
selang beberapa hari akhir nya Fei Ying telah keluar gua dan ingin mencoba kekuatannya yang telah meningkat, "baiklah ayo kita berburu" gumam Fei Ying lalu melesat pergi untuk mencari gerombolan monster.
"kebetulan sekali ada gerombolan banteng merah bertanduk perak" ucap Fei Ying saat menemukan gerombolan monster.
"api kegelapan" teriak Fei Ying sambil membuka telapak tangan nya, yang di padukan dengan teknik langkah bayangan nya.
seketika monster benteng merah yang di lewati Fei Ying terhisap kedalam api kegelapan itu dan menghilang bersama dengan api kegelapan Fei Ying.
"sudah saat nya aku kembali" ucap Fei Ying lalu pergi meninggalkan hutan tersebut.
********
di sisi lain Ching Ziyi dan Zhan Haifeng yang masih di markas Tora dan Li Hua tampak kecemasan di raut wajahnya.
"senior Tora bagaimana ini, aku takut pasukan ku yang di sana terjadi apa-apa, aku tidak mau pasukan yang ku bangun bersama senior Zhan hancur begitu saja" ucap Ching Ziyi pada Tora.
"kau tenangkan diri mu aku sudah menyuruh pasukan terbaik ku untuk membantu pasukan mu di sana, sebentar lagi ketua Fei akan datang aku yakin dia akan segera memberi perintah" ucap nya sambil menepuk pundak Ching Ziyi.
"aku selalu percaya pada ketua" balas Ching Ziyi.
swushhh
"terimakasih atas kepercayaan mu Ching Ziyi" ucap Fei Ying yang tiba-tiba datang dari belakang.
"ketua lama tidak jumpa bagaimana kabar mu" tanya Tora.
"aku baik-baik saja aku dengar pasukan kalian ada masalah bukan begitu" tanya Fei Ying pada mereka berdua.
"ya seperti ketua dengar pasukan ku beberapa hari yang lalu di serang, bersamaan dengan tumbang nya Senior Zhan yang di serang dengan cara licik" ucap Ching Ziyi
"boleh aku memeriksa senior Zhan siapa tau aku bisa menolong nya" ucap Fei Ying dan di persilahkan untuk mengecek kondisi senior Zhan.
saat telapak tangan Fei Ying menyentuh dada senior Zhan dia terkejut karena racun yang ada di tubuhnya adalah racun yang sangat berbahaya, 'walau racun nya sudah keluar semua tapi dia masih butuh waktu pemulihan'.
__ADS_1
"Tora apa kau punya rumput merah, bunga embun putih dan juga esensi teratai darah"
"semua itu aku punya ketua tapi untuk esensi teratai darah aku tidak punya, buat apa ketua membutuhkan nya" tanya Tora pada Fei Ying karena penasaran.
"senior Zhan terkena racun yang sangat berbahaya, walau racunnya sudah keluar tapi sisanya harus segera di bersihkan, jika tidak aku tidak tau lagi bagaimana nasib dari senior Zhan" ucap Fei Ying dengan helaan nafas.
"kalau begitu aku akan mencari esensi teratai darah, ketua Fei mohon petunjuknya dimana letak esensi teratai darah itu" ucap Ching Ziyi dengan berlutut sambil menangkupkan kedua tangan nya.
"di lembah sungai merah, bawalah gulungan ini bersama mu dan Talisman ini buat kau pergi dari sana setelah mendapatkan esensi teratai darah" ucap Fei Ying sambil mendirikan Ching Ziyi yang berlutut.
"urusan pasukan biar aku yang urus kau pergilah cari esensi teratai darah untuk senior mu" ucap nya sambil memegang kedua bahu Ching Ziyi.
"terimakasih kasih ketua" ucap nya lalu melesat pergi.
"anak itu ternyata sudah berkembang sangat jauh, Tora apakah kau mau ikut menyelidiki siapa penyerang yang menyerang pasukan ku" ucap Fei Ying dengan kedua tangan di belakang dan tubuhnya menghadap ke arah jendela.
"tentu saja, dengan senang hati, sudah lama aku tidak membunuh rasanya insting ku sebagai hewan immortal sudah tidak ada lagi"
"hahaha kalau begitu ayo kita lakukan setelah Ching Ziyi kembali" ucap Fei Ying lalu membalikkan badannya dan duduk di kursi ruang tamu.
"benar ketua kenapa ketua bisa tau" tanya Tora yang penasaran.
"aku merasakan aura yang aku kenal dan itu sangat baru, tentu saja aku tau hadeuh ternyata insting mu benar-benar perlu di asah lagi Tora."
"hahaha"
*****
di sisi lain Ching Ziyi yang sedang mencari arah jalan untuk masuk ke dalam lembah sungai merah agak kesulitan.
"benarkan ini lokasinya?" ucap Ching Ziyi lalu memeriksa gulungan yang di berikan oleh Fei Ying.
"kalau di lihat memang benar ini lokasinya, lebih baik aku masuk saja" saat melangkah kedalam hutan tersebut seketika udara di sana langsung berubah dan menekan Ching Ziyi hingga sulit bernapas.
__ADS_1
"lokasi macam apa ini"
setelah memaksa untuk berjalan dan mencari esensi teratai darah Ching Ziyi sudah mulai kehabisan oksigen, "gawat aku sudah mulai tidak bisa bernafas" saat Ching Ziyi di hadapi oleh masalah nya dan entah keberuntungan darimana Ching Ziyi melihat ada bunga yang persis dengan gambar yang ada di gulungan nya.
"b-enar itu kan" ucap Ching Ziyi dengan suara serak, Ching Ziyi yang tidak mau kehilangan kesempatan nya dan nyawa nya segera menggunakan teknik meringankan tubuh nya untuk mengambil Bunga itu.
setelah mendapatkan bunga esensi teratai darah Ching Ziyi lalu mengaktifkan Talisman nya dan seketika dia keluar dari dalam hutan tersebut.
"huh huh huh...hampir saja aku mati" ucapnya lalu segera pergi meninggalkan lokasi tersebut.
selang beberapa jam Ching Ziyi telah sampai di markas Tora, "ini ketua bahan yang ketua minta" ucap Ching Ziyi sambil menyerahkan bunga esensi teratai darah.
"sekarang istirahat lah biar aku yang akan menangani ini" ucap Fei Ying lalu mengeluarkan tungku Pill dari dalam cincin penyimpanan nya.
'atur suhu panas api nya'
'masukan rumput merah dan bunga embun putih secara bersamaan'
'setelah itu masukan esensi teratai darah dan aduk secara sempurna dan murnikan'
boom
ledakan kecil terjadi dan Fei Ying berhasil membuat Pill pembersih racun buatan nya, "Tora ambillah segelas air dan minumkan Pill ini pada senior Zhan, setelah tiga hari dia akan segera pulih" ucap Fei Ying lalu menyerahkan Pill berwana hijau pekat itu.
"setelah selesai segera temui aku untuk membahas masalah tadi"
"baik" ucap Tora lalu segera pergi.
setelah beberapa menit Tora akhirnya kembali dan menemui Fei Ying, "kapan kita akan bergerak ketua"
"sekarang sebelum itu kita pergi ke ibukota benua tengah, kita akan mencari informasi dulu di sana, dan aku tahu tempat itu di mana" ucap Fei Ying dengan seringai khas nya.
"baiklah tapi apa kita akan pergi kesana hanya dengan seperti ini"
__ADS_1
"tentu saja tidak kita akan menutupi identitas kita dengan jubah hitam, kau tenang saja kalau begitu tunggu apalagi ayo kita segera berangkat sebentar lagi matahari akan segera tenggelam"
"baik ayo"