
Sesuai jadwal bulanan, Mica membawa Ray untuk imunisasi rutin di salah satu klinik anak.
Sebelum berangkat, Mica menyiapkan keperluan Ray untuk berjaga-jaga jika di perlukan, seperti diaper, baju ganti dan Mpasi, karena mereka akan pergi ke rumah Alexander setelah selesai imunisasi.
"Mana tasnya, Biar aku bawakan?" Tanya Gion dan Mica pun langsung menyerahkannya. Sedangkan Mica sedang menggendong Raymond.
"Ma, Mica pergi dulu ya. Sekalian Mica sama mas Gion mau bermalam ke rumah orang tua Mica, mumpung besok hari Minggu." Pamit Mica kepada Vika.
"Iya sayang, pergilah. Sampaikan salam mama pada mereka, dan juga bilang maaf, mama dan papa disini belum sempat main ke sana." Ungkap Vika.
"Ma, Gion pergi dulu." Pamit Gion sebelum pergi.
Mereka pun segera meninggalkan rumah dan segera pergi menuju klinik anak untuk memantau perkembangan Ray selama satu bulan terakhir.
Bayi mungil yang kini sudah bisa berceloteh tak jelas dan bisa mengekspresikan suasana hatinya membuat Mica sebagai ibu muda, merasa bersyukur atas keputusannya mempertahankan bayinya daripada membuangnya, Bayi tak berdosa yang ingin lahir ke dunia ini akhirnya bisa merasakan kebahagiaan terlahir dari ibu yang memperjuangkan dirinya, ibu muda yang minim pengetahuan tentang parenting, membuat Mica seperti seorang kakak mengurus adiknya dengan banyak kesalahan
Sambil menyopir, Gion sesekali melirik istrinya yang tengah bercanda dengan anaknya, terkadang Gion pun ikut tersenyum bersama dengan kedua cintanya yang sedang bahagia.
"Berapa usia Ray sekarang? Aku selalu lupa dengan usainya." tanya Gion, seketika Mica menoleh sambil menyipitkan matanya.
"Butuh berapa puluh kali aku memberitahunya? usia Ray tujuh bulan sepuluh hari itu artinya aku masih harus memberinya ASI eksklusif selama kurang lebih satu tahun lagi dan selama itu aku tidak akan memberimu keturunan." Jelas Mica dengan tegas.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu, tapi setelah Ray sudah besar kamu harus memberiku tiga anak. Dua laki-laki dan satu perempuan. "
"Tiga! banyak sekali. Memangnya aku ini pabrik buat anak. Aku akan memberimu satu saja sudah cukup kan?"
"Tidak. Harus tiga. Karena satu sebagai hadiah buatku yang harus sabar menunggu untuk mendapatkan keturunan. Jangan kuatir, Ray akan tetap jadi anak pertamaku, dan apa yang akan di dapat anak kandungku Ray juga akan mendapatkan hak yang sama." jelas Gion.
"Jangan di pikirkan dulu, kamu fokus saja sekolahnya dan jangan lupa nanti konsultasi mengenai pengaman yang baik buat ibu menyusui, aku takutnya ada saatnya aku tidak bisa menahannya. Ah... tapi tenang saja, aku tidak akan terlalu sering. Aku akan sabar menunggu sampai kamu lulus sekolah baru nanti aku akan kerja keras." ungkap Gion sambil terus fokus mengemudi mobilnya, tak menghiraukan Mica yang melotot ke arahnya.
__ADS_1
"Apa artinya kau akan mengulanginya lagi? Tidak akan aku berikan, Caramu terlalu kasar." saut Mica sebelum akhirnya mereka sampai di klinik yang di tuju.
Gion pun memantu Mica untuk daftar dan mengambil nomor antrian, karena ada beberapa yang sudah menunggu antrian terlebih dahulu.
"Duduklah disini sambil menunggu antrian, aku ingin keluar mencari minuman. dan mungkin sedikit lebih lama. Hubungi aku kalau sudah selesai." Ucap Gion lalu pergi meninggalkan Mica yang duduk di bangku antrian.
Setelah menunggu antrian berapa saat, tiba juga giliran ray. Dokter langsung menimbang berat badan, lingkaran kepala, tinggi badan dan juga.
"Perkembangan putra ibu bagus dan ada kenaikan, terus dipertahankan ya Bu tumbuh kembang anaknya." ucap sang dokter.
"Iya dok. Oya dok saya ingin sedikit konsultasi mengenai alat kon**sepsi untuk saya yang masih menyusui, saya belum terlalu paham pilihannya dok?" ucap Mica.
"Apa ibu setelah melahirkan dan sampai sekarang belum menggunakan alat ko**sepsi? Padahal sudah di jelaskan, untuk segera menggunakan alat ko**sepsi enam Minggu setelah bersalin, untuk mencegah kehamilan kembali dan untuk memberi jarak kelahiran." jelas sang dokter.
"Belum pakai dok, setelah melahirkan dan sampai sekarang. Saya ingin menggunakannya karena sekarang saya sudah punya suami dan masih ingin menunda kehamilan dok." jelas Mica.
Setelah mendapatkan pertimbangan, Mica pun memutuskan untuk memilih pil laktasi.
'Aku harap keputusanku ini benar, menunda kehamilan lagi, sampai aku lulus dan juga membesarkan ray lebih dulu. Aku harap mas Gion bisa sabar menunggu waktu yang cukup lama, untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Maaf mas jika kamu harus menunggu.' Gumam Mica sambil berjalan keluar ruangan.
"Mica..."
Mica segera menoleh ke arah sumber suara dan ia benar-benar terkejut, melihat seorang pria dengan mengenakan jas putih sedang menatap dirinya.
Dia adalah dokter Max, dokter yang membantu Mica melahirkan saat itu. Dia juga sering memantau perkembangan masa kehamilan Mica.
"Apa kabar Mica." Sapanya lagi.
"Dokter Max. Akhirnya bisa bertemu dengan dokter lagi. Aku belum sempat mengucapkan terimakasih sama dokter. Terimakasih dok atas semua bantuan dokter. Kalau tidak ada dokter entah nasib putraku." ucap Mica.
__ADS_1
"Gak usah berterimakasih, sudah kewajiban ku membantu. Apa dia anakmu?" tanya Max sambil menunjuk ke arah Ray.
"Iya dia anakku." Max pun mendekati dan mengusap pipi Ray yang tertidur.
"Akhirnya dia tubuh dengan baik. Padahal waktu itu aku ingin bilang padamu untuk mengadopsinya dan juga ibunya. Emmm... Maksudku ingin membantu merawat anakmu" Jelas Max.
"Tidak perlu dok, Mica sudah ada yang menjaganya." Saut Gion yang tiba-tiba muncul dan meraih pinggang Mica.
"Kenalkan dok, saya suaminya Mica dan yang bertanggung jawab atas ibu dan anak ini." ucap Gion sambil mengulurkan tangannya.
"Oh, jadi kamu orangnya. Orang seperti kamu aku tidak yakin bisa bertanggung jawab. " Saut max tanpa membalas uluran tangan dari Gion.
"Apa maksudmu?"
"Sudah-sudah mas , jangan di lanjut. Terimakasih atas semuanya dok, sampai bertemu kembali. Ayo mas pergi." Mica pun segera menarik Gion keluar sebelum terjadi kesalahpahaman.
Menuju mobil, Gion terus menggerutu tentang ucapan max.
"Apa sih maksud nya. Aku ini laki-laki bertanggung jawab, dan cinta istri. Baru bertemu saja sudah berburuk sangka." gerutu Gion.
"Sudahlah mas, jangan diambil hati. Dia itu yang sudah membantuku melewati persalinan, dia berjasa besar padaku."
"Itu kan memang tugas dia. Dan gak perlu ikut campur urusan orang."
"Sudahlah mas, jangan marah. Ayo kita pergi ke rumah mama." Aja Mica agar Gion tidak larut dalam salah paham.
Mereka pun meninggalkan klinik dan segera menuju ke rumah Alexander untuk bermalam disana."
To be continued ☺️ ☺️☺️
__ADS_1