
Mica meraih tas ranselnya yang selalu ia bawa saat bekerja. Dengan satu tarikan nafas panjang Mica ingin melangkahkan kaki untuk segera pulang.
"Tunggu. Apa kamu lupa dengan janjimu?" Tahan Zen yang sedari tadi ternyata sudah menunggunya. Kali ini Mica menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Aku kira tidak jadi. Makanya aku ingin pulang." Saut Mica saat membalikkan badan menghadap Zen yang kini ada di dekatnya.
Mica sedikit mendongak untuk menatap wajah Zen yang lebih tinggi darinya. Senyum paksa pun mengukir wajah Mica.
Zen meraih lengan Mica dan menariknya membawanya keluar menuju mobil yang sudah terparkir di halaman.
"Mau kemana kita, katakan dulu sebelum pergi?" tanya Mica namu Zen tidak menjawab .
Zen mengajak Mica makan malam di salah satu restoran favorit Mica, yang sering di kunjungi bersama Bayu sang kakak.
"Bayu bilang, kamu sering datang ke restoran ini." ucap Bayu.
"Kau mencari tau tentang ku dari kak Bayu? Aku harap jangan lakukan itu lagi. Aku tidak ingin privasi ku orang lain tau." Tutur Mica, namun ia masuk memberi toleransi pada Zen yang sebatas mencari tau tempat favoritnya.
Zen pun membawa masuk Mica Ke dalam memilih tempat duduk yang biasa Mica tempati dan kebetulan sedang kosong.
"Pilihlah menu yang kamu inginkan."
"Tidak takut aku pilih banyak menu?" ucap Mica lirih.
Zen hanya tersenyum, "Jangan kuatir aku masih sanggup buat membayarnya."
"Baiklah, aku memesannya sekarang." Mica pun memesan menu favoritnya dan Zen pun memilih menu yang sama dengan yang di pesan mica.
Saat sedang makan bersama tiba-tiba ponsel Zen mendapatkan pesan WhatsApp yang berisi foto-foto. Dan saat itu juga membuat Zen tersedak karena terkejut saat melihat foto tersebut secara tidak senang.
"Hati-hati makannya." Mica memberikan air minum miliknya untuk Zen untuk diminumnya.
__ADS_1
Zen segera meneguk air yang diberikan Mica dan kembali melirik foto tersebut setelah itu ia langsung menatap Mica dengan tegang, ekspresinya benar-benar menakutkan.
"Ada apa tuan Zen?" tanya Mica yang bingung dengan ekspresi Zen yang tiba-tiba saja berubah setelah membuka ponselnya.
"Ti-tidak, aku tidak papa. Lanjutkan saja makanya. Aku hanya kepedasan saja." jawab zen.
"Ohhh." Mica pun dengan mudah percaya dan melanjutkan makannya. sedangkan Zen sudah berhenti. Ia terus menatap wajah Mica dengan perasaan yang masih tak percaya. Jika orang suruhannya memberitahu satu hal yang tak pernah di pikirkan sebelumnya.
'Apa anak itu, anakku? Apakah perbuatan ku itu telah menghadirkan satu nyawa? Astaga, kenapa aku tidak pernah terpikirkan ini semua. Dia pasti sangat menderita selama ini.' gumam Zen merasa bersalah.
"Mica." Panggil Zen dan netra nya terus menatap wajah imut Mica yang masih berusia belasan tahun.
"Eeemmm."Saut Mica sambil terus makan.
"Apa kamu baik-baik saja selama ini?" tanya Zen dan seketika membuat Mica menghentikan aktivitasnya makannya, lalu menatap Zen penuh tanda tanya dari pertanyaannya.
"Aku baik dan berusaha baik-baik saja. Memangnya kenapa tuan tanya begitu?" jawab Mica.
"Ternyata daya ingat tuan masih kuat juga. Iya aku sudah selesai."
Zen pun segera membayar tagihan bill, sebelum meninggalkan restoran dan mengantarkan Mica pulang.
Sepanjang perjalanan, Zen gugup untuk membuka pembicaraan. Pikirkan Zen masih saja pada informasi yang dia peroleh dari orang kepercayaan untuk mendapatkan informasi tentang Mica dan membuatnya terkejut lagi Mica melahirkan anak tersebut tanpa ada pikiran untuk melenyapkannya.
"Mica, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Zen ragu-ragu.
"Memangnya mau tanya apa?"
"Eemmm, Aku... .Tidak jadi, lain kali saja aku bertanya." Zen pun mengurungkan niatnya untuk bertanya, membuat Mica mengerutkan keningnya namun ia tak ambil pusing dengan pertanyaan yang gantung dari Zen.
Tak lama mereka pun sampai ke mansion Alexander dan Mica berhenti di depan gerbang luar.
__ADS_1
"Terimakasih tuan atas makan malamnya dan juga sudah mengantarkan ku sampai rumah. Jangan jera ya tuan ngajak makan-makan lagi." tutur Mica sambil tersenyum lebar.
"Sama-sama. Lain kali kita bisa makan malam bersama lagi, jika kamu ada waktu. Aku pulang sekarang, selalu jaga kesehatan ya." saut Zen sambil mengacak rambut Mica pelan. Zen pun segera pamit meninggalkan Mica yang masih berdiri memperhatikan mobil Zen menjauh.
Setelah dirasa Zen sudah jauh. Mica pun segera kembali ke paviliun dan bertemu kembali dengan Ray yang sudah seharian ia tinggalkan.
"Aku pulang." ucap Mica dan segera masuk untuk membersihkan diri sebelum menyentuh Ray yang masih sensitif.
"Kok tumben pulangnya malam nak?" tanya Sekar sambil menggendong Ray yang masih belum tidur.
"Iya Bu, tadi tuan Zen ngajakin makan malam sebentar." jawab Mica lalu mengambil Ray, untuk memberinya ASI.
"Gimana Bu, hari ini Ray cerewet gak?"
"Gak kok. Cerewetnya anak bayi itu biasa, masih banyak waktu tidurnya," jelas Sekar.
"Bu, Mulai besok Ray aku bawa kerja. Tuan Gion mengizinkan untuk membawa Ray." jelas Mica.
"Apa kamu sudah cerita sama tuan Gion kalau kamu itu tunangannya? makanya dia mau kenal dengan Ray?"
"Belum Bu. Tuan Gion belum tau tentang ini. Tapi dia sangat membenciku sebagai tunangannya dan memintaku menikah dengannya.Itu kan sama artinya menikahi wanita yang dia benci juga kan Bu. Apa yang harus aku lakukan Bu, aku masih bingung dengan keputusan yang akan aku ambil nantinya. Aku seperti terjebak Bu, sedangkan aku belum siap untuk menikah apalagi memberi Ray seorang ayah."
"Apapun keputusanmu, ibu akan tetap dukung, ikuti kata hatimu, ibu gak bisa ngasih pendapat apapun. Ibu takut salah menilai."
"Iya Bu. terima kasih Bu, selalu mendukung keputusan Mica. Saat ini aku ingin Ray cepat besar, biar aku bisa melanjutkan sekolahku yang tertunda."
Setelah ngobrol panjang lebar, Mica baru menyadari jika Ray sudah tidur. Dengan pelan-pelan ia letakkan anaknya di ranjang bayi, agar Ray bisa tidur lebih nyenyak.
Saat hendak merebahkan tubuhnya, Mica dikejutkan dengan pesan singkat yang masuk dan ternyata saat Mica membukanya itu dari Zen yang hanya mengucapkan selamat malam saja.
'Tumben tuan Zen mengirim pesan seperti ini. Kesambet apa dia di jalan. Balas gak ya?! Eemm. Gak usah lah. Bukan hal penting juga. Ucap Mica yang berbicara sendiri dan segera meletakkan ponselnya di atas nakas dan memutuskan untuk tidur dan membiarkan pesan tersebut tanpa membalasnya.
__ADS_1
To be continued ☺️☺️☺️☺️