Single Mom Diusia Belia

Single Mom Diusia Belia
Apa yang harus di lakukan


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Mica segera pergi ke kamar Ray untuk memastikan putranya baik-baik saja saat ditinggal, sedangkan Gion langsung kembali ke kamar untuk berganti pakaian.


Perlahan Mica membuka pintu agar tidak mengejutkan jika anaknya sudah tidur. Namun yang ia dapati pemandangan yang berbeda. Zen tengah berdiri di sisi box ranjang Ray dan sedang mengusap kepala Ray.


"Apa yang kamu lakukan-"


"Huusssttt, jangan berisik. Ray sedang tidur." ucap Zen pelan dan Mica melirik Ray, memang benar putranya tengah tidur.


Mica segera menarik tangan Zen dan membawanya agak jauh dari Ray.


"Apa yang kamu lakukan di kamar anakku, sudah aku katakan berulang kali untuk tidak mendekati ataupun menyentuh Ray, atau aku tak akan pernah lagi membiarkan kamu melihat Ray." ancam Mica.


Zen meraih kedua tangan Mica, namun Mica yang tidak ingin dirinya di sentuh berusaha menepisnya, namun sayangnya tangan Zen begitu kuat mencekal hingga Mica tak mampu melepaskannya.


"Lepaskan aku brengsek, sudah aku katakan jangan pernah menyentuhku." Bentak Mica namun di abaikan Zen.


"Aku akan melepaskan kamu, setelah kamu mendengarkan semua penjelasan dariku."


"Penjelasan apa lagi yang ingin kamu jelaskan. Semua sudah jelas kalau kamu adalah pria brengsek dan pecundang."

__ADS_1


"Iya aku memang pria brengsek yang sudah tega melakukan pelecehan padamu. Tapi aku bukan pecundang yang lari dari tanggung jawab, asal kamu setelah aku dihantui rasa bersalah selama berbulan-bulan, aku berusaha mencari mu untuk meminta maaf dan bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku buat. Aku datang ke rumah mu untuk menemuimu tapi aku tidak bisa bertemu denganmu kerena pelayan rumahmu mengatakan kalau kamu pindah sekolah ke luar negeri. Makanya aku berfikir kalau kamu baik-baik saja." Jelas Zen.


"Apa kau bilang baik-baik saja! Asal kamu tau, Aku diusir dari rumah dan di anggap membuat aib keluarga kerena aku berusaha mempertahankan Ray walaupun aku tak tau siapa ayahnya. Kau pikir aku baik-baik saja! Aku hidup di jalanan selama seminggu tanpa uang sepeser pun, berusaha menghilangkan rasa lapar dari meminta belas kasih orang lain. Sampai akhirnya aku bertemu dengan ibu yang mau menolong ku dan membantuku melewati masa sulit dalam masa kehamilanku. Aku menderita, aku benar-benar menderita kalau kamu tau itu." Jelas Mica dan berusaha menahan air mata yang hampir tumpah.


"Maaf, maafkan aku. Aku tidak tau kamu sangat menderita, demi mempertahankan anakku. Aku benar-benar menyesal tidak terpikirkan hal ini akan terjadi, Saat itu aku benar-benar mabuk yang ada dalam benakku hanya ingin menyalurkan hasrat ku tanpa memikirkan akibat perbuatan ku. Dan aku baru menyadari semuanya saat aku melihat tanda di kakimu, tanda yang selalu aku ingat setelah menodai mu. Aku memutuskan untuk mencari informasi tentang dirimu dan akhirnya aku tau jika kamu melahirkan anakku. Aku ingin jujur dan Ingin bertanggung jawab, Setelah mengumpulkan keberanian, tapi aku terlambat, belum sempat aku jujur kau dan Gion sudah memutuskan untuk menikah. Apa yang bisa aku lakukan? tak mungkin aku menghancurkan kebahagiaan saudaraku begitu saja." Zen berusaha memberi penjelasan namun membuat Mica langsung menumpahkan air mata yang sedari tadi ingin terjun.


"Kamu sangat jahat Zen, benar-benar laki-laki jahat." Mica pun memukul dada Zen melampiaskan kemarahannya.


"Mica, tolong beri aku kesempatan untuk menebus semuanya, izinkan aku ikut merawat Ray, Tetaplah tinggal disini dan jangan bawa Ray pergi. Aku akan menjauh darimu jika kamu menginginkan, tapi biarkan aku tetap bisa menyaksikan tumbuh kembang Ray." Zen pun tak kuasa untuk tidak memohon pada Mica. Zen tak ingin kehilangan anaknya, jika suatu hari Mica menginginkan pergi dari rumah mertuanya.


Tiba-tiba pintu pun terbuka dan muncul Gion di baliknya, yang sengaja datang untuk memanggil istrinya yang terlalu lama di kamar Ray. Seketika Zen dan Mica menatap dengan tegang, takut Gion berfikir yang tidak-tidak.


"Apa yang kalian lakukan berdua disini?" tanya Gion. Mica tak menjawab dan memilih untuk pergi begitu saja tanpa penjelasan, sedangkan Zen datang menghampiri Gion untuk menjelaskan kesalahan pahaman.


"Aaarrgggghhhh." Zen meninju udara karena kesal tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menjelaskan pada Gion.


Gion pun pergi menghampiri Mica yang tengah sembunyi di balik selimut, menyembunyikan tangisnya.


"Mica, apa yang sudah di lakukan Zen padamu, sampai kamu menangis?" tanya Gion Seraya membuka selimut yang menutupi tubuh Mica.

__ADS_1


"Hiks... hiks... " Mica tak bicara apa-apa ia hanya menangis saat menghadiri ke pelukan Gion.


"Apa Zen mengancam mu?" tanya Gion lagi, Mica hanya menggeleng.


"Lalu?"


"Apakah aku egois jika memisahkan anak dari ayah kandungnya? Apa aku ibu yang egois tak mengizinkan dia menyentuh anakku? Aku yang mengandung dan aku juga yang merawat Ray seorang diri, tapi kenapa seolah aku menjadi wanita dan ibu yang jahat. Katakan mas, apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin menjadi ibu yang jahat di mata Ray suatu hari nanti. Hiks... hiks..."


"Tenang sayang, apapun keputusanmu itu adalah yang terbaik buat Ray. Aku sudah berjanji padamu, aku akan selalu ada di belakangmu untuk mendukung keputusanmu. Dan sekarang apapun yang ingin kamu putuskan aku akan menyetujuinya. Sekarang hapus air matamu, jangan tunjukkan kerapuhan mu pada siapapun." Gion menghapus air mata istrinya dan berusaha menguatkan.


"Sekarang istirahatlah, nanti kalau sudah tenang, baru kita makan malam bersama. Aku mau pergi sebentar, ada janji yang harus aku tepati." ucap Gion membuat Mica mendorong tubuh Gion agar menjauh.


"Pergilah, gak usah hiraukan aku. Pentingkan saja janjimu daripada istrimu yang sedang sedih."


"Bukan begitu, aku sudah terlanjur berjanji dengan rekan kerjaku tadi, bagaimana bisa aku membatalkannya begitu saja. eemmm kamu mau apa? nanti pulang aku bawakan." bujuk Gion agar mendapatkan izin.


"Pergilah, gak perlu merayu untuk mendapatkan izin, izinku pun tidak ada gunanya."


Gion pun hanya menghela nafas, dah harus ekstra sabar dah harus banyak mengalah menghadapi istri kecilnya yang belum sepenuhnya dewasa.

__ADS_1


"Baiklah aku tak jadi pergi, aku akan membatalkannya sekarang. Tapi dengan satu syarat, kamu harus makan, bagaimana kamu bisa memberi nutrisi yang baik buat Ray kalau ibunya saja selalu terlambat makan " ajak Gion setelah memilih untuk mengalah.


...to Be Continued ☺️☺️☺️...


__ADS_2