
Seminggu sudah berlalu, Mica perlahan sudah bisa menerima Gion sebagai suaminya. Sikap Gion yang seperti kakak membuat Mica merasa nyaman di sampingnya.
"Mas, hari ini bisa antar ke rumah mama gak, sekalian mas berangkat kerja?" tanya Mica seraya membantu Gion mengenakan dasinya.
"Sekarang?" tanya Gion lalu melirik jam di tangannya. "Kalau sekarang gak bisa, tempat kerjaku dan rumah mama berbeda, kecuali kalau mau nunggu pulang kerja, mungkin jam tiga baru pulang, soalnya hari ini aku harus mengajar beberapa kelas." Jelas Gion.
"Kalau gitu aku ikut boleh? Kan Ray sekarang di jaga ibu, jadi aku bisa tenang dan aku juga
sudah menyimpan stok ASI di kulkas." Jelas Mica.
Walaupun kini Mica sudah menjadi istri sekaligus ibu, namun sikap Mica masihlah sama seperti anak-anak yang belum bisa dewasa sepenuhnya. Mica didewasakan oleh keadaan yang membuat?nya terpaksa seperti wanita dewasa.
"Ikut?! Aku mengajar lho, bukan di kantor, nanti kamu bisa bosan saat aku mengajar di kelas."
"Gak papa, pokoknya aku tetap ikut. Kan sebentar lagi aku juga sekolah di sana, jadi biar sekalian pengenalan." bujuk Mica untuk tetap ikut.
"Mas ngajar di sekolah ini?" tanya Mica saat Gion memarkirkan mobilnya.
"Iya, aku mengajar bidang studi yang jarang anak sekolah sukai, yaitu Matematika, dan aku rasa kamu juga tida menyukainya. Tapi setelah kamu masuk sekolah nanti aku akan memaksamu untuk menyukainya.
"Baiklah kalau begitu, tapi cukup sekali ini, dan kamu bisa kembali ikut setelah kamu sekolah nanti." jawab Gion sambil mencubit hidung mica.
Gion pun akhirnya membawa Mica ke salah satu sekolah dimana tempat Gion mengajar. Alasan Gion memilih menjadi guru, karena itu cita-citanya sejak duduk di bangku sekolah, padahal ia bisa bekerja di kantor perusahaan papanya namun Gion enggan, ia memilih untuk menikmati pekerjaannya di sekolah swasta ya walaupun itu juga milik papanya.
"Mas ngajar di sini?" tanya Mica saat Gion memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
"Iya dan ini juga nantinya akan menjadi sekolahmu. Ayo turun, sebentar lagi jam belajar akan di mulai. kamu boleh main di sekitar sini saja jangan keluar gerbang, nanti aku susah mencari mu."
"Siap bos. Mas duluan aja, nanti aku nyusul. Aku mau ke kantin dulu, sudah lama aku gak pernah makan di kantin."
Gion pun meninggalkan Mica dan segera menuju ruang kantor, sedangkan Mica memilih untuk ke kantin membeli jajanan yang dulu ia sukai dan berharap di kantin tersebut juga tersedia.
"Bu pesan jus jeruknya satu ya." pesan Mica sambil mengambil beberapa kue untuk cemilan.
Mica duduk paling ujung dan bisa menyaksikan langsung area lapangan.
"Ini jusnya neng. Neng dari mana, kok ibu baru ngeliat neng?" tanya Bu Indah, pemilik kantin.
"Makasih Bu. Iya saya hanya ikut salah satu guru di sini dan sengaja ingin main kesini saja." Jelas Mica.
Mica tetap menunggu di kantin sampai jam istirahat, dan segera saja saat istirahat semua anak-anak pergi ke kantin.
"Apa aku boleh duduk di sini?" tanya seseorang dan mica hanya mengangguk tanpa menoleh.
Seorang gadis berambut pendek kini duduk di sebelahnya.
"Kamu dari mana? kok aku baru liat kamu?" Tanya gadis tersebut yang bernama Renata.
Mica tak menjawab dan banyak berdiam diri sampai akhirnya satu persatu kembali ke kelas.
"Apa kamu tidak bosan duduk di sini dari pagi sampai siang begini?" tanya Gion mengejutkan, membuat Mica terkesiap.
__ADS_1
"Bosan, tapi apa boleh buat, aku gak mau buat masalah atau memunculkan masalah lagi. Aku duduk di sini saja, sudah beberapa kali di tanyain." jawab Mica.
"Bu buatkan menu favorit di kantin ini ya satu." Pesan Gion.
"Mas mau makan? ini kan baru jam 10 dan tadi mas kan sudah sarapan di rumah?" tanya Mica.
"Bukan aku yang akan makan, tapi kamu. Aku harus pastikan kalau kamu gak akan kelaparan menungguku beberapa jam kedepan. " jawab Gion.
Tak lama menu favorit pun di antar ke hadapan Mica.
"Ini siapanya pak Gion?" tanya Bu indah.
"Ibu mau tau saja, dia-"
"Saya adiknya pak Gion Bu, jadi ibu jangan berprasangka yang tidak-tidak." Saut Mica, membuat Gion hanya menaikan alisnya sebelah.
"Oh, adik. Gak tau saya kalau pak Gion punya adik. Ya sudah kalau begitu, keinginan Tahuan saya sudah terjawab." Bu indah pun segera pergi meninggalkan mereka.
"Kenapa kamu bilang adik?"
"Lalu terus suruh bilang istri? gak mungkin lah, masa mau sekolah lagi tapi sudah nikah dengan gurunya sendiri, yang ada nanti aku jadi bahan perundangan dari murid-murid yang ada disini." Jelas Mica.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang makanlah, lima belas menit lagi aku harus kembali mengajar. Aku ingin pastikan kamu makan dengan benar dan kembali menungguku sampai jam sekolah selesai." Gion pun mengawasi Mica menyantap makanan yang sudah di pesankan Gion dan setelah selesai, Gion pun segera meninggalkan Mica, tak lupa Gion mencium pucuk rambut Mica sebelum pergi, membuat ibu kantin kembali menaruh curiga.
To Be Continued ☺️☺️☺️
__ADS_1