
"Mica istirahat lah dulu, kamu sudah terlihat lelah dan sekarang sudah tengah malam." Bujuk Gion yang merasa kasihan melihat istrinya yang begitu kelelahan, setelah seharian disibukkan dengan pernikahan dan sekarang harus menunggu anaknya yang tengah berjuang. Mica hanya menggeleng kan kepala.
Saat ini hanya tinggal mereka bertiga, Mica, Gion dan Bayu yang masih menunggu, sedangkan orang tua mereka memilih pulang lebih dulu.
"Kamu istirahat ya Mica, nanti kamu bisa sakit, kasihan Ray kalau nanti membutuhkan ibunya malah ibunya sakit, biarkan kakak dan suamimu yang menunggu." Bujuk Bayu juga.
Mica pun memilih merebahkan tubuhnya di bangku dan menyandarkan kepalanya di paha suaminya. Gion segera melepaskan jaketnya untuk menyelimuti tubuh Mica yang berbalut sweater.
"Gion, aku tau kamu tulus menyayangi adikku, walaupun kau tau dia memiliki anak di luar nikah, tapi percayalah itu semua bukan keinginannya. Kalau sampai laki-laki itu muncul aku akan membuat perhitungan dengannya. Dia benar-benar laki-laki bajingan yang meninggalkan penderita adikku, tidak hanya menodai adikku dia bahkan meninggalkan benihnya dan sekarang adikku dia buatnya menderita lagi Kerena anaknya." ucap Bayu yang benar-benar geram.
"Aku tidak perduli hal itu, aku hanya ingin membahagiakan dia dah mewujudkan impiannya yang ingin melanjutkan sekolahnya. Aku akan mendaftarkan dia di salah satu tempatku mengajar, tidak papa jika dia terlambat satu tahun, setidaknya nanti dia bisa menyelesaikan sekolahnya, intinya aku bisa menjaganya jika nanti dia di bully ataupun di asingkan." Jelas Gion.
"Aku titipkan adikku padamu, aku yakin kamu bisa membimbingnya, dia bukanlah gadis manja. Adikku adalah permata berharga yang aku miliki."
Setelah obrolan panjang lebar, Mereka melihat Suster membawa Satu kantong donor darah yang akan di transfusi kan ke salah satu pasien yang ada di ruang PICU. Bayu yang punya firasat pun segera melihat dari kaca pintu dan benar saja kantong donor itu ditransfusikan pada Ray.
'Darah itu, transfusi. Itu artinya ayah kandung Ray ada di sini? Dimana dia sekarang? aku harus menemukannya aku harus memberi pelajaran padanya.' gumam Bayu dan mengedarkan pandangannya mencari sosok yang mencurigakan.
Setelah menunggu dengan gelisah, Suster yang di tunggu pun keluar dari ruangan.
"Suster, tunggu." tahan Bayu, Gion yang mendengar pun bertanya-tanya.
__ADS_1
"Iya ada apa pak?" tanya suster.
"Maaf saya mau tanya, siapa yang mendonorkan darah untuk keponakan saya sus. Kata dokter hanya ayah kandungnya saja uang bisa mendonorkan darahnya, itu artinya ayah dari keponakan saya ada di sini. Tolong sus beritahu saya, dimana dia sus. Kami sudah dalam mencarinya. Tolong bantu sus, kasian adik dan juga keponakan saya menunggunya selama ini." bujuk Bayu dengan mengiba. Membuat perawat yang awalnya ingin bungkam, hatinya pun luluh mendengar karangan cerita yang di buat Bayu.
"Baiklah pak, saya akan memberitahu. Yang mendonorkan darah orangnya masih istirahat di ruangan donor darah. Anda bisa menemuinya disana." jelas perawat lalu segera pergi.
'Akhirnya aku menemukanmu brengsek, kamu tak akan bisa lari lagi. Tamat riwayatmu, saat ini juga.' gumam Bayu sambil mengepal kedua tangannya.
Bayu pun hendak melangkah pergi, Gion pun beberapa kali memanggil tidak di gubrisnya.
"Bayu kamu mau pergi kemana?". panggil Gion.
Bayu menghampiri ruangan tempat donor darah, namun tampak sepi, ia pun tetap masuk untuk memastikan dan mengedarkan pandangannya untuk mencarinya. Di salah satu sudut Bayu melihat laki-laki yang sedang istirahat di brankar yang sangat ia kenali. Bayu pun menghampiri untuk bertanya.
"Zen? kamu habis donor darah?" tanya Bayu tiba-tiba yang membuat Zen terkejut dengan kedatangan Bayu.
"Ba-bayu, ngapain kamu kesini?" tanya balik Zen tergagap.
"Apa kamu melihat laki-laki yang habis mendonorkan darahnya di sini? Jika kamu tau, dimana dia sekarang, aku sedang mencarinya." tanya Bayu.
"Sedari tadi tidak ada yang donor darah di sini." Jawab singkat Zen.
__ADS_1
Bayu yang masih tak fokus, berfikir jika mungkin pria itu sudah pergi sebelum Zen mendonorkan darahnya.
"Baiklah kalau begitu, istirahatlah kembali biar lekas pulih. Aku harus pergi sekarang untuk menemukannya." Bayu pun melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun sampai ambang pintu Bayu baru sadar dan teringat kata-kata suster sebelumnya lalu segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Zen dengan tatapan tajam seolah ingin menghunus jantungnya.
Bayu pun melangkah lebih cepat menghampiri Zen dan mencengkeram kerahnya serta melayangkan tinjunya ke wajah Zen hingga terjatuh dari brankar.
"Dasar bajingan, laki-laki brengsek. Ternyata selama ini laki-laki yang aku cari ada di sekitarku. Tega sekali kamu Zen, kenapa kamu tega menghancurkan hidup adikku dan sembunyi seperti pengecut, hah." pekik Bayu , Walaupun ia sangat murka namun Bayu berusaha menahan amarahnya untuk tidak menghakimi Zen di rumah sakit
" Bayu dengarkan aku, aku bisa menjelaskan semuanya aku tidak bermaksud kabur dari tanggung jawab atas khilafan yang aku lakukan." Jelas Zen membuat Bayu semakin murka dan sekali lagi melayangkan tinjunya ke perut Zen. Tak ada perlawanan dari Zen karena dia mengaggap itu pantas di dapatnya.
"Penjelasan apa lagi yang ingin kamu berikan, itu akan percuma. Kenapa kamu tega Zen, tega sekali merusak adikku. Padahal aku sangat percaya padamu. Tak pernah terbesit dalam pikiranku jika kamu adalah laki-laki bajingan itu. Aku benar-benar kecewa Zen. Aku minta sekarang lebih baik kamu jujur dada Mica dan kamu harus di hukum atas perbuatan jahatmu."
"Iya, aku akan jujur padanya. Aku siap menerima semua konsekuensinya atas perbuatan ku di masa lalu, tapi aku mohon Bayu tolong jangan jebloskan aku di penjara. Aku akan bertanggung jawab, dan akan melakukan apapun yang dikatakan Mica asalkan aku tidak masuk dalam penjara. Bayu kamu adalah sahabatku, aku tau kamu saat ini sangat marah padaku, tapi tolong bantu aku menjelaskan semuanya pada Mica." Zen pun terus memohon pada Bayu. Kondisinya yang belum pulih pasca donor darah, membuat Zen hanya bisa bersimpuh di depan Bayu untuk minta maaf.
"Zen, ternyata kamu." ucap Gion yang terkejut atas kebenaran yang baru di lontarkan dari mulut Zen langsung.
Bayu dan Zen menoleh ke arah Gion yang ada di ambang pintu.
"Gion, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mempermalukan keluarga kita, aku khilaf. Aku tidak tau kalau perbuatan yang aku lakukan telah meninggalkan benih di rahim Mica dan disaat aku ingin jujur dan ingin bertanggung jawab. Kamu lebih dulu menikahinya, maafkan aku Gion." jelas Zen. Membuat Gion hanya bisa mengepal tangannya dan memalingkan wajahnya. Sungguh kenyataan yang menyakitkan hatinya. jika ternyata adiknya lah yang telah merusak hidup istrinya.
To be continued ☺️☺️☺️
__ADS_1