
Setelah perjalanan bisnis, Zen pun kembali, namun ia di buat bingung karena suasana rumah yang tak seperti biasanya.
"Mau ada acara apa ini ma?" tanya Zen.
"Maaf mama gak kasih tau kamu. Besok kan kakakmu Gion akan menikah dan ini lagi sibuk untuk persiapan ke sana." Jawab Vika sambil terus menyiapkan barang yang akan dibawa nantinya.
"Kesana mana? bukannya Gion ingin membatalkan tunggangan?" tanya Zen masih bingung dan duduk di samping Vika.
"Sebenarnya ada kejadian di luar dugaan Zen dan ternyata selama ini kakakmu sudah punya anak yang dia rahasiakan selama ini. Dan apa kamu tau siapa wanitanya. Dia itu Mica pelayanannya Gion." jelas Vika, mendengar nama Mica Zen menjadi syok padahal Zen berencana untuk jujur dan akan bertanggung jawab untuk menikahinya. Tapi sekarang dia malah mendapat kabar jika kakaknya yang akan menikahi Mica.
Zen langsung bangkit berdiri, dengan pikiran kacau, bingung apa yang harus ia lakukan dua pilihan pun sangat sulit untuk Zen pilih.
Zen memutuskan untuk menemui Gion dan menanyakan langsung padanya.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Zen saat membuka kamar Gion dan mendapati Gion sedang memandangi luar jendela.
"Masuklah. "Jawab Gion lalu ia memutar kursi rodanya untuk menghampiri Zen.
"Ada apa Zen?"
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar ingin menikahi Mica? Apa kamu benar-benar menerima anak yang dimiliki Mica?" tanya Zen membuat Gion hanya menaikan alisnya sebelah.
"Bagaimana kamu tau Mica sudah punya anak? Apa mama yang memberitahu?" tanya Gion namun Zen menggeleng.
"Lalu, tau darimana kamu?"
"A-aku, A-ku tau, Eeemmm karena Mica memberitahu sebelumnya. Makanya aku terkejut saat kamu mau menikah dengannya. Bukankah kamu sudah tunangan?"
"Oh, jadi dia sudah memberitahumu lebih dulu sebelum aku."
"Bukan begitu Gion, jangan salah paham. "
"Apa kamu benar-benar akan mencintai Mica dan Ray setelah menikah?"
"Kenapa kamu bertanya begitu, seolah kamu takut aku tidak bisa membahagiakan mereka. Sebenarnya ada apa Zen apa yang kamu sembunyikan. Apa kamu juga memiliki hubungan dengan Mica atau jangan-jangan-"
"Jangan-jangan apa? aku hanya tidak mau kamu menyesal setelah menikahinya, jarak usia kalian terlampau jauh. Kamu hampir kepala tiga dan dia baru sembilan belas tahun, sangat jauh kan. Aku hanya takut dia tidak bisa membahagiakan kamu nantinya." Kata Zen.
"Apa usia menjadi penghalang? tidak kan dan Mica tau itu. Walaupun aku sudah kepala tiga setidaknya aku masih terlihat muda. Lebih baik cepat keluar dari sini kalau kedatangan mu ke mari hanya untuk menghasut ku. Aku tidak akan mempan dengan semua ucapan mu." Gion pun mengusir Zen yang berbicara seolah-olah tidak menyetujui pernikahannya.
__ADS_1
****
"Mica, kakak boleh tanya sesuatu gak? Ada pertanyaan yang sangat janggal dalam benak kakak dan kakak ingin mengetahuinya langsung dari mulutmu." Tanya Bayu yang menghampiri adiknya yang tengah di Henna tangannya.
"Mau tanya apa kak?" Tanya Mica. Bayu pun menunggu Mica selesai, dia tidak ingin pertanyaan di dengar orang lain selain adiknya sendiri.
Bayu menarik Kursi bekas tempat duduk wanita yang melukis tangan Mica dengan Henna.
"Mica, kakak masih gak percaya kalau kamu ada hubungan dengan Gion dan aku juga gak percaya kamu melakukan hal itu. Aku paham betul selera mu usia kalian terlampau jauh dan gak mungkin Gion akan melakukan hubungan denganmu tanpa pengaman atau setidaknya dia bisa berfikir akibat jika dia melakukan itu. Aku yakin bukan Gion kan ayah dari anak itu. Kenapa kamu tidak jujur Mica yang seharusnya bertanggung jawab itu laki-laki yang sudah merusak mu bukan orang lain." ucap Bayu yang malah menekan Mica untuk jujur.
"Apa kakak tidak setuju aku menikah dengannya? Jika aku menunggu sampai laki-laki itu aku temukan, apa dia mau tanggung jawab? belum tentu kan. Walaupun aku menikah dengan tuan Gion aku juga tidak akan melepaskan pria itu. Setidaknya dia harus di penjara sebagai hukuman atas perbuatannya. Apa kakak Tau alasanku tetap mempertahankan Ray padahal aku masih punya kesempatan untuk menggugurkannya. Ah, sepertinya aku tidak perlu menceritakannya pada kakak. Aku yakin kakak tidak akan pernah setuju dengan keputusanku. Kali ini biarkan aku menikah dengannya setidaknya aku tidak mengecewakan tuan Gion yang rela di permalukan keluarganya hanya untuk menutupi aibku. " jawab Mica yang matanya berkaca-kaca.
"Maafkan kakak Mica, jika pertanyaan kakak tadi sudah melukai hatimu. Kamu memang benar. Dia harus di hukum dan dia juga tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk memeluk anakmu."
"Ia kak, dia tidak akan pernah bisa menyentuh anakku, hiks... hiks." Mica berusaha tegar di depan kakaknya, padahal dalam hatinya ia benar-benar hancur, lebih hancur lagi dari sebelumnya.
Bayu pun mencium kening adiknya sebelum meninggalkan kamar adiknya yang masih terisak dalam tangisnya. Bayu berharap jika tangisan yang ia lihat adalah tangisnya yang terakhir dan setelah itu, hanya senyum yang akan menghiasi adik satu-satunya. Bayu pun berjanji sampai kapanpun akan terus mencari laki-laki itu
To Be Continued ☺️☺️☺️
__ADS_1