ada jadwal operasi.” Ucap Arka kepadaku. Dan tumben sekali Dy tidak duduk terlebih dahulu untuk sekedar berbincang denganku.


“ Ada apa Arka, sepertinya kamu berbeda sekali hari ini.” Ucapku memegang tangan Arka.


“ Tidak Risya, aku hanya lelah saja. Kamu lihatkan tadi banyak sekali pasienku.” Jawab Arka tersenyum kepadaku. Namun seperti ada yang Dy sembunyikan di balik senyumnya itu.


“ Apa kamu tidak ingin beristirahat duduk sebentar sambil meminum kopi.” Ujarku kepada Arka


karena aku tahu ada yang tidak beres saat ini. Arka benar – benar tidak seperti biasanya.


Aku langsung masuk ke kamar dan masih memikirkan ada apa sebenarnya dengan Arka. Atau Arka melihatku saat tadi Sigit memegang tanganku. Atau ada hal lain yang mengganggu pikiran Arka.


Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 wib. Arka masih belum menghubungiku sudah 4 jam dari kepulangannya aku sangat khawatir. Aku mencoba mengirim pesan kepada Arka namun tidak ada balasan bahkan Whatsappnya pun hanya ceklist satu. Aku mencoba menghubunginya tetapi nomornya tidak aktif.


Aku tidak bisa tidur saat ini dan masih menunggu kabar dari Arka. Sudah hampir pukul 24.00 wib, Handphone Arka masih belum aktif juga. Mungkin Arka sangat lelah dan Handphonenya habis batrai. Aku mencoba berpikir positif saat ini dan mencoba memejamkan mataku berharap esok pagi Arka akan menghubungiku.


Hari sudah pagi kembali dan kami harus menjalankan tugas kami. Hari ini aku tidak berjaga di posko dan Arka pun sudah membalas pesanku bahwa hari ini Dy tidak bisa datang membantuku di posko.


Aku bersiap – siap untuk melihat sanitary dan MCK di desa ini, karena banyak sekali warga yang tidak memiliki MCK. Aku sudah mendapat Dana bantuan dari Ayahku untuk pembuatan MCK di Desa dan di bantu Dana dari Orang Tua Kiki dan juga Sigit.


Saat aku dan Pak Agung sedang melihat – lihat lokasi pembuatan Sigit datang menghampir kami.


“ Bagaimana Pak Agung persiapannya?” Ucap Sigit bertanya kepada Pak Agung tentang persiapan tempat dan pekerja untuk membuat MCK itu.

__ADS_1


“ Alhamdulillah Pak Sigit sudah hampir 70% persiapan kami, hanya tinggal menunggu bahan bangunan datang siang ini.” Ucap Pak Agung kepada Sigit dengan nada gembira.


“ Syukurlah kalau begitu, lalu bagaimana Risya apa ada kendala denganmu?” Ucap Sigit menatapku.


“ Tidak ada, semua berjalan lancar.” Ucapku sambil berjalan kecil untuk mendokumentasikan lokasi dan akan dikirimkan kepada Ayah dan Orang Tua Kiki.


“ Ya sudah kalau begitu saya tinggal ya Pak Sigit dan Nak Risya.” Ucap Pak Agung untuk kembali ke Balai Desa karena masih banyak tugas yang sudah menunggunya.


“ Baik Pak Agung terimakasih.” Ucap Sigit yang kemudian Pak Agung bersalaman kepada Sigit dan diriku. Lalu beliau meninggalkan kami berdua.


“ Sepertinya kau ada masalah Risya.” Ucap Sigit yang berjalan disampingku saat ini.


“ Tidak ada kok, aku baik – baik saja.” Ucapku keapada Sigit dengan senyum kecil. Kami terus melangkahkan kaki menyusuri tepi sawah. Entah kemana tujuan kakiku saat ini. Aku hanya mengikuti langkah kakiku saja dan Sigit masih berjalan mengikutiku.


“ Apa Arka hari ini tdak kemari Risya?” Tanya Sigit yang kemudian duduk di saung kecil ditengah sawah.


“ Tidak Dy sedang ada pasien yang hendak dioperasi hari ini.” Ucapku yang kemudian ikut duduk disampingnya. Kami menatap hamparan sawah yang luas dengan padi yang sudah mulai menguning dan siap untuk di panen. Terlihat juga beberapa petani yang sudah memanen sawah mereka.


“ Sudah lama sekali ya kita tidak melihat pemandangan yang indah seperti ini, ingat dulu kita sering naik gunung bersama. Mungkin boleh suatu hari kita melakukannya lagi.” Ucap Sigit dengan tatapan yang masih menikmati hamparan sawah yang luas ini.


“ Iya benar, dulu kita sering mendaki bersama ya. Aku ingat terakhir kita tersesat di gunung Papandayan karena terpisah dengan rombongan dan akhirnya kita membuat kemah sendiiri.” Ucapku mengingat kejadian 6 tahun silam. Saat itu kami masih aktif menjadi pendaki dan kami sering melakukan kegiatan sosial juga.


“ Iya dan kamu takut tidur sendiri akhirnya kamu tidur ditendaku.” Ucap Sigit yang kemudian menatap wajahku. Aku tahu saat ini Dy mengingat kejadian itu karena saat itu pertama kali dan terakhirkalinya Dy mencium bibirku. Ya entah setan apa yang ada saat itu pada diri kami sehingga Sigit berani mencium bibirku.


Aku hanya tersenyum malu saat mengingat kejadian itu. Sigit terus menatap mataku dan mengelus halus rambutku.


 


 

__ADS_1


__ADS_2