
Pukul 2 Dinihari, kedua mata Shae masih terjaga duduk menemani Clay yang terbaring menyedihkan diatas ranjang rumah sakit. Clay sudah ditangani oleh dokter dan kata dokter kondisinya sudah cukup membaik. Shae duduk sembari termenung sedih diatas kursi kecil di samping ranjang tempat Clay berbaring.
Shae tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpa Clay.
"Semua ini salah aku Clay, kalau bukan karena kamu membela aku pasti kamu nggak akan bernasib buruk seperti ini. Aku memang manusia yang nggak berguna dan pantes buat dijauhi Clay." batin Shae merasa dirinya hanyalah sekedar beban untuk Clay.
Tiba-tiba pintu kamar inap Clay terbuka, seorang wanita paruh baya masuk kedalam kamar itu sembari berjalan cepat.
"Clay anakku?" pekik ibu-ibu itu dimana dia adalah ibu kandung dari Clay.
"Shae? Anakku kenapa?"
Shae bergegas bangkit kemudian meminta maaf kepada ibunya Clay.
"Semua ini salahku tan. Tante boleh membenci saya. Clay jadi begini karena dia membantu saya dari serangan preman-preman jahat. Clay babak belur dihajar mereka tan."
Air mata mengalir deras dari kedua bola mata sendu Shae. Begitu juga mengalir dengan kepedihan dari kedua bola mata wanita paruh baya itu.
"Nggak Shae. Kamu ga boleh menyalahkan diri kamu sendiri. Semua ini tidak akan terjadi jika preman-preman itu tidak berniat jahat sama kalian. Yang salah adalah mereka dan saya pasti akan melaporkan mereka kepada polisi. Manusia-manusia sampah macam mereka memang tempat yang cocok buat mereka adalah didalam jeruji besi."
"Iya tante, saya bersedia bantuin tante menjelaskan kepada polisi ciri-ciri preman-preman itu biar mereka segera tertangkap."
"Makasih nak Shae?"
Ibu kandung Clay bernama Yuna. Yuna adalah seorang janda beranak dua. Almarhum ayah Clay telah meninggal karena penyakit gagal ginjal akut. Sekarang adik perempuan Clay juga mengalami kondisi yang sama dengan ayahnya tapi Clay selalu bekerja keras buat membiayai pengobatan adiknya biar adiknya bisa bertahan hidup lebih lama.
Clay adalah tulang punggung keluarga semenjak ayahnya tiada. Shae betul-betul merasa sedih karena sang tulang punggung sekarang tengah terbaring tak berdaya.
"Shae, kamu ga pulang ke rumah nak? Nanti orang tua kamu kebingungan nyariin kamu? Kamu udah kabarin mereka belum kalau kamu sekarang sedang berada disini jagain anak saya?"
"Belum tan. Kalau gitu saya harus segera pulang sekarang. Besok saya juga harus kuliah. Tapi saya janji pulang kuliah saya akan langsung kesini buat menemani Clay. Semoga Clay lekas pulih ya?"
"Aamiin, hati-hati dijalan ya nak? Hati-hati dengan bahaya yang mengintai dijalan. Kalau bisa kamu order taksi yang beroperasi selama 24 jam saja nak biar lebih aman?"
__ADS_1
"Iya tan, saya pasti akan memilih buat order taksi saja walau biaya ongkosnya akan lebih mahal tapi nggak apa-apa, demi keselamatan saya."
Setelah itu Shae pun pulang ke rumah naik taksi online yang dia pesan.
***
Keesokan harinya, suasana di meja makan begitu hening. Rachel dan Evi sedang duduk dengan tatapan dingin sembari menatap Shae yang sedang mengoleskan selai coklat diatas dua lembar roti putih.
Shae mengamati sejenak kedua saudara tirinya yang sedang menatap sinis kepadanya itu. Punya dua saudara tiri seperti mereka Shae selalu merasakan rasa ketidaknyamanan dalam hari-harinya.
Pak Farhan yang sedang duduk di samping Shae mulai membuka obrolan.
"Semalam kamu pulang jam dua nak? Habis darimana kamu?" tanya pak Farhan dengan lembut.
"Pakai ditanya lagi! Ya habis berbuat senonoh lah sama pacarnya, si anak kurang ajar itu! Clay ya namanya? Kalau kamu sampah hamil, bikin aib saja!" sahut bu Rianti membuat Shae seketika menjadi geram.
"Ibu tiri!" pekik Shae dengan nada tinggi mengejutkan semua orang.
"Stop memfitnah aku! Aku sama Clay tidak ada hubungan apa-apa selain teman dan ibu memfitnah aku melakukan perbuatan yang senonoh seperti itu! Ibu benar-benar keterlaluan!" marah Shae membela dirinya.
Shae belajar dari Clay bahwa menjadi orang yang berani itu adalah sebuah sifat buat bikin diri sendiri menjadi lebih kuat dan disegani. Bu Rianti langsung bangkit dari duduknya sembari memegang sebuah garpu. Mau apa ibu tiri kejam itu memegang garpu itu?
Bu Rianti mengacungkan garpu itu didepan mata Shae. Sontak saja hal itu membuat pak Farhan menjadi terkejut bukan kepalang. Begitu juga dengan Rachel dan Evi yang agak takut melihatnya.
"Ibu mau apa?" tanya Shae mulai agak gemetar.
"Mencolok matamu! Membuat kedua matamu buta biar kamu semakin menderita!" jawab bu Rianti sembari kembali melotot tajam.
Shae menatap wajah ibu tirinya, sekarang wajah itu benar-benar lebih menakutkan. Apalagi sekarang dia marah sembari memegang sebuah garpu yang bahkan katanya mau ia gunakan buat mencelakainya.
Pak Farhan bergegas memukul tangan bu Rianti hingga garpu yang dipegang oleh bu Rianti itupun terjatuh keatas lantai.
"Hentikan Rianti! Kamu gila ya mau membuat mata Shae terluka seperti itu? Dimana hati kamu Rianti!" marah pak Farhan didepan wajah bu Rianti.
__ADS_1
"Kamu bertanya dimana hatiku? Hatiku sudah mati kalau berhadapan langsung dengan anakmu yang keparat ini mas!"
PLAAAAAAK
Tamparan keras mendarat di wajah istri durhaka itu. Ini adalah kali kedua pak Farhan berani menampar istrinya setelah kemarin pak Farhan berani menamparnya untuk yang pertama kalinya.
"Bapak? Apa yang bapak lakukan!" pekik Evi kaget seraya menutup mulutnya.
Bu Rianti sama sekali tidak menyangka bahwa wajahnya akan kembali mendapatkan tamparan dari suaminya lagi. Bu Rianti mengira pak Farhan tidak mungkin berani lagi untuk menamparnya kembali tapi ternyata pak Farhan malah semakin berani buat menentang dirinya.
PLAAAAK PLAAAAAK
Dua kali tamparan mengenai wajah pak Farhan. Shae langsung bangkit buat melindungi bapaknya.
"Cukup bu! Kalau ibu mau tampar, tampar saja aku! Jangan tampar bapakku!" ucap Shae sembari menangis.
"Oh iyaaa! Dari kemarin tangan saya sudah gatal ingin sekali menampar wajah kamu yang pas-pasan itu!" balas bu Rianti dengan wajah sewot.
PLAAAAK PLAAAAK PLAAAAK
Tiga kali tamparan mendarat di wajah sendu itu. Shae hanya bisa pasrah meski wajahnya terasa sakit. Tapi Evi dan Rachel malah tampak senang ketika Shae mendapatkan tamparan bertubi-tubi dari ibu kandung mereka.
Tiba-tiba pak Farhan memegang pinggangnya yang terasa nyeri kemudian matanya berkunang-kunang dan dia pun seketika pingsan. Shae semakin panik ketika melihat bapaknya tergeletak pingsan diatas lantai.
"Bapak kenapa pak! Bangun! Banguun pak!" teriak Shae seraya terisak.
Bu Rianti memutar bola mata malas kemudian pergi ke kamar buat memanggil dokter yang biasa datang ke rumahnya.
"Shae! Kalau aku jadi kamu pasti aku langsung pergi dari rumah ini." ucap Evi tiba-tiba.
"Iya! Kamu tuh kapan ngertinya sih? Kalau keberadaan kamu disini itu hanya sebagai biang kekacauan saja! Pagi-pagi begini saja sudah ribut seperti ini, kesel aku sama kamu dasar benalu menjijikkan!" sahut Rachel pedas.
Bersambung...
__ADS_1