SIGIT

SIGIT
Cemas


__ADS_3

 


 


“ Risya kenapa bengong.” Ucap Mila yang tiba – tiba memegang bahuku saat itu.


“ Oh enggak kenapa – kenapa Mil.” Ucapku menutupi semua dari teman – temanku. Aku langsung mengambil Handphone Nokia 7610 miliku di dalam tas. Pada masa itu Handphone milikku itu terbilang paling bagus dan mahal. Aku langsung menghubungi Sigit namun Dy tidak mengangkatnya. Aku mencoba berulang kali namun tidak ada jawaban juga darinya.


Saat itu aku benar – benar khawatir dengan keadaanya, Apa yang harus aku lakukan, harus aku cari kemana Dy sedangkan aku belum pernah main kerumahnya. Aku mencoba bertanya kepada teman basketnya tetapi tidak ada yang tahu juga tentang Dy hari itu.


“ Risya ada apa, kenapa kamu begitu khawatir.” Ucap Elsa yang menghampiriku saat duduk diteras mushola. Elsa, Andin dan Via menghampiriku saat itu.


“ Sigit, aku khawatir terhadapnya. Yang aku tahu bahwa tadi yang di UKS hanya Sigit.” Ucapku bingung harus bagaimana menjelaskannya kepada mereka.


“ Apa Sigit terjatuh atau bagaimana.” Tanya Andin bingung. Mereka makin bingung saat melihatku meteskan airmata saat itu.


Merekapun memelukku saat itu karena aku yang terus menangis.


 


 

__ADS_1


Masa Kini...


“ Iya aku ingat saat itu, namun hinga saat ini kita belum mengetahui apa yang terjadi dan Sigit pun lebih memilih diam saat kau tanyakan soal kejadian waktu itu kan.” Ucap Via saat ini yang masih mendengarkan ceritaku. Via benar – benar sahabat baikku dari SMU hingga saat ini.


 “ Mari kita tidur, sepertiny malam sudah semakin larut. Besok kita juga harus mempersiapkan untuk acara hari minggu.” Ucapku sambil mengusap airmata yang ikut menetes saat aku mengingat kejadian saat itu. Kami pun beraring diatas dipan yang beralaskan kasur yang terbuat dari kapuk. Kami menarik selimut mencoba untuk memejamkan mata. Tetapi aku masih saja asih terbayang dan mengingat sosok Sigit.


 


 


 


“ Ya ampun sudah siang, Via bangun sudah siang.” Ucapku kaget saat melihat jam yang sudah hampir siang, aku bergegas membangunkan Via dan pergi mandi.


Hari ini kami membagi tugas, Kiki, Amel dan Runa ikut bersama Pak Kades untuk mempersiapkan tempat dan peralatan. Sedangkan Aku dan Via mendata warga yang akan hadir.


Aku dan Via mampir ke Panti terlebih dahulu setelah mendata beberapa warga di Desa kebetulan tadi pagi Bu Risma mengirim chat via Whatsapp bahwa si pemilik panti ingin bertemu untuk mengucapkan terimakasih dan memberi Donasi untuk tugas KKN kami.


Tok.. tokk.. “  Assalamaualaikum.” Ucapku sambil mengetuk pintu panti yang terbuka.


“ Wa’alaikum salam.” Terdengar suara Ibu Risma yang berjalan menuju kami. Terlihat Bu Risma dengan baju gamis berwarna Coklat muda dan Hijab berwarna yang sama menghampiri kami dan tersenyum.

__ADS_1


“ Eh Nak Risya dan Nak Via, Ayo masuk nak.” Ucap Bu Risma meminta kami masuk


“ Terimakasih Bu Risma.” Ucapku kemudian melepaskan alas kaki kami dan melangkahkan kaki masuk kedalam panti.


“ Silahkan duduk, nak Via bisa membantu saya. Saya sedang membuat kue katanya nak Via bisa memasak.” Ucap Bu Risma meminta tolong kepada Via untuk ke dapur bersamanya.


“ Dengan senang hati Bu.” Ucap Via dengan penuh bahagia.


“ Nak Risya tidak apa – apakan menemui  Mas Setya sendiri disini. Saya panggil beliau dulu ya.” Ucap Bu Risma yang memintaku untuk menemui si pemilik panti. Bu Risma dan Via pun melangkahkan kaki ke dapur.


Aku menunggu si pemilik panti yang sedang di panggil Bu Risma. Aku sangat penasaran siapa pemilik panti yang dermawan ini, dengar – dengar Beliau juga seorang pengusaha besar di bidang petanian, sawah, kebun di Desa inipun milik Beliau.


“ Siang Mbak, maaf menunggu lama.” Terdengar suara seseorang menyapaku, tetapi mengapa suara itu terasa tidak asing di telingaku.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2