
"Aku janji Clay aku akan memberikan penampilan yang lebih baik dan lebih keren daripada tadi. Semoga saja aku terpilih menjadi penyanyi yang tampil di acara necis itu."
"Makasih. Kamu juga tidak akan satu panggung dengan Mila karena cuma kamu doang yang datang sebagai seorang penyanyi solo yang tampil di acara itu. Untuk bisa tampil di mini konser itu, lusa kamu harus ikut aku ketemu Yudha dan Lia ya? Mereka adalah anggota tim sukses juga yang ikut mengatur siapa saja pengisi acara yang dibolehin tampil di konser itu. Karena meskipun konser itu bukanlah mega konser, tapi ada beberapa produser yang hadir buat mencari bakat-bakat penyanyi baru yang mungkin saja akan mereka orbitkan jika mereka merasa tertarik. Nanti akan ada tiga penyanyi cafe yang tampil di acara itu."
"Duh aku jadi nggak sabar deh. Semoga teman kamu Yudha dan Lia, semua anggota tim sukses kamu sepakat kalau aku yang terpilih sebagai last singer yang tampil di acara konser itu ya?"
"Iya semoga saja Shae. Kalau gitu sekarang aku antar kamu pulang ke rumah ya? Kamu harus banyak beristirahat biar kesehatanmu tetap terjaga. Baru kemarin kamu sakit loh,"
"Iya Clay."
Kemudian mereka berdua bangkit dan melangkah bersama menuju motor Clay yang terparkir dibawah pohon Jambu. Sembari melangkah Shae masih memikirkan Mila didalam hatinya. Shae takut Mila sudah tidak mau lagi menjadi sahabatnya padahal Mila adalah salah satu dari sekian sedikit sahabat perempuannya yang selama ini mereka sering bersama.
"Mila, semoga kamu tidak berubah ya." batin Shae berharap.
Ketika dalam perjalanan pulang melewati jalanan yang sepi, entah kenapa perasaan Shae tiba-tiba tidak enak. Shae melihat seperti ada banyak orang yang sedang kumpul bersama di pinggir jalan dan semua orang itu memakai pakaian ala preman. Clay langsung melajukan motornya dengan cepat, Clay tidak mau terjadi perkelahian malam-malam begini dengan preman-preman itu karena Clay yakin pasti preman-preman seperti itu bakalan mencegat dan merampok barang berharga mereka berdua.
Shae sangat terkejut, ketika melihat tiga diantara mereka adalah tiga preman yang kemarin merampok uangnya dan juga mau memperkosa dirinya di kebun yang sepi.
"Clay! Clay! Lihat itu! Tiga dari mereka adalah yang kemarin Clay! Mereka pasti satu komplotan mau membalas kita Clay!" pekik Shae panik sembari menepuk-nepuk bahu Clay.
"Tenang saja Shae, aku akan super ngebut! Kamu pegang perut aku yang kuat ya!"
"Iya Clay."
Clay melajukan motornya dengan sangat cepat menerobos hawa dingin angin malam. Benar saja ketujuh preman itu mengejar mereka dari belakang dengan ngebut juga. Shae beberapa kali melirik kearah belakang sangat ketakutan karena ketujuh preman itu jaraknya semakin mendekat dengan mereka berdua.
"Clay aku takut! Lebih cepet lagi ya!"
__ADS_1
"Tenang Shae."
Tapi mereka berdua berhasil dikejar oleh preman itu ketika ban belakang motor Clay ditembak oleh salah satu preman hingga ban belakang motor Clay menjadi bermasalah dan motor Clay pun oleng ke pinggir jalan. Clay dan Shae sama-sama terjatuh dari atas motor. Mereka berdua nyusruk di rerumputan pinggir jalan.
Ketujuh preman jahat itu berhenti kemudian mereka semua menghampiri Shae dan Clay.
"Shae kamu lari! Biar aku aja yang menghadapi mereka!"
"Nggak bisa gitu dong! Mana bisa aku ninggalin kamu sendiri!"
"Kamu nggak mau kehormatan kamu terenggut oleh mereka kan? Jangan pikirkan aku!"
"Clay, baiklah aku akan pergi untuk kembali dan membawa bantuan."
Shae bergegas bangkit lalu berlari menghindari preman-preman itu.
"Baik bos." tiga preman yang kemarin berlari mengejar Shae sementara itu Clay bersiap bertarung melawan empat preman yang tersisa.
Perut Clay terkena tendangan dan pukulan bertubi-tubi dari keempat preman itu. Begitu juga dengan wajah tampan itu. Kedua tangan Clay dipegangi dengan kuat oleh kedua preman sedangkan dua preman yang lain bertugas memukuli Clay sampai tepar.
Sementara itu Shae selesai kabur mencari tempat persembunyian, Shae memutuskan untuk ngumpet didalam tempat yang menakutkan. Shae tengah bersembunyi didalam gorong-gorong yang gelap dan kemungkinan tempat gelap ini adalah sarang binatang liar seperti ular atau serangga. Namun Shae berusaha untuk bertahan sementara ini didalam tempat yang gelap ini sampai ketiga preman yang sedang berkeliaran di sekitar gorong-gorong ini pergi.
Shae menggunakan kedua indera pendengarannya untuk mendeteksi suara-suara preman yang sedang berkeliaran di sekitarnya. Jika suara-suara itu semakin menjauh maka Shae akan segera keluar dari dalam tempat yang cukup mengerikan ini. Jangan sampai kehormatannya direnggut oleh mereka.
Beberapa saat kemudian setelah dirasa preman-preman itu sudah pergi, Shae keluar dari dalam gorong-gorong. Melangkah dengan waspada ke pinggir jalan. Shae memindai keadaan di sekitarnya dengan penuh kehati-hatian dan rasa siaga yang tinggi, takut tiba-tiba preman itu datang buat menyergap dirinya.
Shae menunggu Clay beberapa saat di pinggir jalan ini. Shae melihat beberapa kendaraan melintas di tengah jalan. Shae penasaran dengan kondisi Clay yang tak kunjung menghampiri. Shae membulatkan tekad untuk kembali ke tempat tadi, tempat dimana motor Clay nyusruk di pinggir jalan gara-gara ulah preman-preman kejam itu.
__ADS_1
Shae kembali melangkah dengan penuh kehati-hatian. Hingga akhirnya tubuhnya sampai menjejakkan kaki di tempat yang tadi, hati Shae benar-benar teiris melihat tubuh Clay sedang digotong oleh banyak laki-laki lain menuju ke sebuah mobil. Clay akan segera dibawa ke rumah sakit karena kondisinya cukup mengkhawatirkan.
"Clay?" panggil Shae pelan sembari menutup kedua mulutnya dan menitikkan air mata.
Shae mengira Clay meninggal babak belur dihajar preman-preman tadi tapi ternyata Clay menolehkan kepalanya kearah Shae sembari tersenyum.
"Clay? Alhamdulillah, ternyata Clay masih hidup." batin Shae sembari membalas senyuman Clay.
Kemudian Shae berlari mengejar mereka semua, Shae menjelaskan kepada mereka semua bahwa dirinya adalah teman Clay dan ingin ikut pergi mengantarkan Clay ke rumah sakit. Shae pun dibolehkan ikut ke rumah sakit.
***
Sementara itu didepan rumah, Pak Farhan sedang cemas menunggu Shae yang belum pulang ke rumah padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 dinihari. Pak Farhan memakai syal yang menutupi lehernya, menjaganya dari hawa dingin yang menusuk tulang.
Bu Rianti keluar dari dalam rumah sembari bersin-bersin karena udara terasa dingin sekali. Bu Rianti menyusul suaminya ke depan rumah.
"Woy suami nggak berguna! Lagi ngundang penyakit ya biar cepet mati? Malam-malam begini sendirian disini nungguin apaan sih?"
"Mulutmu jahat sekali Ri, Shae belum pulang ke rumah. Aku sedang menunggu dia. Aku khawatir."
"Halah ngapain kamu pakai khawatir segala! Dia paling lagi melakukan perbuatan bejat sama pacarnya, si cowok kurang ajar itu loh! Masa kemarin dia berani membentak saya mas!"
"Jangan menuduh orang sembarangan itu namanya fitnah! Apalagi yang kamu tuduh itu salah satunya adalah darah daging saya. Saya jelas tidak akan terima jika anak saya kamu tuduh melakukan hal yang memalukan seperti itu. Setahu saya Clay anak yang baik, dia tidak mungkin membentak orang lain tanpa alasan yang kuat."
"Terus aja terus! Belain sampai berbusa mulut kamu! Udahlah, lebih baik saya tidur lagi daripada ngurusin suami brengsek nggak berguna kayak kamu! Bye!" sinis bu Rianti sembari melangkah masuk kedalam rumah.
"Kalau kamu sakit saya nggak sudi keluar uang buat biaya pengobatan kamu loh." teriak bu Rianti dari balik pintu.
__ADS_1
Bersambung...