
“ Kang Setya.” Teriak seorang wanita yang berjalan menghampiri kami. Wanita yang menggunakan kaos merah lengan panjang dan Rok plisket berwarna hitam dengan rambut panjang yang diikat kuncir kuda. Gadis yang cukup cantik. Jika dilihat dari wajahnya usianya mungkin tidak jauh beda denganku.
“ Kang Setya, tadi saya cari – cari kepanti ternyata ada disini.” Ucap gadis itu yang saat ini berdiri didepan kami.
“ Ada apa Aida.” Ucap Arka kepada gadis yang bernama Aida itu.
“ Saya mau antar madu pesanan akang, habis akang tidak ambil kerumah. Kapan akang main Ambu sudah sering menanyakan Akang.” Ucap Aida dengan mata yang terus melirik kearahku. Sepertinya jika dari nada Dy berbicara Aida dan Sigit cukup dekat, dan sangat dekat karena Orang Tua Aida sering menanyakan dirinya.
“ Mungkin malam saya akan main kerumahmu.” Ucap Sigit yang kini tatapan wajahnya berpaling dariku dan menatap gadis itu.
“ Sekarang aja Akang, Akang gak tau apa Aida sama Ambu sangat kangen Akang.” Ucap Aida yang kemudian memeluk Sigit dan menangis.
Saat itu kenapa rasanya hatiku hancur sekali, aku masih belum rela jika Sigit bersama orang lain padahal aku sendiri sudah memiliki Arka.
__ADS_1
Ya tuhan kenapa hatiku seperti ini. Aku tidak tahan lagi melihat pemandangan ini.
Air mataku sudah terbendung di kedua bola mataku. Saat Aku hendak berdiri untuk meninggalkan mereka berdua
Sigit menahanku dengan memegang tanganku.
“ Sigit tidak kah kau tahu aku sakit melihat mu saat ini, apa kau sengaja melakukan ini terhadapku untuk menghancurkan semua khayalanku.” Ucapku dalam hati. Ingin rasanya aku menangis saat ini juga.
“ Ya sudah nanti aku akan kerumah mu tetapi aku harus mengantar Risya terlebih dahulu karena masih ada urusan yang harus kita bicarakan.” Ucap Sigit saat melepaskan pelukan Aida.
“ Saya Risya, iya saya mahasiswa yang sedang KKN. Oh iya Git tidak usah nantti kita bisa membahasnya lain waktu. Ya sudah saya harus pergi dulu menemui rekan – rekan saya di Posko kesehatan.” Ucapku kepada mereka dan membalas uluran tangan Aida.
Lalu aku meninggalkan mereka dan berjalan menyusuri sawah, entah saat ini pikiranku sangat kacau terlebih air mataku tidak bisa tertahan lagi. Aku berjalan dengan derai air mata yang mengalir dipipiku. Aku hilang arah saat ini bahkan aku hilang akal. Sungguh sakit yang luar biasa hati ini.
Aku tidak sanggup melanjutkan langkah kakiku. Aku duduk di sebuah batu yang ada di tepi sawah.
Air mataku terus mengalir tiada henti. Aku tidak tahu harus bagaimana mengobati luka hati ini.
__ADS_1
( Nada Dering Dygta “ Kesepian ”) tiba – tiba Handphoneku berbunyi ada panggilan dari Via.
“ Hallo Risya, kamu dimana?” Ucap Via dibalik telephone. Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan Via, aku malah menangis lebih dalam. Via yang mendengar merasa khawatir.
“ Risya kamu kenapa? Risya ayo dong jawab kamu dimana biar aku jemut.” Ucap Via dengan nada makin khawatir. Namun aku tidak sanggup bicara lagi dan kumatikan Handphoneku.
Langit mulai gelap dan rintikan hujan mulai turun, kini saat aku akan kembali aku lupa arah jalan pulang. Aku berjalan terlalu jauh dan tersesat. Aku menacari tempat untuk berteduh. Tidak ada satu teempatpun untuk aku berteduh. Aku terus berjalan mencari jalan pulang, naas kakiku malah terpeleset dan terkilir karena tanah sawah yang mulai licin.
Aku mencoba berdiri dan kakiku terasa sangat sakit bajuku kini sudah basah oleh hujan yang terus turun mengguyur tubuhku.
Sebuah payung menutupiku, aku pikir itu Via yang menemukanku atau Sigit yang kembali mencariku.
Tidak ternyata itu Arka. Dy langsung meletakan payungnya dan mengendongku. Aku memeluk Arka dan menangis dipelukannya. Aku bodoh selalu menyakitinya padahal Dy selalu peduli terhadapku. Arka terus menggendongku dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir dipinggir jalan. Bagaimana bisa Arka tahu aku sedang tersesat apa mungkin Via yang memberitahunya. Pikirku dalam batin. Bagaimanapun yang terpenting aku bisa pulang.
__ADS_1