Single Mom Diusia Belia

Single Mom Diusia Belia
Bab 38


__ADS_3

Setelah di rawat dua Mica pun akhirnya bisa pulang untuk bertemu dengan anaknya, namun disisi lain Mica masih cemas dengan hasil pemeriksaan yang ia lakukan.


"Gion bawa istrimu ke kamar biar istirahat." perintah Vika.


"Tapi ma, aku ingin bertemu Ray. Aku sudah dua hari istirahat ma. " jawab Mica.


"Kamu harus menurut. Ini demi kebaikanmu juga. Lihatlah wajahmu saja masih pucat."


"Tapi ma-" Mica pun yang kesal, segera berlari ke kamar karena tidak bisa melawan.


Mica tengkurap di atas ranjang, dan menangis terisak di bawah bantal. Ia benar-benar kecewa dengan sikap ibu mertuanya yang tiba-tiba berubah dan seakan mengekang dirinya.


"Mica..." panggil Gion.


"Jangan ganggu aku! Aku masih ingin menangis." saut Mica dari balik bantal.


"Baiklah, kita bicara setelah kamu selesai menangis. Nanti kalau selesai jangan lupa beritahu aku. Aku juga ingin istirahat." jawab Gion.


Mica menghentikan tangisnya, lalu merangkak menghampiri Gion yang sedang merebahkan tubuhnya. Mica kembali menangis di dada suaminya, melampiaskan kekesalannya.


"Kenapa menangis? apa kamu marah dengan mama? Ambil sisi positifnya, mama melakukan itu untuk kebaikanmu. Setelah kamu istirahat kan kamu bisa bertemu dengan Ray lagi." ucap Gion mencoba menjelaskan maksud dari mama Vika.


"Aku berusaha untuk cepat sembuh karena aku ingin melihat anakku, masa mama gak paham sebagai seorang ibu. Bagiku bertemu Ray adalah obat mujarab yang bisa membuatku lebih cepat sehat." jelas Mica sambil terisak.


"Sudah jangan menangis lagi, nanti biar aku bicara dengan mama. Hapus air matamu dan Istirahat saja dulu" Gion pun mengusap rambut Mica dan mengecup keningnya. Mica pun menurut dan segera tidur.

__ADS_1


Namun ternyata tidurnya hanyalah pura-pura, saat Gion terlelap tidur, Mica pelan-pelan turun dari ranjang untuk pergi ke kamar Ray dan memastikan jika mama mertuanya juga sedang istirahat.


Mica mengendap pergi ke kamar Ray, saat masuk Mica mendapati Ray baru saja bangun dari tidur dan sedang berdiri di box ranjang.


"Ma-ma." Panggil Ray, membuat Mica terharu dan langsung mengangkat tubuh mungilnya dan membawanya dalam dekapan.


'Maafkan mama, nak akhir-akhir ini jarang menghabiskan waktu denganmu. Mama janji setelah mama selesai ujian, mama akan menghabiskan sepanjang waktu denganmu. Maafkan mama yang belum bisa merawat mu dengan baik.' ucap Mica dalam hati sambil menyusui Ray.


Tanpa sepengetahuan siapapun, Mica membawa Ray keluar apartemen untuk menghirup udara di luar, tak perduli jika kama mertuanya marah padanya.


Mica meletakkan Ray dalam stroller dan mengajaknya berkeliling taman yang tak jauh dari apartemen dan mengabaikan keadaannya yang belum benar-benar pulih.


"Apa kamu suka jalan-jalan Ray? mama yakin kamu pasti bosan di rumah terus. Maaf ya sayang, mama jarang ada waktu membawamu jalan-jalan. Tapi kalau kamu suka mama akan menyempatkan waktu untuk mengajakmu jalan-jalan. " ucap Mica sambil terus mendorong stroller.


Di dalam Ray memperhatikan apa yang bisa ia lihat dengan begitu serius keingintaunya membuatnya jarang berkedip.


"Ngapain kami ada sui sini? seharusnya kamu pergi bersama indah."Saut Mica.


"Izinkan aku menggendong anakku Mica, aku merindukannya." pinta Zen dan mendekati Ray yang ada dalam stroller.


Belum sempat Mica menjawab, Ray sudah berada dalam kendongan Zen.


"Apa yang kamu lakukan? letakkan kembali ray!" tegur Mica.


"biarkan aku menggendongnya sebentar Mica, aku ini ayahnya aku punya hak." Jawab Zen membuat Mica tak bisa berkata apa-apa lagi dan tak mungkin Mica akan menjauhkan Ray dari ayah kandungnya untuk selamanya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi sebener saja."


"Baiklah. Ayo kita duduk di bangku sana yang lebih teduh. "Ajak Zen dan mereka pun duduk di salah satu bangku taman yang ada di bawah pohon.


Zen nampak begitu bahagia, menimang anaknya yang selalu membuatnya rindu. bahkan kehadiran Ray mampu merubah hidup Zen, saat merasa dirinya sudah menjadi seorang ayah.


Tak pernah lagi mabuk-mabukan, bekerja lebih giat lagi dan selalu pulang tepat waktu, semata-mata agar terbiasa saat Ray kelak sudah besar, bisa melihat ayahnya yang memiliki sikap baik.


"Katakan padaku, Ray lebih mirip siapa? aku atau kamu? jawab jujur." tanya Zen.


"Jujur dia lebih mirip denganmu." jawab Mica.


"Tapi mata dan bibirnya sangat mirip denganmu. Andai aku tidak terlambat, mungkin aku akan bisa sebahagia ini. Memiliki dua malaikat di sampingku, tapi sayangnya semua terlambat."


"Apa maksudmu? aku membiarkan kamu dekat dengan Ray bukan berarti aku memaafkan kamu. Aku hanya tidak ingin menjadi ibu yang jahat. Ray punya hak untuk mengenalmu sebagai ayahnya. " ucap Mica dengan tegas membuat Zen tersenyum.


"Iya aku tau, Karena memang aku yang salah. Aku sudah siap menghadapi kebencianmu. Tapi selama kamu membiarkan aku bertemu dengan ray, aku tidak akan memaksamu memaafkan aku."


"Kembaliy Ray, aku harus pulang sekarang, aku sudah terlalu lama membawanya keluar." pinta Mica.


"Tunggu sebentar lagi, aku masih merindukan anakku."


"Tidak bisa, nanti mama marah."


"Ya baiklah."Zen pun mengembalikan Ray ke dalam stroller.

__ADS_1


"Aku harus pergi sekarang." Dengan buru-buru Mica pun meninggalkan Zen dan kembali ke apartemen.


To Be continued ☺️☺️


__ADS_2