Single Mom Diusia Belia

Single Mom Diusia Belia
Part 32


__ADS_3

Mica pun menuruti kemauan Zen, menemaninya untuk berbelanja memenuhi kebutuhan Ray. Zen terus menggegam tangan Mica bahkan tak sedetikpun ingin melepaskannya.


"Apa ini semua sudah cukup? Apa masih ada yang kurang? Katakan padaku. Aku tidak ingin melewatkan barang-barang penting yang dibutuhkan Ray," tanya Zen sambil mendorong troli.


"Sudah semua, bahkan itu sudah lebih untuk satu bulan. Apakah habis ini kita bisa pulang?"


"Belum, setelah kebutuhan Ray terpenuhi, sekarang kebutuhan ibunya yang harus di penuhi."


"Gak perlu, Mas Gion sudah memenuhi semua kebutuhan ku. Kamu gak perlu repot-repot memperhatikan kebutuhanku." Tolak Mica, dia hanya ingin segera pulang. Namun penolakan Mica sia-sia, Zen tetap memaksa Mica untuk membeli sesuatu.


Zen membawa ke salah satu store Sepatu, dan berfikir Mica pasti membutuhkan sepatu lagi untuk di pakai ganti.


Mica mengedarkan pandangannya melihat berbagai macam merk dan juga model sepatu, Tak memungkiri kalau Mica juga tertarik ingin mencoba dan membeli, namun Mica berusaha menjaga harga dirinya.


Sayangnya, Mata Mica tak bisa berbohong dan Zen mengetahui itu. Zen segera meminta Mica duduk lalu memanggil pelayan toko mengambilkan beberapa model sepatu dengan ukuran yang sama.


"Apa yang kamu lakukan." Mica mencoba menarik kakinya saat Zen berusaha memegang kakinya.


"Diamlah." Bentak Zen, membuat Mica terdiam dan tak berani menarik kakinya lagi.


Zen mencoba memasangkan salah satu sepatu di kaki Mica.


"Sejak kapan kamu membuat tato di tempat yang tidak tepat?" tanya Zen, tato yang mempertemukannya lagi dengan wanita yang dicarinya.


"Ini. Ini tanda lahir ku, dan itu sangat jelek saat di lihat, makanya aku tutup dengan tato." Jelas Mica.


"Oh, Tapi cantik dan terlihat imut."


"Maksudmu?"


"Ah, tidak papa. Apa kamu suka sepatunya? Aku akan membelikan dua pasang untukmu." Zen tetap maksa dan dia pun membeli dua pasang sepatu untuk Mica.


Setelah mendapatkan semuanya, Mereka pun memutuskan untuk pulang, Setelah Mica terus saja merengek ingin pulang.


****

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Gion sudah menunggu istrinya yang tak kunjung pulang dan setelah Mica sampai, raut wajah marah Gion terlihat jelas.


"Darimana saja kalian? Sedang hampir empat jam kalian keluar bersama dah aku menunggu di rumah selama dua jam." Tanya Gion dengan marah.


"Mas aku-"


"Masuk ke kamar, Aku butuh penjelasan mu nanti. Sekarang aku ingin bicara dengan Zen," titah Gion membuat Mica tak berani membantah.


"Iya mas." Jawab Mica lalu segera pergi ke kamar Sedangkan Gion dan Zen masih berdiri berhadapan.


"Gion, aku bisa jelaskan semuanya-"


"Cukup. Aku tidak ingin mendengar penjelasan mu. Cukup kamu yang harus mendengarkan kata-kataku."


"Zen, Tolong jangan dekati Mica, dia itu istriku. Walaupun dia sudah melahirkan anakmu, tapi kalian tidak ada ikatan. Mulai. hari ini dan seterusnya jangan pernah dekati Mica lagi, jika tetap kamu lakukan, aku akan membawa Mica dan Ray pergi dari rumah ini. Paham, ini peringatan pertama dan terakhir, camkan itu." Setelah menegur Zen, Gion pun segera menemui istrinya.


Saat Gion kembali ke kamar, Mica langsung menghampiri dan memeluknya.


" Aku sudah mengajaknya pulang dari tadi, tapi dia gak mau. Tolong jangan marah." Jelas Mica.


"Dia yang maksa mas, aku sudah berusaha menolak, tapi dia terus memaksaku untuk ikut. Percayalah mas, aku tidak ada niatan untuk mengingkari janji."


"Kalau begitu jangan salahkan aku, kalau aku juga bisa mengingkari janjiku." ucap Gion lalu segera menjauhkan Mica dari tubuhnya.


"Mas..."


Gion mengambil undangan yang ada di atas nakas dan menyerahkannya pada Mica.


"Apa ini mas?"


"Undangan, pesta pernikahan. Aku ingin kita datang bersama."


"Tapi mas!"


"Tapi apa? tenang saja, tidak akan ada yang tau."

__ADS_1


"Ya baiklah. Tapi mas masih marah gak?"


"Masih." jawab Gion singkat


"Kok masih?" saut Mica sambil berjalan mengikuti Gion ke balkon.


Mica menyusup masuk kedalam lipatan tangan Gion, hingga membuat Mica berada dalam pelukan.


Mica mendongkrak sambil memasang wajah sedihnya.


"Maaf, tidak bisakah kamu memaafkan istri imut mu ini? apakah kamu tega membuatnya menangis."Rayu Mica.


"Aku akan memaafkan kamu kalau kamu setuju untuk pergi dari rumah ini. Kita mulai hidup baru dengan tinggal di rumah sendiri. Jika kamu setuju maka aku akan memaafkan kamu." ucap Gion.


"Pindah?! bagaimana dengan mama dan papa. Bukankah sejak awal mereka melarang kita untuk pisah rumah." jawab Mica


"Aku akan memberi penjelasan pada mereka, alasan kita pisah rumah. Aku mencintaimu Mica, aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau Zen merebut mu dariku. Dan selama masih satu atap aku tidak bisa menjalani hari dengan tenang" Jelas Gion.


'Asal kamu tau mas, inilah yang aku inginkan dari awal. Selama ini aku hanya berpura-pura kuat, karena keadaan yang memaksa ku. Dan kini akhirnya doaku terkabul, kau mengajak ku meninggalkan rumah ini. Tentu saja aku mau.' Gumam Mica.


"Tapi ibu ikut kan?"


"Tentu saja, lalu siapa yang akan membantu kamu kalau bukan ibu." Gion menangkup Kedua papi Mica. "Aku janji, akan menjadi kelapa keluarga yang baik untuk keluarga kecil kita."


"Oya, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan padamu. Mungkin kita akan bertemu di sekolah seminggu hanya bisa dua kali, Karena Mas mau mengurus proyek."


"Kenapa? proyek apa? Apa mas punya pekerjaan lain selain mengajar?" tanya Mica tak paham.


"Tentu saja aku punya." jawab singkat Gion.


"Aahhh, Mas mulai main rahasia, kenapa mas gak bilang-bilang. Aku kan juga berhak tau."


"Kan sekarang sudah tau." saut Gion malah membuat Mica cemberut.


"Sudahlah, Sekarang sudah malam , cepat tidur sana, nanti aku menyusul."

__ADS_1


__ADS_2