Single Mom Diusia Belia

Single Mom Diusia Belia
Dia anakku


__ADS_3

Setelah berjuang akhirnya Ray sudah bisa digunakan bawa pulang. Dokter sudah mengizinkannya setelah melewati beberapa tahap pemeriksaan Ray sudah membaik.


Kebahagiaan terpancar jelas di wajah Mica sebagai seorang ibu dan inilah kabar yang sedang ia tunggu-tunggu.


Namun di balik kebahagiaan yang baru ia rasakan, Mica lupa jika ia harus pergi ke rumah suaminya, Karena statusnya sebagai seorang istri dan itu artinya Mica akan terus bertemu dengan Zen yang lolos dari jerat hukum.


Seperti janji Vika sebelumnya, jika ia akan menyambut menantunya saat memasuki rumah mertuanya, namun semua terasa berbeda dan tak sama lagi.


"Selamat datang menantu pertama Morganion, mulai saat ini kita adalah keluarga." Sambut Vika, Mica hanya mengukir senyum paksa.


"Selamat datang kakak ipar." Ucap Zen tiba-tiba dan membawa sesuatu di dalam piring. Saat melihat Zen, Mica segera memalingkan wajahnya, luka di hatinya tak akan pernah bisa sembuh lagi, walaupun Zen ribuan kali meminta maaf.


Sikap yang di tunjukkan Mica, semua orang paham dan tidak ada yang menyalakan, namun tradisi juga tidak bisa di buang begitu saja.


Sebelum masuk Ke dalam rumah, anggota keluarga baru keluarga harus menerima suapan dari kakak maupun adik ipar, sebagai simbol jika mereka akan menjadi saudara dan akan ikut serta menjaga dan melindungi kehormatannya.


"Tidak aku tidak mau menerima suapan darinya, bahkan sebutir nasi pun aku tidak sudi." tolak Mica.


"Mica aku tau kamu sangat membencinya, tapi ini hanya menjalankan tradisi yang sudah turun temurun nak. Sekali ini saja, setelah itu mama tidak akan memohon lagi padamu lagi." bujuk Vika, membuat Mica pun akhirnya mengiyakan. Mau tidak mau Mica harus melakukannya, karena ia sudah memutuskan untuk masuk dalam keluarga Morganion dan mengurungkan niatnya untuk mengajukan perceraian.


Zen pun memberikan satu suapan dan Mica pun menerimanya walaupun di barengi dengan air bening yang keluar dari sudut matanya.


Gion yang melihat air mata yang membasahi pipi istrinya segera ia seka. Gion tidak ingin saat istrinya masuk dalam keluarganya dengan membawa kesedihan.


Mica pun di persilahkan masuk dan meminta Gion mengantarkan Ray ke kamar yang sudah di siapkan. Sebelumnya Vika dan Zen mendekorasi sendiri kamar Ray sebagai penyambutan namun ia tidak memberitahu Mica hal tersebut.


"Lihatlah Ray, kamarmu sangat indah. Papa harap kamu menyukainya," ucap Gion, bicara dengan Ray yang sudah di letakkan di box ranjang bayi.

__ADS_1


"Papa?!" ucap Mica penuh tanya saat mendengar Gion melontarkan kata Papa.di depan Ray.


"Iya Papa. Ray akan memanggilku Papa karena dia anakku juga. " Jelas Gion, membuat hati Mica terenyuh mendengar suaminya yang mau mengakui Ray sebagai anaknya, padahal jelas-jelas dia tau jika Ray adalah anak dari adiknya.


Aku harap mas Gion tulus menerima aku dan anakku dan menjadi tiang untuk keluarga kecilku. Mungkin ini memang sudah garis takdirku. Oh Tuhan, jadikanlah aku wanita yang kuat. Untuk melewati semua ini, Entah sampai kapan aku bisa memendam amarahku pada laki-laki brengsek itu, Aku tak tau apakah aku sanggup untuk menghukumnya.


"Kamu Kenapa?" tanya Gion menghampiri Mica yang tengah melamun.


"E-e gak papa mas, aku hanya penasaran saja dari kemarin-kemarin. Tentang reaksi orang tua mas saat tau kalau mas pura-pura lumpuh?" Mica pun mengalihkan pembicaraannya.


"Tentunya syok, tapi sudah aku jelaskan pada mereka dan mereka pun memaafkan kebohonganku. Jadi jangan kuatirkan apapun yang aku lakukan, aku tau m ngatasinnya."


****


Di lantai bawah, Zen memperhatikan Kamar Ray yang ada di lantai atas.


"Andai saja aku jujur lebih awal, hah. Apa yang bisa aku lakukan sekarang Ma, menyentuh anakku saja aku tidak di izinkan. Bagaimana aku bisa memberikan perhatianku pada anakku ma?"


"Terserah bagaimana caramu, asal jangan merusak kebahagiaan Gion. Astaga mama benar-benar gak menyangka hal seperti ini bisa menimpa anak-anak mama. Kamu yang menanamkan benihnya dan sekarang Zion yang memanen hasilnya. Sungguh memalukan dan bikin kepala mama pusing." Vika pun berlalu meninggalkan Zen yang sudah membuat malu keluarga.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menggunakan caraku sendiri untuk membahagiakan Ray. Dia anakku dan sampai kapanpun dia akan mengakui aku sebagai ayahnya." Zen pun segera pergi sebelum Mica keluar dan melihat apa yang ia lakukan.


****


Malam pun tiba, mau tidak mau Mica harus turun dan makan malam bersama keluarga barunya.


"Duduklah, Kita makan malam dulu. " ucap Gion saat menarik kursi agar Mica bisa duduk.

__ADS_1


"Terimakasih mas." Mica pun duduk di samping Gion, tepatnya berhadapan dengan Zen.


Saat Gion ingin melayani istrinya, Mica lebih dulu melakukannya. Mengisi piring kosong Gion dengan menu makanan yang ia sukai.


"Ternyata kamu tidak lupa?"


"Bagaimana aku bisa lupa, setiap hari aku melayani mu, hanya saja status yang berbeda dulu aku pelayanmu dan sekarang aku istrimu, Benar kan." jawab Mica, seraya mengukir senyum dengan paksa, ia ingin membuat Zen merasakan sebuah penyesalan telah menghancurkan hidupnya yang kini dia tidak bisa memiliki dirinya dan juga anaknya.


Mereka sekeluarga pun makan malam bersama, tak ada perbincangan selama makan , hanya suara sendok yang beradu dengan piring.


Setelah selesai makan malam, Morgan sebagai kepala rumah tangga pun membuka pembicaraan.


"Gion, Mica. Papa ingin bicara serius dengan kalian. Mungkin bagi kalian ini terlalu cepat, tapi bagi kami lebih cepat itu lebih baik. Papa dan mama sudah berdiskusi. Papa meminta kalian untuk segera merencanakan program hamil, agar bisa segera menambah cucu dalam keluarga ini." Ucap Morgan membuat Mica langsung tersedak.


"Maaf pa, tapi Mas Gion memintaku untuk mengejar pendidikan ku yang tertunda." Jawab Mica.


"Iya papa tau, tapi tidak ada salahnya kan sekolah sambil program. Siapa tau setelah lulus kalian segera punya momongan lagi." jawab Morgan dengan entengnya.


"Tapi pa-" sela Mica,


"Jangan membantah. Ini permintaan bukan perintah."


"Turuti saja Mica, Papa jarang sekali meminta sesuatu, dan saat ini dia memintanya, turuti saja ya." saut Vika.


Mica tak bisa berkata-kata lagi. Bahkan Gion pun tak mau membantu dirinya untuk melawan keinginan Morgan dan Gion Sepertinya menyetujui keinginan papanya itu.


To Be Continued ☺️☺️☺️☺️

__ADS_1


__ADS_2