
"Mau kemana kalian?" tanya Vika saat Gion membawa dua koper turun ke lantai bawah bersama Mica, dan bu Sekar yang sedang menggendong Ray.
"Aku sudah memutuskan untuk membawa istri dan anakku pindah rumah." Jawab Gion.
"Apa?! pindah. Kenapa kalian tidak membicarakannya dulu kepada kami sebagai orang tua. Tidak mama tidak izinkan kalian keluar dari rumah ini." larang Vika.
"Mama tidak bisa melarang kami. Inilah alasanku kenapa tidak memberitahu mama lebih dulu, karena aku tau mama pasti akan melarang. Biarkan kami pergi kami pergi ma. Kami ingin membina rumah kecil kami." Bujuk Gion,
"Biarkan mereka pergi. Biarkan mereka belajar hidup mandiri. Kamu tidak bisa mencegahnya ma." saut Morgan sang papa, membuat istrinya tercengang. Mama Vika berfikir suaminya akan ikut serta melarangnya namun nyatanya justru sebaliknya Morgan suaminya mengizinkan Gion pergi.
Sebelumnya Gion bercerita dengan papanya, masalah hubungannya dengan Mica, Sang papa memberi saran pada Gion untuk mencoba tinggal terpisah dengan orang tuanya, tujuannya agar Gion bisa menjadi suami yang benar-benar di butuhkan seorang istri. Dengan membawa Mica pergi secara tidak langsung Mica akan terus bergantung pada Gion dan melupakan kebencian dan juga perasaan yang masih labil, Berkat saran sang papa Gion pun menyetujuinya dan memutuskan untuk membawa Mica ke apartemen miliknya.
"Pa, kenapa papa malah membiarkan mereka pergi. Seharusnya papa tahan dong. Mereka mau membawa cucu kita, lalu bagaimana kalau mama rindu pada Ray. " Saut Vika kesal.
"Mama bisa datang ke apartemen tau kami bisa bermalam di sini setiap malam Minggu bergilir dengan rumah mertua." Jawab Gion, menenangkan mama Vika.
"Tapi-, Aah sudahlah. Terserah kalian mau mau pergi kemana, tapi setiap mama ingin bertemu cucu mama, tidak ada alasan apapun kalian harus membawanya kemari." Vika pun pasrah, sekeras apapun dia menahan tak mungkin bisa.
"Iya ma." Mica lemah. Mica tak terlalu banyak bicara. Ia takut jika dirinya salah bicara dan membuat kacau.
Gion membawa Mica dan bu Sekar ke sebuah apartemen. Dulunya apartemen tersebut sengaja dia beli untuk menjadi tempat tinggal keluarga kecilnya bersama seorang wanita yang sudah meninggalkan dirinya demi karier dan sejak saat itu Gion tak pernah membuka hati untuk wanita lain. Tapi entah kenapa hatinya malah berlabuh pada gadis belia yang kini menjadi istrinya.
"Mulai sekarang kita akan tinggal di sini dan mulai sekarang kamu akan belajar menjadi seorang istri dan ibu yang lebih baik dan aku pinta tolong jangan terlalu bergantung pada itu. kamu lihat kan ibu akhir -akhir ini kesehatannya menurun."
__ADS_1
"Iya mas" jawab sambil mengangguk.
Sampai malam mereka sibuk menata ulang apartemen agar terlihat lebih nyaman, apa lagi ada anak kecil yang mulai aktif merangkak.
Baru saja selesai berbenah dan hendak istirahat, Mica mendengar ibu angkatnya sedang batuk terus menerus di kamarnya.
"Bu, ibu gak papa?" tanya Mica sambil melangkah masuk ke dalam. Mica pun duduk di samping ibunya di sisi ranjang.
"Apa ibu lelah?"
"Sepertinya begitu, Nak. Ibu sudah tua. Ibu pengen pulang ke kampung halaman, menjenguk malam bapakmu. Tapi ibu kepikiran kamu dan Ray, jika ibu pergi bagaimana dengan kalian." Jelas Sekar.
"Apa ibu rindu bapak? Jangan pikirkan aku sama Ray, ada mas Gion sekarang yang menjagaku. Aku gak mau menjadi beban ibu, karena aku menjagaku, ibu selalu mengulur waktu untuk pulang kampung . Maafkan aku ya Bu."
"Rahasia? apa yang ibu sembunyikan? katakan padaku. Jangan membuatku penasaran Bu." desak Mica.
"Sebenarnya-" Belum sempat Sekar bercerita, Gion sudah memanggil dan dengan terpaksa Mica harus menemui suaminya.
"Pergilah, suamimu memanggil. Ibu akan ceritakan besok saja ya."
"Ibu janji ya, ceritakan semuanya sama Mica dan jangan ada kebohongan di antara ibu dan anak. Aku sayang ibu." Ucap Mica lalu mencium pipi ibunya dan segera pergi dari kamar Sekar.
Mica bergegas menghampiri Gion yang sedang membutuhkan bantuannya.
__ADS_1
"Ia mas ada apa memanggilku?" tanya Mica.
"Bisakah belikan aku Kopi. Aku mau buat, tapi gak ada gula ataupun kopi di sini." ucap Gion.
"Tentu saja tidak ada. Kita kan belum belanja. Baiklah aku keluar dulu. Mas jaga Ray kalau dia bangun langsung angkat aja. Jangan bangunkan ibu."
"Siap nyonya, cepat pergi gih."
Mica pun bergegas pergi untuk membeli kopi yang di salah satu kedai yang tak jauh dari apartemen.
Sepanjang langkahnya, Mica memikirkan rahasia yang ibunya sembunyikan sampai ia tak menyadari orang lain berjalan berlawanan arah dengannya hingga membuat keduanya bertabrakan.
"Aaarrgggghhhh. Maafkan aku. Maaf aku tidak melihat. " ucap Mica buru-buru minta maaf sebelum disalahkan, karena merasa memang dirinya salah.
Seseorang yang tak sengaja di tabrak Mica, menatap mica dengan dingin dan tak mengeluarkan sepatah katapun.
To Be Continued ☺️☺️☺️
[ Halo semuanya, tes pembaca setia nie. Kira-kira masih ada yang nungguin gak nie. he...he... Kalau ada tinggalkan jejak ya.
🙏🙏Maaf banget author lambat gak update. karena fokus dulu di karya misi kepenulisan. Jangan lupa mampir ya. Judulnya MENANTU HINA MENJADI PENGUASA.]
__ADS_1