SIGIT

SIGIT
Origami


__ADS_3

“ Tidak Ka, Saya seorang Kristiani “ Ucap gadis cantik itu sambil tersenyum hangat. Mereka benar – benar luar biasa bisa saling menghormati dan menyayangi meski mereka berbeda agama.


Aku memeluk anak itu dan meneteskan air mata, Anak cantik itu seorang tunanetra, dy berjalan dengan sebuah tongkat yang bisa membantunya.


“ Apakah Kakak yang menolong teman kami Ega?” Tanya anak itu sambil meenyentuh halus wajahku.


“ Iya, saya yang membantu Ega kemarin “ Ucapku sambil menuntun anak itu untuk duduk bersamaku di sebuah sofa berwarna coklat tua yang ada di ruang tamu. Kami duduk di sofa itu dan mulai berbincang.


“ Bagaimana keadaan Ega saat ini ka ?, oh iya nama saya Devi.” Tanya anak yang bernama Devi itu sambil menguurkan tangannya untuk mengajakku berkenalan.


“ Saya Risya, dy akan baik – baik saja. Siang ini saya akan menjenguknya ke rumah sakit. “ Ucapku kepada Devi agar Ia tidak perlu khawatir dengan keadaan temannya itu. Aku teringat sesuatu kulihat smartphone Samsung S10+ milikku, kini waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi dan artinya jika tidak terlambat Arka akan menjemputku untuk menjenguk Ega di Rumah Sakit kota.


“ Syukurlah kalau Ega baik – baik saja, saya harap Dy bisa segera pulang dan bermain lagi dengan kami.” Ucap Devi sambil mengangkat kedua tangannya dan mengusapkannya ke wajah sebagai tanda syukur darinya kepada tuhan. Devi pun tersenyum gembira. Sungguh bahagia saat aku melihat senyum dari wajah cantiknya.

__ADS_1


“ Maaf Devi saya teringat sesuatu bahwa temanku akan menjemput pukul 10 ini untuk menjenguk Ega di Kota. Tidak apakan kamu saya tinggal “ Ucapku dengan berat hati harus kembali ke rumah Pak Kades, aku takut Arka sudah tiba di sana.


“ Tidak apa – apa Kak, titip salam Ku untuk Ega. Oh iya ini untuk Kakak,” Ucap Devi sambil meronggoh kantong bajunya dan mengeluarkan sebuah origami berbentuk burung dari kertas berwarna merah. Aku ambil origami itu dan Aku peluk erat tubuh anak itu sebagai salam perpisahan.


Aku berjalan meninggalkan Rumah Panti itu. Aku pandangi origami yang diberikan Devi bayangku teringat kejadian 6th silam.


Saat itu aku duduk di bangku kelas 3 SMU. Aku dan Sigit kini menjadi teman satu kelas. Kami sudah mulai akur dan jarang bertengkar, mungkin kami berpikir lebih dewasa karena usia kami yang sudah hampir meninggalkan masa remaja.


diatasku.


“ Hey apa yang sedang kau lakukan?” Ucapku kepada Sigit yang tiba – tiba tidur diatas pahaku dengan kaki yang ditumpangkan dikaki lainnya. Matanya terpejam seperti orang tidak bersalah. Dan tangannya yang memeluk tas miliknya.


“ Sstttt jangan berisik, aku pinjam kaki mu sejenak. Aku lelah sekali.” Ucap Sigit yang masih memejamkan matanya. Jantungku berdetak sangat kencang, ya aku bahagia, aku gembira saat dy bersikap manja padaku. Aku pandangi wajahnya yang saat itu tertidur, daun – daun berjatuhan tepat diatas kami membuat suasana kami semakin romantis. Aku tak melanjutkan membaca buku.

__ADS_1


30 menit yang aku gunakan saat dy tertidur untuk membuat sebuah origami dari kertas berwarna yang selalu aku bawa didalam tas milikku. Origami burung berwarna merah yang aku buat kini aku masukan ke dalam tas milik Sigit secara perlahan agar tak membangunkannya. Jika dy membongkar dan menyadarinya di balik origami itu aku menulis sebuah puisi untuknya.


“ Hooaamm “ Sigit terbangun dan merenggangkan kedua tangannya sambil menguap.


“ Terimakasih Risya untuk bantalnya.” Ucap Sigit sambil mentapku dan menompangkan dagunya di kedua tangannya dan tersenyum manis. Ya tuhan rasanya jantung ini mau copot begitu saja.


“ Apa kata mu, kaki aku kau anggap bantal.” Ucapku sambil berdiri dan menggunakan tas milikku.


“ Begitu saja kamu marah, ayo pulang mau aku antar.” Ucap Sigit yang langsung berdiri juga dan mengenakan tas miliknya.


“ Tidak, aku sudah dijemput.” Ucapku berjalan di depan Sigit begitu saja. Sigit berjalan cepat dan menarik tanganku.


“ Siapa, Arka? Bukankah Dy sedang study di London?” Tiba – tiba Sigit bertanya seperti orang yang cemburu.

__ADS_1


__ADS_2