
Sepulang sekolah, Mica segera mengambil Ray untuk menemaninya bermain. Ray yang sudah bisa duduk dan merangkak, membuat Mica tak ingin melewatkan masa itu di tambah Ray sudah bisa bermain dengan mainnya.
Saat sedang bermain dengan Ray, Zen datang dengan membawa mainan yang dia beli sebelumnya untuk Ray.
"Mica, a-aku kemari hanya ingin memberikan mainan ini untuk Ray, aku melihat mainan ini sangat lucu dan aku memutuskan untuk membelikannya buat Ray. A-aku juga membelikan baju yang lucu-lucu untuk Ray, Tolong biarkan aku memberikannya pada Ray." ucap Zen sedikit terbata karena tatapan tajam dari Mica.
"Letakkan di situ, dan cepat pergi! Ray juga tidak menginginkan keberadaan mu di sini." Usir Mica.
" B-baiklah." Ray pun segera meletakkan apa yang dia bawa tak jauh dari dia berdiri dan segera membalikkan badannya.
"P-p-pa." Kata itu terdengar jelas di telinga Mica dan juga Zen, seketika Zen membalikkan tubuhnya dan menatap putranya yang berusaha memanggil dirinya dengan sebutan papa.
"Kamu tadi bilang apa Ray, coba katakan sekali lagi, aku ingin mendengarkannya." ucap Zen saat menghampiri Ray.
"Jangan memaksa Ray untuk mengatakan apa yang seharusnya tidak ia katakan. Cepat pergi, atau aku akan berteriak" Usir mica lagi.
Zen pun menurut, ia berdiri dari posisi jongkoknya dan ingin pergi, Namun kali ini ia mendengar celetuk Ray kembali.
"P-p-pa" panggil Ray lagi seketika, membuat Mica terdiam dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
Zen yang begitu kegirangan,dia yang selama ini tak pernah di beri kesempatan akhirnya putranya mengakui sebagai seorang ayah. Zen segera mengambil Ray dan memeluknya, ia pun membawa Rey meninggalkan kamar nya untuk menunjukkan kepada mamanya jika Ray memanggil dirinya papa.
Sedangkan Mica hanya mematung tak percaya anaknya memanggil laki-laki yang ia benci dengan panggilan papa.
Mica benar-benar syok dengan reaksi yang diberikan Ray, dia benar-benar tak percaya jika dua laki-laki yang ada di dalam rumah akan sama-sama dipanggil dengan panggilan papa.
Mica bergegas keluar kamar dan ingin menegur Zen, namun niatnya ia urungkan saat melihat putranya tertawa bahagia bersama ayahnya. Mica hanya berdiri di lantai atas dan melihat kebahagiaan yang terpancar dari mereka.
__ADS_1
"Kenapa semuanya jadi begini? ternyata keputusanku salah. Sekuat apapun aku menjauhkan mereka, sebuah ikatan tak akan bisa terputus begitu saja. Ray apakah kamu menyayanginya? Apakah kamu ingin bersama dengannya. Jika itu yang kamu inginkan. Baiklah mama akan membiarkan papamu bisa bermain dengan papamu tapi tidak untuk mengambil hak atas dirimu."Gumam Mica seraya terus memperhatikan kebahagian putranya.
Mica segera memalingkan wajahnya, saat Zen menyadari tatapan mata Mica yang terus fokus pada Zen.
Mica pun berpura-pura turun untuk mengambil air minum.
"Mica, Mana Gion kok gak ada kelihatan?" tanya Vika yang tengah bermain bersama Ray.
"Mas Gion pergi dengan teman-temannya ma." Jawab Mica sambil berlalu ke dapur untuk mengambil air minum.
Zen pun menghampiri Mica sambil menggendong Ray.
"Mica, aku ingin membelikan keperluan Ray, tapi aku gak tau apa-apa saja yang di butuhkan Ray. Kamu mau kan membantuku kali ini saja, setelah itu aku tidak akan bertanya lagi, aku pasti akan mencatat semua yang di butuhkan Ray," ucap Zen.
"Maksudmu, kau ingin mengaku untuk berbelanja kebutuhan Ray?" Perjelas Mica dan Zen mengangguk.
"Lebih baik kamu ikut, Sudah tanggung jawab Zen untuk memenuhi kebutuhan Ray. Kamu sendiri yang bilang kalau Zen harus bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan Ray. Kamu hanya perlu beritahu dia apa saja yang dibutuhkan. Biar dia tau biaya yang harus di keluarkan nya untuk memenuhi kebutuhan Ray. Nanti kalau Zen sudah menikah dia tidak bisa melupakan tanggungjawabnya. Dan tau berapa biaya yang harus dia keluarkan untuk Ray." Jelas Vika yang juga mendesak Mica untuk mengikuti Zen.
Mica yang tidak bisa membantah perkataan ibu mertuanya itu pun akhirnya mengiyakan ajakan Zen. Namun sebelum pergi, Mica sempat mengirimkan pesan pada Gion agar nantinya tidak menjadi salah paham.
Di perjalanan Mica pun mengungkapkan semuanya kepada Zen.
"Aku sudah mengatakan padamu untuk ke sekian kalinya, tapi kenapa kamu seakan tidak menghiraukan permohonan ku. Aku ingin membawa Ray pergi menjauh darimu dan tidak mengizinkan kamu untuk melihatnya, tapi kenapa aku tidak bisa melakukan itu. Kenapa kakiku terasa berat untuk melangkah keluar. Aku tak tau apa yang membuatku sulit menjauhkan kamu dari anakku."Mica pun mengungkapkan semuanya pada Zen agar laki-laki itu tau kalau dirinya masih membencinya.
Zen masih diam dan mendengarkan ocehan Mica, mengeluarkan uneg-uneg kebencian pada dirinya sambil terus fokus mengemudi.
"Aku ingin memasukkan mu dalam penjara, tapi kakakmu ingin menggantikan posisimu. Aku ingin membawa Ray pergi menjauh darimu tapi Mamamu mengancam ku. Lalu apa yang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa tinggal satu atap denganmu, laki-laki yang sudah menghancurkan masa depan ku dan aku harus memendam kebencian itu sendiri dalam hatiku, Apa kamu tau itu? Aku benar-benar tersiksa setiap melihatmu. Tapi kenapa kamu seolah tidak perduli dan selalu mendekati ku dan anakku yang membuat hidupku semakin menderita. hiks... hiks... "
__ADS_1
Zen pun yang sudah tidak tahan dengan Mica yang terus menyudutkannya pun segera meminggirkan mobilnya ke sisi jalan.
Mica pun segera menghentikan tangisnya dan saat Zen mendadak menghentikan mobilnya dan Mica pun menjadi ketakutan.
"A-apa yang kamu lakukan? Kenapa berhenti disini?" tanya Mica ketakutan.
Zen segera meraih kedua tangan Mica dan menggegamnya. Mica berupa melepaskannya namun Zen semakin kuat memegang kedua tangan Mica.
"Lepaskan, apa yang kamu laku-" Zen membekap mulut Mica agar tidak berteriak, membuat jantung Mica berdetak lebih cepat.
"Dengarkan aku Mica, Sudah cukup kamu terus menyudutkan aku. Aku memang salah tapi aku ingin bertanggung jawab, Katakan padaku sekarang, apa yang harus aku lakukan, Agar kamu bisa memaafkan aku. Aku sudah berusaha menjauhi mu, tapi aku tidak mampu. Aku mencintaimu Mica, aku ingin membahagiakan kamu dan anak kita." ungkap Zen membuat Mica membuatkan matanya tak percaya.
"Mulai sekarang aku akan membuat Ray dekat denganku. Bagaimanapun caramu untuk menjauhkan aku dengan anakku, aku tetap akan berjuang untuk anakku." Ancam Zen Membuat Mica benar-benar ketakutan. Ia benar-benar menyesal menuruti kemauan mama mertuanya untuk pergi bersama Zen.
"Aku mau pulang! Antarkan aku pulang." rengek Mica sambil terisak.
" Tidak. Kita akan pulang setelah mendapatkan semuanya!"
"Tapi aku mau pulang!"
"Diam dan jangan membantah atau aku bisa melakukannya lagi." Ancam Zen, tak perduli dengan Mica yang benar-benar ketakutan. Zen sudah seperti kerasukan setan, sikapnya tiba-tiba saja berubah.
"Jangan, jangan lakukan itu lagi." Mica terus mengiba bahkan tubuhnya pun gemetar karena ancaman Zen.
To Be Continued ☺️☺️☺️
__ADS_1