
“ Kang Setya dari mana saja, saya dari tadi menunggu disini.” Ucap Aida yang sedang duduk di teras rumah Sigit. Sigit menghiraukan Aida dan masuk kedalam rumah.
Wajah Sigit terlihat sangat pucat, dijalan tadi Dy merasakan sakit di kepalanya.
Akhirnya kami memutuskan untuk kembali kerumah. Aku mengantar Sigit menuju kamarnya.
Aida mengikuti kami masuk kedalam rumah.
“Kamu ini siapa berani – beraninya bawa Kang Setya.” Ucap Aida yang menarik tanganku setelah aku keluar dari kamar Sigit.
“ Saya teman sekolah Sigit dan saya dokter yang merawatnya sekarang.” Ucapku kepada Aida sambil melepaskan cengkraman tangan Aida.
“ Terus itu kenapa Kang Setya diam saja, kamu bilang apa sama Dy.” Ucap Aida dengan nada kesal menatap mataku sinis. Aku tidak tahu ada hubungan apa antara Dy dan Sigit tetapi dari tatapan matanya Dy sangat tidak menyukai kedekatanku dengan Sigit.
“ Saya tidak tahu seberapa dekat anda dengan Sigit, namun yang harus anda tahu saat ini kondisi Sigit sedang tidak baik. Biarkan Dy istirahat terlebih dahulu.” Ucapku sambil memegang bahu Aida dan pergi menuruni anak tangga menuju dapur untuk mengambil air dan obat.
Aku kembali lagi kekamar Sigit terlihat Aida yang masih berdiri di depan kamar Sigit.
“ Biar saya saja yang memberikan obatnya.” Ucap Aida yang mengambil paksa gelas dan obat yang aku bawa.
Aku hanya terdiam dan mengikuti Aida masuk kedalam kamar Sigit. Terlihat Sigit yang sedang berbaring diatas tempat tidurnya.
__ADS_1
“ Kang bangun, minum obat dulu.” Ucap Aida sambil duduk disamping Sigit. Sedangkan aku masih berdiri di belakang Aida. Ingin aku meninggalkan mereka berdua namun aku takut jika ingatan Sigit masih belum membaik dan membuat Aida bingung.
Sigit membuka matanya secara perlahan dan mengkerutkan dahinya. Dy menyandarkan tubuhnya ditempat tidur.
“ Aida kenapa kamu ada dikamar saya.” Ucap Sigit kaget melihat Aida yang duduk disampingnya.
Sepertinya ingatan Sigit sudah kembali lagi.
“ Kenapa Akang saya tidak boleh masuk kekamar akang selama ini, sedangkan Risya boleh Kang.” Ucap Aida dengan logat Sundanya dan nada kesal.
Jadi Selama ini Sigit tidak membiarkan orang lain masuk ke kamar utamanya dan baru aku yang diijinkannya masuk. Ternyata banyak hal yang aku tidak tahu tentang Sigit selama ini.
“ Karena Dy Dokter pribadi saya, jadi Dy yang menjaga dan merawat diri saya. Kalau Dy tidak saya ijinkan masuk bagaimana bisa Dy tahu apa yang terjadi dengan saya. Sudahlah Aida saya butuh istirahat kamu pulang saja dulu.” Ucap Sigit dengan nada kesal karena menahan sakitnya. Aida meninggalkan kami berdua dan mentapku tajam.
“ Minum obatmu aku akan kembali kepanti.” Ucapku kepada Sigit. Sigit menahan tanganku.
Aku tidak mampu menatap matanya, aku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya namun Sigit memegangku samakin erat. Akhirnya aku duduk disampingnya dan tidak dapat menahan lagi air mataku. Aku mencoba menghapusnya dan berusaha tegar dihadapan Sigit.
“ Sejak kapan Risya kamu mengetahui tentangku, apa Arka yang memberitahumu ?” Ucap Sigit sambil menyentuh pipiku halus, air matanya mengalir dipipinya.
“ Tidak, bukan Arka yang memberitahuku. Aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian saat di rumah Pak Agung.” Ucapku sambil menundukan kepalaku. Isak tangisku tidak dapat terhenti membuat suaraku tersedu – sedu.
Sigit memegang wajahku dengan kedua tangannya dan memaksaku untuk menatap wajahnya.
“ Kenapa kamu tidak mengatakannya dulu kepadaku Sigit, mengapa kamu menyembunyikan semuanya?” Ucapku sudah tidak bisa menahan lagi rasa kesal dalam hatiku. " Harusnya kamu mengatakan semuanya dulu mungkin saat ini tidak seperti ini kejadiannya. Aku tidak akan meninggalkanmu meski Kamu mempunyai penyakit yang menular sekalipun."
__ADS_1
“ Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir, Aku tidak ingin Kamu dekat denganku karena mengasihiku.” Ucap Sigit dengan mata merah dan air mata yang mengalir dipipinya. Aku mencoba menghapus air matanya dan mengusap lembut pipinya.
“ Aku tidak pernah mengasihimu, perasaanku padamu tulus adanya. Apapun yang terjadi terhadapmu Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Ucapku lembut kepada Sigit.
Sigit menggenggam tanganku dan menciumnya.
“ Sekarang aku bahagia sudah mnegetahui semuanya dan jikapun aku akan pergi aku bisa pergi dengan tenang, Aku sudah tenang ada Arka yang bisa menjagamu.” Ucap Sigit tersenyum kepadaku. Aku tidak ingin mendengar kata – kata itu dari mulutnya. Apa Dy sudah menyerah dengan kedaannya. Tidak Dy tidak boleh menyerah. Dy pasti bisa sembuh.
“ Sttt… jangan katakana itu, Aku yakin kamu akan baik – baik saja. “ Ucapku menyentuh bibir Sigit dengan jemariku.
Kita tidak akan pernah tahu esok akan seperti apa.
Anggap saja hari esok itu misteri yang menungu kita didepan sana.
Mungkin saja esok akan menjadi hari yang kita nanti untuk satu kebahagiaan.
Atau mungkin saja esok hari yang kita tidak ingin temui karena kesedihan berada di dalamnya.
Namun apapun yang terjadi di hari esok, lusa dan seterusnya kita harus tetap menjalaninya.
Apapun yang terjadi itu sudah digaris takdirkan untuk kita. Kita tidak akan bisa melawannya.
Percaya satu hal,
aku sering berkata bahwa Tuhan tdak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya.
__ADS_1
Dan percayalah rencana Tuhan jauh lebih baik dari yang Kita duga dan bayangkan.