
Mengingat kejadian hari itu aku dan Sigit pun tertawa bersama, entah lah sebenar nya apa yang terjadi di hari itu tak pernah kami bahas hingga saat ini.
Setelah kejadian itu pun kami jarang bertemu padahal kelas kami bersebelahan. Hingga kami teringat dimana saat kami mulai berbicara lagi.
Waktu itu aku sedikit samar dengan wajah Sigit wajar saja sudah 3 bulan sejak kejadian itu kami tak pernah bertemu lagi.
“ Tapi seharusnya kamu gak pecahin bola nya gitu saja, aku kan sudah meminta nya baik – baik “ ucap sigit dihadapan ku setelah dy melompati jendela. Kebetulan saat itu guru computer berhalangan hadir juga jadi di kelas Sigit tidak ada guru nya.
Posisi kami kini berdekatan, semua murid dari kelas Sigit dan aku memperhatikan kami.
“ Bu Ambar datang “ teriak Galuh sang ketua kelas, Ya galuh yang waktu itu sempat satu kelompok bersama ku kini menjadi ketua kelas.
“ eh masalah kita belom selesai ya “ ucap ku menunjuk Sigit saat itu dan kemudian meloncati jendela untuk masuk ke kelas.
Kami kembali tertawa bersama saat mengingat kejadian – kejadian dulu, rasa nya kami itu bagai Tikus dan Kucing saja jarang akur.
“ Risya, sepertinya sudah sore lebih baik kita pulang. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu kembali dan semoga kamu bisa menjadi orang yang sukses bisa masuk universitas yang kamu inginkan “ ucap sigit sambil mengelus rambut ku halus.
Ini pertama kali nya dy mengelus rambut ku, rasa nya aku tak ingin pisah dari nya jika saja takdir mempersatukan kami untuk melanjutkan ke universitas yang sama. Berat rasa nya mendengar ucapan Sigit itu, berat rasa nya untuk aku mengucapkan kata selamat tinggal kepada nya.
__ADS_1
“ semoga kita bisa menjadi orang sukses, selamat tinggal “ ucap ku berat hati tak terasa air mata ku mengalir saat aku beranjak berjalan menjauh dari Sigit. ( note : bacanya sambil di iringi lagu Ungu cinta dalam hati ya hehe )
“ Risya “ teriak Sigit, aku menoleh kearah nya terlihat dy tersenyum sambil melambaikan tangan. Ku balas lambaian tangannya.
Sungguh berat rasa nya langkah kaki ku ini saat menjauh darinya. Rasanya baru kemarin aku mengenal nya, rasa nya baru kemarin aku melihat wajah nya untuk pertamakali, rasa baru kemarin aku jatuh hati padanya namun aku tak mampu mengungkapkannya.
Hampir 6 tahun sudah aku tidak melihat nya, mendengar suara nya. Entahlah dy dimana berada aku tak bisa menemukannya. Berbagai cara telah aku lakukan untuk mencari informasi tentang nya tapi dy menghilang bagai di telan bumi.
Hujan hari ini membuat ku mengingatnya kembali.
Via kami masih menjadi teman satu kampus, dan dy Masih tetap menjadi sahabat terbaik ku. Hujan ini menahan kami di sebuah stasiun di kota Bandung.
Hari ini kami baru saja tiba di Bandung untuk melakukan KKN di sebuah desa kecil.
“ tidak apa – apa Via hanya saja hujan mengingatkan ku pada Sigit “ ucap Ku kepada Via sahabat ku, aku ingat saat itu kami akan pulang sekolah namun tiba – tiba hujan turun begitu deras.
“ Risya aku sudah di jemput, aku pulang duluan ya “ ujar Andin saat itu meninggalkan ku di teras depan UKS sendiri.
__ADS_1
“ hati – hati Andin “ teriak ku kepada Andin sambil melambaikan tangannya.
Seperti biasa pulang sekolah aku harus menunggu Bayu untuk bisa pulang bareng. Kebetulan hari ini anggota Osis sedang ada rapat dengan pembimbing mereka karena untuk mempersiapkan pemilihan ketua osis yang baru.
“ Sigit oper kesini bola nya “ teriak Febri dari arah lapangan sambil mengangkat tangan memberi tanda pada Sigit untuk melemparkan bola kearah nya.
Aku berjalan perlahan melihat mereka yang asik bermain basket sambil hujan – hujanan. Kelihatannya seru sekali mereka bermain.
“ hey Risya kemarikan bola nya, jangan kamu pecahkan lagi “ ujar Sigit meminta bola yang baru saja menggelinding tepat di bawah kaki ku.
“ kamu mau bola nya, kenapa tidak kamu ambil sendiri saja “ jawab ku kesal karena ucapan sigit. Ku injak bola itu dengan kaki ku.
“ kemarikan bola nya “ ucap Sigit berjalan di hadapan ku. Dengan tubuh nya yang basah dy menghampiri ku.
“ kamu mau bola ini “ ucap ku sambil memegang bola basket yang dy pinta.
JJJJGGERRRRRR hujan lebat tiba – tiba mengundang petir saat itu.
“ astagfirullah “ ucap ku lalu melemparkan bola itu dan menutup mata, entah sengaja atau tidak saat itu Sigit langsung memeluk ku dan menutup telinga ku.
Aku benar – benar takut saat itu petir berulang kali datang, aku memgang erat tubuh Sigit. Ya aku seorang Fobia dengan petir jadi saat mendengar petir aku langsung takut dan panik.
Sigit membawaku ke dalam UKS untuk mellindungi ku, tubuh basah nya kini melepaskan ku.
__ADS_1