Single Mom Diusia Belia

Single Mom Diusia Belia
Part 34


__ADS_3

"Aku pulang,"ucap Mica sambil membawa dua gelas cup kopi pesan Gion dan juga satu kotak donat.


"Maaf mas, agak lama, soalnya tadi beli donat dulu sebelum pulang." imbuh Mica sambil menyodorkan donat untuk suaminya.


Gion beberapa kali hanya mengiyakan ucapan Mica, tak ada kata lain yang keluar dari mulutnya, membuat Mica kesal.


"Mas, ada apa? Apa mas menyesal dengan keputusan mas meninggalkan rumah? Kalau memang tebakanku benar, tolong beri aku alasannya. Aku gak mau kembali, aku gak mau bertemu dengannya lagi." Ucap Mica.


"Tidak. Aku sama sekali tidak menyesal, aku hanya kepikiran satu hal. Jika ibu pulang kampung dan aku sibuk mengurus proyek dan kamu sekolah lalu siapa yang akan mengurus Ray, tidak mungkin kamu atau aku membawanya. Apa kita perlu mencari baby sitter?"


Mica langsung terdiam. Memikirkan kata-kata suaminya, "Apa aku berhenti sekolah saja mas. Seharusnya aku sadar, kalau aku sekarang sudah punya anak dan tidak seharusnya aku terobsesi untuk bisa melanjutkan pendidikan sampai Ray harus kehilangan banyak waktu untuk bersamaku." Mica pun tertunduk perasaannya benar-benar campur aduk, keputusan pun harus di ambil demi putranya.


"Tidak Mica, Kamu harus tetap sekolah. Kita cari baby sitter saja untuk beberapa bulan ke depan, setelah kamu lulus nanti kamu bisa merawat Ray sepenuhnya di rumah."


"Gak mas, aku gak percaya pada siapapun. Lebih baik aku yang mengalah, dari pada aku membiarkan orang lain mengasuh Ray."


Keduanya pun tak menemukan jalan keluar terbaik dan tak tau pilihan apa yang akan di ambil untuk kebaikan Ray.


Perdebatan keduanya ternyata di dengar oleh Sekar dan ia pun segera menghampiri ke dua anaknya.


"Mica, Gion. Ibu sudah dengar semuanya. Kalau begini keadaannya, ibu akan tetap tinggal untuk menjaga Ray, biar kalian bisa fokus sekolah dan bekerja." ucap Sekar membuat Mica tercengang lalu segera menghampiri ibunya.

__ADS_1


"Ibu, Bukan kah ibu sudah menantikannya untuk bisa pulang ke kampung halaman. Jangan karena kami ibu mengurungkan niat ibu. Kami pasti nanti punya jalan keluarnya kok Bu, ibu gak usah kuatir." ucap Mica sambil menggenggam tangan ibunya.


"Jalan keluar apa yang bisa kalian dapatkan? ibu tidak yakin kalian bisa menemukannya. Ibu gak papa Mica, kebahagiaan kamu dan Ray itu lebih penting. Melihat kalian bahagia itu sudah menggantikan kesedihan ibu. Jangan kuatir lagi ibu yang akan tetap m ngurusnya sampai kamu selesai sekolah." Ucap Sekar membuat hati Mica tersentuh dan langsung memeluk sang ibu.


"Ibu, maafkan Mica yang masih bergantung pada ibu. Mica janji Bu. Setelah Mica selesai ujian, kita akan pergi ke kampung halaman ibu sama-sama. Terimakasih Bu, selalu ada buat Mica dan Ray."


"Iya sayang. Kamu anak ibu, jadi kebahagiaanmu menjadi prioritas ibu. Berjanjilah pada ibu, kalau kamu akan lulus dengan nilai terbaik."


Gion pun ikut memeluk dua wanita yang sedang berpelukan. "Kalian memang dua wanita hebat yang aku kenal. Bu, jasamu selama ini tak akan pernah aku lupakan dan juga kalau bukan karena ibu tak mungkin aku bisa bertemu wanita yang sudah berhasil membuka hatiku."


Suasana haru seketika pecah saat terdengar tangisan Ray yang terbangun.


"Bu, Mas, aku ke kamar Ray dulu. Kalau kalian mau istirahat, istirahat saja duluan." ucap Mica lalu bergegas pergi ke kamar Ray.


"Gion, Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ibu katakan padamu, tapi ibu gak pernah punya waktu untuk bisa bicara berdua denganmu." ucap Sekar membuka pembicaraan.


"Ada apa Bu? sepertinya sangat serius."


"Ibu ingin tanya padamu, apa Mica menggunakan alat kontr**asepsi selama ini? Ibu gak bisa menanyakan langsung padanya. Ibu takut gak bisa menjelaskannya."


"Iya bu. Dia menggunakannya. Karena dia ingin menunda kehamilan selanjutnya. Memangnya kenapa Bu? Apa ada masalah dengan kesehatan Mica? tapi selama ini tidak ada gejala yang di keluhkan nya. Eemm tapi dia pernah bilang kadang-kadang dia merasa nyeri setelah berhubungan. Apa itu masalahnya Bu?" ujar Gion.

__ADS_1


"Dokter Max pernah bilang dengan ibu kemungkinan besar, Mica akan mengalami Infertilitas sekunder ( ketidaksuburan rahim setelah mengalami kehamilan). Dokter Max berpesan agar Mica melakukan pemeriksaan lagi. Maaf ibu baru bisa cerita sekarang." ucap Sekar dengan sedih.


"Maksud ibu, Kemungkinan besar Mica untuk punya anak lagi sangat kecil?" tanya Gion dan Sekar mengangguk.


"Mica sudah di jelaskan oleh dokter, namun sepertinya dia tak paham. Ibu sudah pernah mengajaknya untuk periksa, namun dia menolak. Lebih baik kamu bujuk dia untuk memastikan." Obrolan keduanya terhenti saat Mica keluar dari kamar Ray.


"Kalian belum tidur?" tanya Mica menghampiri.


"Ini ibu mau kembali ke kamar. Apa Ray sudah tidur lagi?"


"Sudah Bu."


"Ya sudah ibu kembali ke kamar. Kamu juga cepat istirahat biar besok bisa bangun pagi-pagi." Ucap Sekar dan beranjak kembali ke kamar.


Mica melirik Gion dan ingin bertanya, namun Gion lebih dulu memberi jawaban.


"Aku belum bisa tidur, sepertinya kopi ini sudah membuatku terjaga. Kamu tidur saja duluan, nanti aku menyusul."


"Baiklah, aku ke kamar duluan." Mica pun segera pergi ke kamar.


Gion menghela nafas Memikirkan perkataan ibunya, 'Apakah perkataan ibu tadi benar? Kalau begitu kemungkinan besar aku untuk memiliki keturunan dalam waktu satu dua tahun ke depan akan terwujud. Untuk memastikan sepertinya aku harus membawanya pemeriksaan, setidaknya agar aku tau masih bisa berharap atau hanya pasrah.'

__ADS_1


Gion pun segera meneguk Sisa kopinya sebelum kembali ke kamar dan akan memikirkannya lagi esok dalam kondisi tenang.


To Be Continued ☺️☺️☺️


__ADS_2