
Ancaman Alexander kepada keluarga Morgan untuk memenjarakan Zen sudah terdengar sampai telinga Mica, bahwa tentang tawaran yang di berikan Alexander juga sudah diketahuinya, membuat Mica semakin depresi di buatkan.
Bagaimana seorang ayah tega, memanfaatkan masalah yang di hadapi putrinya untuk mendapatkan kekuasaan tanpa menoleh kearah putrinya yang sedang menderita. Di satu sisi Suami yang baru menikahinya, rela menggantikan adiknya untuk di penjara tanpa memikirkan hati Mica yang terluka.
Terlintas pertanyaan di benak Mica. Semua orang menganggap dirinya Apa? Tak ada kah mereka memikirkan tentang perasaannya saat ini. Mica pun merasa putus asa dan merasa semua orang yang ada di sekitarnya memang tak pernah tulus peduli padanya.
Mica yang mulai depresi nekat naik ke atap dek rumah sakit, untuk mengambil jalan pintas.
Bayu yang pertama mengetahui adiknya akan bunuh diri segera menghubungi keluarganya dah juga Gion untuk membantu menenangkan Mica, tak lupa mereka pun menghubungi petugas, untuk membantu.
Mica berdiri di ujung dek, membuat semua orang ketakutan.
"Mica apa yang kamu lakukan? Turun Mica kita selesaikan semuanya baik-baik. Ingat Mica, Ray sedang berjuang dan saat ini dia butuh dukungan mu. jangan nekat Mica, ayo turun sayang." Bujuk Bayu, Mica tak tak bergeming, ia hanya menitikkan air matanya.
Mica menatap langit mendung sekejap lalu menutup matanya kembali.
"Mica jangan nekat, Kita selesaikan semuanya baik-baik ya, pasti ada jalan keluarnya, Jangan lakukan ini Mica." Bujuk Gion dan perlahan mendekati Mica.
__ADS_1
"Jangan mendekat mas, atau aku akan terjun sekarang!" ucap Mica dan Gion pun langsung menghentikan langkahnya, padahal ia sudah dekat dengan Mica.
"Kenapa kamu mencegahku mas, Seharusnya kamu biarkan saja aku mati biar kamu tidak perlu repot-repot menghentikan adikmu itu di penjara. Lalu untuk apa kamu memutuskan menikahi ku jika kamu lebih membela adikmu. Apa kamu tak memikirkan perasaanku. Adikmu tanpa perasaan merenggut kesucian ku, membiarkan aku menanggung aib seorang diri dan harus melahirkan seorang anak. Lalu tiba-tiba dia muncul mengakui semua tanpa rasa bersalah, Apakah laki-laki seperti itu harus dimaafkan dengan mudah tanpa harus merasakan hukuman atas perbuatannya. Tapi kamu mas, Keputusanmu mengecewakan aku seketika, Dengan bersedia menggantikan posisinya untuk di penjara, Apa kamu tak memikirkan perasaanku." Pekik Mica, meluapkan semua yang ada di benaknya.
"Mana janji yang kamu kamu ucapkan padaku? dalam hitungan hari semua janjimu itu hilang seketika, Bagaimana aku bisa percaya lagi." ungkapnya. Gion pun akhirnya sadar dan merasa bersalah atas keputusan yang dia ambil, Gion merasa semua yang di katakan Mica benar dan dirinya yang salah.
"Maafkan aku Mica, aku salah. Seharusnya aku bisa memikirkan perasaanmu. Kamu adalah istriku, seharusnya aku bisa menjaga perasaanmu dan tidak memihak satu belah pihak saja. Turun ya sayang, kita bicara baik-baik. Aku janji tidak akan ikut campur lagi dengan masalah ini. Aku akan mendukung semua keputusanmu. Ayo sayang." Gion mengulurkan tangannya namun tetap saja di abaikan Mica yang sudah terlanjur sakit hati.
Tak selang berapa lama Alexander pun muncul bersama istrinya saat mendapatkan kabar putrinya ingin bunuh diri.
"Mica... Apa yang kamu lakukan nak, Jangan nekat." Teriak Diah histeris. Mica membalikkan tubuhnya dan menatap semua orang yang saat ini berada di atas dek dan berusaha membujuk Mica. Mica menatap wajah-wajah yang mencemaskan dirinya dengan dingin.
Mica mantap sang papa, memastikan Ucapan papanya sungguh-sungguh.
"Apa papa janji akan mengabulkan semua keinginanku, tanpa terkecuali?" tanya Mica meyakinkan.
"Apa kamu tidak lihat, aku berbicara di depan semua orang. Apakah itu masih kurang untuk menjadi saksinya. Sekarang katakan apa yang kamu inginkan?" Alexander tetap berusaha tenang, namun terlihat jelas dari sorot matanya ada kecemasan dan ketakutan jika Mica tetap berbuat nekat.
__ADS_1
Sebelum Mica mengungkapkan keinginannya, Mica kembali mengedarkan pandangannya dan melihat wajah-wajah tegang semua orang. Mata Mica langsung tertuju pada satu pria yang diam seribu bahasa yang merupakan pembawa petaka dalam kehidupan Mica. Zen yang seharusnya bertanggung jawab atas semua penderitaan Mica kini seperti pecundang.
"Pa, Apa papa masih menganggap ku anak?" tanya mica.
"Pertanyaan bodoh apa yang kamu ajukan Mica. Aku ini Papamu. Sampai kapanpun kamu itu tetap anakku, tidak ada bekas anak sampai kapanpun."
"Lalu kenapa papa mempermalukan aku layaknya aku ini seperti sebuah barang yang dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan. Apa papa tidak pernah memikirkan perasaanku, di saat aku dalam keadaan tertekan, papa malah memanfaatkan keadaan dengan memeras keluarga Morganion. Jika papa memang sayang padaku. papa tak akan melakukan itu, papa pasti akan lebih Memilih untuk membantu memulihkan mental ku, tapi yang ada malah sebaliknya. Jika papa ingin aku tidak terjun dari tempat ini. Hapus tuntutan papa, yang meminta pembagian saham. Aku tidak ingin punya papa yang serakah akan harta sampai mengabaikan anaknya sendiri."
"Mica coba pahami keputusan yang papa ambil, itu semua demi kebaikanmu dan masa depanmu. Papa sudah memikirkan ini semuanya dengan matang. Karena papa tidak yakin jik keluarga Morganion akan memperlakukan baik layaknya seorang menantu. Berkat kamu memiliki sebagian saham, mereka tidak akan memperlakukan kamu dengan semena-mena nantinya. Percayalah Mica. Apa yang papa lakukan untuk kebaikan kamu."
"Tapi bukan begini caranya pa, aku tidak mau menjadi objek untuk mendapatkan sesuatu. Aku mohon hapus tuntutan itu. Mereka tidak akan bisa memperlakukan ke tidak baik jika mereka tidak ingin putranya di penjara. Aku akan menghukumnya dengan caraku sendiri."
Karena terlalu lama berdiri di ujung dek lantai lima membuat kaki Mica gemetar di tambah terpaan angin yang kencang membuat tubuh Mica mulai goyang, namun Mica masih berusaha bertahan menunggu jawaban papanya.
"Baik-baiklah kalau itu keinginan mu. Papa akan mengabulkannya dan akan mencabut tuntutan yang sudah papa layangkan demi kamu. sekarang turunlah. Sekarang turunlah kita selesaikan baik-baik." Jawab Alexander dengan terpaksa, membuat Mica akhirnya bisa tersenyum. Namun saat hendak turun kaki Mica tiba-tiba tergelincir membuat semua orang histeris dan memanggil namanya.
To Be Continued ☺️☺️☺️☺️
__ADS_1
Maaf baru update 🙏 Author sedang sibuk. harap bisa di maklumi. Jangan lupa tinggalkan jejak dan juga hadiahnya ya.☺️