Single Mom Diusia Belia

Single Mom Diusia Belia
Part 9


__ADS_3

"Aku akan melepaskan mu, tapi dengan satu syarat." Ungkap Zen sambil memandangi wajah Mica.


"Lepaskan aku tuan, aku tidak ingin ada urusan denganmu. Aku juga tidak mau mengikuti syarat apapun, bagiku itu tidak penting." Jawab Mica, Malah membuat Zen semakin mempererat cengkraman nya.


"Lepaskan aku tuan." Mica pun meronta sekuat tenaga, namun tenaganya masih kalah dengan Zen, dan akhirnya Mica pun menyerah dan mengiyakan kemauan Zen.


"Baiklah, apa yang tuan ingin?" imbuh Mica yang sudah menyerah.


"Aku ingin mengajakmu makan malam, setelah selesai jam kerjamu."


"Hanya itu?" tanya Mica singkat. Padahal Mica sudah berpikir sesuatu yang negatif tentang Zen.


"Iya, kau pikir aku ingin apa?" tanya balik Zen.


"Tidak papa, baiklah tapi hanya sebentar saja ya tuan, karena jika terlalu lama ada seseorang yang menunggu di rumah setiap saat." jawab Mica.


Setelah mendapat tanggapan dari Mica, Zen segera melepaskan Mica namun masih berdiri di depannya. Zen memperhatikan Mica dari untuk rambut sampai ujung kaki tanpa berkedip begitu pun dengan Mica, entah kenapa sejak pertemuan tak sengaja itu membuat jantung Mica berdetak lebih kencang setiap bertemu dengan Zen.


"Mica apa kamu masih di luar?" Panggil Gion dari dalam.


"Kamu dengar itu, Majikan mu memanggil. Cepat pergi sana. Aku akan menunggumu nanti malam." Ucap Zen lalu pergi meninggalkan Mica seperti biasa.


"I-iya tuan saya ada di luar." Saut Mica dan segera kembali masuk ke kamar Gion.


Mica pun Segera mendorong kursi roda Gion menuju ke meja makan untuk sarapan bersama dengan keluarganya.


Setelah mengantarkan Gion ke meja makan, seperti biasa Mica akan menjauh sampai sang majikan selesai.


Namun kali ini Gion menahan tangan Mica saat hendak pergi," Mau kemana kamu?"


"Seperti biasa tuan, menunggu tuan di sana." jawab Mica sambil menunjuk ke ruang tamu.


"Duduk di sini kita sarapan sama-sama." Ajak Gion namun Mica menolaknya dan pergi.


Mendapat penolakan dari Mica seketika membuat Gion merajuk. Ia menghentikan sarapannya lalu pergi begitu saja. Beberapa kali Vika meneguk tak satu katapun kata yang keluar untuk menjawab.


Setelah selesai makan, Vika menghampiri Mica yang masih menunggu Gion yang dikiranya masih sarapan.

__ADS_1


"Mica, Antar kan sarapan untuk Gion di kamar." titah Vika.


"Bukannya tuan Gion sudah sarapan tadi." jawab Mica bingung.


"Tidak. Dia tidak jadi makan. Lain kali, jangan bantah perkataan Gion, apapun yang dikatakannya lakukan, jika tidak Gion akan mengamuk di kamar seperti sebelum-sebelumnya." jelas Vika membuat Mica merasa bersalah telah melakukannya tadi.


"Maafkan saya Nyonya. Saya benar-benar tidak tau."


"Tidak papa, tapi lain kali jangan di ulangi. Sana gih, bujuk Gion biar tidak marah lagi." Mica pun segera melakukan apa yang diperintahkan Vika.


Mica segera menyusul Gion ke kamar, namun baru saja ingin melangkahkan kaki masuk, Gion sudah mengusirnya.


"Keluar dari sini!" bentak Gion.


"Maafkan aku tuan, aku benar-benar gak ada maksud-"


"Cepat keluar dari sini. Aku tidak butuh penjelasan darimu." usir Gion sekali lagi, namun Mica tetap diam di tempat. Tak ingin pergi kemanapun sebelum mendapatkan maaf.


"Tidak aku tidak akan pergi, sampai tuan mau memaafkan aku. Tuan aku minta maaf, jika penolakan ku tadi sudah membuat tuan marah. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi, dan aku melakukan apapun yang tuan perintah." tutur Mica berharap ucapannya dapat menjadi pertimbangan Gion untuk memaafkannya.


"Apapun?!"


"Bagaimana kalau kamu menikah denganku. Apa kamu akan menyetujuinya?"


Deg..


Mata Mica membulat, saat mendengar kata yang keluar dari mulut Gion yang lolos begitu saja.


"Aku yakin kamu tidak akan mau kan. Jadi jangan pernah berjanji apapun kepadaku."


"B-bukan begitu tuan, bukankah tuan sudah bertunangan? bagaimana tuan mau menikahi ku?"


"Tau darimana kamu aku sudah tunangan?"


"Eeeemmm, dari nyonya tuan dan juga dari cincin yang melingkar di jari tuan." jawab Mica sambil menunjuk cincin yang melingkar di jari manis Gion.


"Aku tidak menginginkan pernikahan ini. Aku tidak menyukainya, pertemuan kami membuat aku yakin jika dia tidak bisa menerima kekuranganku, karena dengan terang-terangan dia menghina kelumpuhan ku." jawab Gion, sambil mengepalkan tangannya, menahan hinaan yang di berikan tunangannya.

__ADS_1


"Kenapa tuan tidak menolaknya? toh tuan masih bisa mencari sendiri, lagian kelumpuhan tuan juga tidak permanen." Saut Mica.


"Aku tidak bisa menolaknya."


"Kenapa?"


"Karena suatu alasan. Kalau begitu bantu aku menggagalkan pernikahan ini dengan kamu menikah denganku, hanya itu satu-satunya. Mica, maukah kamu menikah denganku. Aku tau mungkin ini terlalu cepat bagimu, tapi aku merasa hanya kamu wanita satu-satunya yang aku percaya." Gion meraih tangan Mica yang terpaku di ambang pintu. Mica merasa bersalah tidak jujur dengan Gion hingga akhirnya memberikan rasa benci dalam hatinya.


"Maaf pak aku tidak bisa." Mica menarik tangannya dari genggaman Gion.


"Beri aku alasan atas penolakan mu itu agar aku bisa menerimanya."


"Karena-."


"Katakan de-" sela Gion.


"Karena aku sudah punya anak." jawab Mica setengah berteriak sambil mere*mas bajunya. Ia pun memutuskan untuk jujur, setidaknya jika Gion benar-benar menikahi dirinya, nanti Gion sudah tau jika dirinya bukan lah seorang gadis yang suci dan tak perlu repot menjelaskannya lagi.


Seketika membuat Gion terdiam. Gion benar-benar shock mendengar ucapan Mica. Tak percaya gadis yang seumuran dengan adiknya itu ternyata sudah memiliki anak.


"Ka- kamu janda?" tanya Gion dengan tergagap karena masih shock. Namun Mica menggelengkan kepalanya.


"Lalu?!"


Tubuh Mica langsung merosot dan terduduk, ia pun menangis terisak, saat mengingat kembali tragedi yang menimpanya, yang menghancurkan masa mudanya .


Gion pun akhirnya paham, dah tak melanjutkan pertanyaannya. Gion pun merasa bersalah kerena keegoisannya malah membuka luka.


"Kenapa kamu gak bilang dari awal. Lalu dimana bayimu sekarang? kenapa kamu tinggalkan setiap pagi sampai petang. Bagaimana caramu membagi waktu untuk menjaganya?" tanya Gion yang masih rasa yang campur aduk antara penasaran dan juga kasihan.


Mica mendongak dan menatap wajah Gion yang tetap saja datar, walaupun perkataannya seperti orang iba pada dirinya.


"Aku terpaksa titipkan pada ibu. Mau bagaimana lagi, aku harus bekerja dan tak mungkin aku membawanya." jelas Mica.


"Mulai besok bawa anakmu kemari bersamamu. Kasian anakmu, seharusnya dia bisa mendapatkan kasih sayang sepanjang waktu," titah Gion. Membuat pemikiran Mica terhadap Gion seketika berubah. Mica benar-benar tak menyangka jika Gion akan mengatakan itu padanya. Padahal dari sikap dan tutur katanya, sepertinya Gion sangat membenci anak kecil.


Spontan Mica mengiyakan, Benar-benar sebuah kesempatan bisa bekerja sekaligus menjaga anaknya yang masih bayi, walaupun pekerjaannya akan bertambah setidaknya itu sudah bisa mengobati rasa lelahnya setiap saat.

__ADS_1


To be continued ☺️☺️☺️☺️


__ADS_2