
Saat Mica keluar dari kamar mandi, untuk membersihkan diri setelah seharian mengenakan kebaya dan juga makeup yang membuatnya sedikit tak nyaman. Ia tiba-tiba menyadari ada Gion di kamar namun kursi roda yang biasa di pakainya masih ada membuat Mica menjadi panik.
"Tuan..., tuan Gion, tuan ada di mana?" panggil Mica seraya mencari di sekitar kamar. Sangking paniknya sampai terbesit dalam pikiran kalau Gion ada di bawah kolong ranjang.
"Tuan, jangan main petak umpet di bawah kolong. Gak lucu tuan. Jangan buat aku takut." kata Mica pelan seraya menilik di bawah kolong.
"Apa yang kamu cari dibawah kolong?" tanyanya tiba-tiba membuat Mica terkejut. Mica segera menoleh ke sumber suara dan mendapati sepasang kaki yang beralaskan sandal, berlahan mata Mica menyusuri dari ujung kaki lalu terus naik ke atas terus ke atas dan akhirnya melihat wajah pria yang tak asing tengah berdiri di depan dirinya yang tengah tengkurap di lantai.
"Aaauuuhhhh... "tubuh Mica secara spontan ingin berbalik namun malah terbentur ranjang yang ada di sampingnya.
"Hati-hati, sini biar aku bantu." Gion pun membantu Mica untuk berdiri. Mica yang masih tak percaya berulang kali mengucek matanya dan berulang kali memperhatikan tubuh Gion yang berdiri tegak.
"Tuan tolong cubit pipiku, apa aku masih sadar." ucap Mica. Gion menaikan alisnya sebelah lalu mencium pipi Mica.
Mata Mica langsung terbelalak dan memegangi pipinya bekas ciuman suaminya.
"Kok di cium?" protes Mica.
"Mana mungkin aku mencubit mu. Kamu masih sadar dan apa yang kamu lihat sekarang ini nyata. Inilah yang ingin aku lihatkan padamu tadi, Kalau sebenarnya aku tidak lumpuh, aku sengaja pura-pura lumpuh untuk mencari wanita yang mau menerima segala kekuranganku dan sekarang jatuhnya pada gadis belia, yaitu kamu." Jelas Gion.
Mica masih tak percaya, dan lidahnya masih kelu untuk berkata-kata. Perasaannya campur aduk antara senang dan juga kesal atas kebohongan yang di lakukan Gion.
"A-aku pikir tadi yang ingin tuan perlihatkan, Eeemmm, itu." ucap Mica dengan polosnya.
"Terlalu mesum." Gion menonyor kening Mica pelan.
Gion yang sudah merasa lelah berdiri segera merebahkan tubuhnya di atas kasur yang masih bertaburan bunga mawar di atasnya.
"Kenapa masih berdiri di situ? Apa gak capek. Kemarilah aku ingi memberitahumu sesuatu." Panggil Gion sambil menepuk lengannya agar Mica mau merebahkan kepalanya di lengannya.
Dengan malu-malu, Mica pun naik ke atas ranjang dan perlahan merebahkan tubuhnya di samping Gion. Segera saja aroma tubuh khas laki-laki menyeruak dalam hidung, aromanya benar-benar khas, membuat Mica merasa nyaman.
"Apa kamu ingin tau alasanku pura-pura lumpuh sebenarnya dan alasanku memilihmu sebagai istriku?" tanya Gion dan Mica segera mengangguk.
__ADS_1
"Tapi sebelumnya aku minta tolong jangan panggil aku tuan, karena sekarang bukan antara majikan dan pelayan, tapi antara Suami dan istri."
"Lalu aku harus panggil apa ? Bagaimana kalau Mas aja, itu panggilan yang sering di gunakan pasangan suami istri 'kan."
"Panggil mas juga gak papa, yang penting jangan tuan. Mica, bagaimana perasaanmu setelah menikah denganku?" tanya Gion membuat Mica langsung memalingkan wajahnya, hal tersebut membuat Gion sedikit kecewa namun segera di tepisnya dengan senyuman.
"Gak papa kalau belum bisa menerimaku, aku akan menunggumu." ucap Gion berusaha berlapang dada. Karena Gion sudah memutuskan untuk melabuhkan hatinya untuk Mica, itu artinya dia harus siap menunggu cinta tumbuh di hati istrinya.
"Eeemmm aku lapar, bisakah kita cari makan di luar?" Ajak Mica.
"Mas kan sekarang bisa jalan sendiri gak perlu menggunakan kursi roda, jadi kita bisa jalan sama-sama." Imbuh Mica.
"Tapi, bukannya malam ini."
"Kan malam besok-besok dan besoknya lagi masih ada." saut Mica.
"Hah, Ya sudahlah, pakai sweaternya, di luar udaranya dingin." Gion pun tak dapat memaksa walaupun ingin, tapi dia harus memilih menuruti kemauan Istrinya.
Mereka pun pergi keluar dengan berjalan kaki, menuju rumah makan yang hanya berjarak seratus meter dari hotel.
"Mas kenapa tega membohongi kami semua dengan pura-pura lumpuh, apa itu ada manfaatnya? " Tanya Mica penasaran.
"Kalau tidak ada gunanya, buat apa aku bohong dan menyiksa diri sendiri." jawab singkat Gion.
"Bukan begitu maksudku? alasan yang lebih logis lagi selain untuk mencari istri, Soalnya mama pernah bilang kalau aku berhasil membujukku untuk operasi, aku akan dapat imbalan."
"Benarkah? Eemm, sebenarnya aku melakukan ini semua sebagai penebus rasa bersalahku yang tidak bisa menyelamatkan adikku yang meninggal di depan mataku sendiri. Kecelakaan yang menimpa kami dua tahun lalu mengakibatkan adikku meninggal di tempat sedangkan aku masih selamat, karena rasa bersalahku itulah yang membuatku melakukan itu." jelas Gion.
Ditengah makan malam mereka, ponsel Mica berdering dan terpampang nama mama di layar ponsel milik Mica.
"Mas, mama menghubungiku. " ucap Mica.
"Angkat aja, siapa tau ada hal penting." ucap Gion dan Mica mengangguk dan segera mengangkat panggilan telepon dari mamanya.
__ADS_1
📱
"Iya ma, ada apa?" tanya Mica.
"Mica, kamu harus ke rumah sakit sekarang. Ray nak-"
"Ray kenapa ma?" tanya Mica tegang.
"Ray, tiba-tiba demam dan tubuhnya lemas, tidak ada daya, mama takut terjadi sesuatu padanya. Cepat ke rumah sakit sekarang. Mama sudah hampir sampai rumah sakit." Jelas Diah dalam kepanikan.
"Mas ayo kita ke rumah sakit, Ray kritis mas." Ajak Mica dalam kepanikan. Mereka pun segera pergi ke rumah sakit untuk menyusul Ray.
Sepanjang perjalanan Mica tak henti-hentinya menangis dan berdoa agar tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada anaknya.
"Bertahanlah nak, mama sebentar lagi sampai." gumam Mica dalam kepanikan.
Akhirnya keduanya pun sampai ke rumah sakit dan segera mencari keberadaan Diah yang tengah menunggu Ray.
"Ma... panggil Mica." lalu berlari memeluk mamanya.
"Bagaimana keadaan Ray ma, dia gak papa kan?" tanya Mica mendesak.
"Dokter masih menangi Ray dan belum keluar sampai sekarang." ucap Diah, membuat hati Mica sebagai ibunya langsung runtuh. Tangis Mica pun kembali pecah.
Gion yang ada di sampingnya hanya bisa menguatkan Mica sampai dokter yang menangani Ray keluar dari ruang gawat darurat.
Tak lama salah satu perawat keluar untuk menemui keluarga pasien.
" Pasien membutuhkan transfusi darah dari ayah kandungnya. Tolong ayahnya segera mendonorkan darahnya secepatnya." Ucap perawat.
Bagai disambar petir di siang bolong, saat Mica mendengar ucapan sang perawat, jika anaknya sedang membutuhkan transfusi darah dari ayah kandungnya.
Penyakit apa yang di derita Ray? dah kira-kira ayah nya mau mendonorkan darahnya tidak ya? jangan lupa tinggalkan komentar ya☺️
__ADS_1
To be continued ☺️☺️☺️