
"Berani ya lo sekarang? Lo tuh harusnya nyadar diri lo itu siapa! Lo itu cuma cewek lemah yang nggak bisa apa-apa. Tampang juga pas-pasan, punya modal suara bagus aja itu tidak cukup! Jangan banyak ngayal deh." pekik Mila kejam sembari menunjuk kasar wajah Shae.
"Aku akan buktiin ke kamu kalau aku bisa sukses hanya dengan modal suara aku saja. Aku akan buktiin ke kamu kalau itu bukan sekedar khayalan saja tapi aku akan berusaha membuatnya menjadi kenyataan."
Mila tertawa terbahak-bahak melihat optimisme Shae dalam mengejar mimpinya. Bagi Mila, orang yang bertampang pas-pasan itu akan sulit bersaing di industri hiburan.
"Bukan kamu tapi aku! Aku yang akan menjadi orang terkenal, yang akan dipuja sama banyak orang, dan fans aku akan bertebaran dimana-mana! Seperti jamur yang bermunculan di musim hujan. Sedangkan kamu selamanya akan terjebak dalam kehidupan yang nelangsa dan membosankan. Kalau cewek secantik aku sih wajar ya punya pemikiran yang optimisme seperti ini."
Shae tidak mau meladeni Mila berlama-lama. Shae tidak mau rasa minder yang selalu ia alami bertambah menjadi-jadi. Shae mau masuk ke kelas saja membaca materi pelajaran itu jauh lebih baik daripada membuang waktu untuk hal seperti ini.
Meski sebenarnya Shae juga semakin tercambuk buat bisa buktikan bahwa dirinya bisa terkenal suatu saat nanti.
"Mau kemana lo!" cegah Mila sembari menarik tangan Shae.
"Lepas!" balas Shae seraya mengayunkan tangannya agar tangan Mila segera terlepas dari memegang tangannya.
"Cewek miskin aja belagu lu!" nyinyir Mila dari belakang Shae.
Perasaan Shae semakin meradang pada pagi ini. Shae membentuk ekspresi bulat mendendam di wajahnya. Perbuatan tidak menyenangkan yang selalu ia dapatkan selama ini benar-benar membuatnya semakin muak.
***
Saat jam istirahat kuliah berlangsung, Shae sedang duduk di kursi taman sembari ngemil snack keripik garing. Tiba-tiba Shae mendapatkan telepon dari Clay. Tanpa berbasa-basi Shae langsung menerima panggilan tersebut.
"Halo Clay? Kamu lagi apa disana?"
"Halo Shae, aku lagi duduk di taman RS. Kamu pasti lagi jam istirahat kuliah ya? Aku mau ngabarin kalau besok aku udah boleh pulang ke rumah."
__ADS_1
"Syukurlah kalau gitu aku senang dengarnya. Tapi mungkin abis ini kamu jangan berteman sama aku lagi ya Clay?"
Sejenak wajah Clay langsung berubah menjadi bingung.
"Why? Kenapa kamu gak mau berteman lagi sama aku? Aku punya salah apa? Katakan sekarang pasti aku akan cepat minta maaf sama kamu?"
"Kamu nggak salah apa-apa Clay, tapi aku yang salah. Aku adalah sumber masalah dari segala masalah yang terjadi di sekitar kita."
"Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri Shae. Kamu gak boleh punya pemikiran seperti itu. Semua masalah yang terjadi itu belum tentu karena kesalahan kamu. Kamu gak bisa memutuskan pertemanan kita seenaknya saja kaya gitu dong. Pertemanan kita akan abadi, selamanya. Gak boleh ada kalimat pertemanan kita selesai! Oke Shae?"
Berat buat Shae memutuskan pertemanannya dengan Clay tapi mau gimana lagi. Shae tidak ingin Clay terus menerus terlibat dalam masalahnya. Termasuk kemarin sewaktu Clay babak belur dihajar preman, itu juga karena Clay berniat melindunginya.
Tiba-tiba Shae yang sedang duduk sendiri di kursi taman kampus itu HPnya dirampas oleh Mila. Mila langsung menonaktifkan HP Shae hingga panggilan dengan Clay otomatis terputus.
"Mila kamu ini apa-apaan sih? Balikin HP aku!" pinta Shae kesal.
Shae melihat disamping Mila ada kedua saudara tirinya yang toxic itu. Evi dan Rachel tengah memandangnya dengan tatapan buas.
"Ngapain? Sekarang kita bestie lah. Mulai sekarang kita bertiga bakalan kerjasama buat bikin hidup lo semakin sengsara!" jawab Mila ketus disambut senyuman licik yang terukir sempurna di wajah Evi dan Rachel.
"Evi, Rachel, bawa kutu busuk ini ke dalam gudang di kampus ini." titah Mila sembari mengepalkan salah satu tangannya.
"Siap Mil! Dengan senang hati gue dan Rachel akan membawa kutu busuk ini kedalam tempat menjijikkan itu." sahut Evi bersemangat.
Perasaan Shae mendadak jadi nggak enak. Shae yakin pasti mereka bertiga mau membullynya didalam gudang kampus. Shae takut akan dipukuli terlihat dari gelagat mereka bertiga pasti mereka mau menyiksa fisiknya.
Shae berbalik badan dan akan segera berlari tapi cengkraman tangan yang kuat dari tangan kedua saudara tirinya mengenggam kuat kedua lengannya. Evi dan Rachel menyeret Shae ke dalam gudang sedangkan Mila bertugas membungkam mulut Shae menggunakan sebuah sapu tangan supaya Shae tidak bisa berteriak meminta pertolongan.
__ADS_1
Mereka bertiga membawa Shae dengan penuh kehati-hatian menuju gudang kampus. Mila celingukan kesana kemari takut ada orang lain yang memergoki mereka. Jangan sampai ada orang lain yang lihat bisa-bisa Shae selamat dan berhasil lolos dari tindak bullying yang akan mereka lakukan kepada Shae.
Singkat waktu mereka bertiga berhasil membawa Shae hingga kedepan pintu gudang. Shae ingin sekali berteriak akan tetapi mulutnya dibekap dan kedua tangannya dipegang dengan kuat. Tenaga Shae tidak cukup kuat buat melawan mereka bertiga.
Mila menendang pintu gudang hingga terbuka kemudian Evi dan Rachel mendorong Shae kedalam gudang. Dorongan kencang itu membuat perut Shae menghantam kepala kursi, Shae merasakan nyeri pada area perutnya.
"Aw," rintih Shae kesakitan.
Kemudian Rachel menutup pintu gudang supaya tidak ada orang yang mengetahui aksi kejam yang akan mereka perbuat kepada Shae siang ini. Shae mengambil sapu tangan yang menyumpal mulutnya, kemudian Shae buang sapu tangan itu ke lantai yang penuh dengan debu.
"Kalian ini mau apa sih! Kalau kalian berani menyakiti aku, aku nggak akan segan-segan bawa masalah ini ke ranah hukum!" ancam Shae.
"Lo pikir, kita takut sama ancaman lo apa! Dasar benalu busuk! Hari ini adalah hari kita bersenang-bersenang. Menjadikan lo sebagai samsak kesenangan kita!" sahut Evi seraya melotot marah.
Rachel rasanya sudah gatal ingin sekali menampar muka Shae sedari tadi. Rachel pun menampar muka Shae dengan tega. Kemudian Mila yang iri karena Clay selalu membela Shae mulai menjambak rambut Shae.
"Hal kaya gini pantes lo dapetin dari kita Shae! Mampus lo!" teriak Mila didekat telinga Shae.
Telinga kiri Shae rasanya agak gak nyaman setelah Mila dengan tega sengaja berteriak didekat telinganya. Didepan matanya Evi terlihat bersiap menonjok tubuh Shae. Shae tidak akan membiarkan itu terjadi!
Tapi Shae mencoba melawannya dengan menendang perut Evi hingga Evi jatuh ke lantai.
"Ah, sialan! Cewek bodoh apa yang lo lakuin hah!" marah Rachel tidak terima melihat kakaknya ditendang.
Evi bangkit. Perasaan murka menguasai dirinya. Melihat Evi yang semakin marah Shae jadi makin takut.
"Tolong! Tolong!" teriak Shae berusaha.
__ADS_1
"Diam lo!" balas Evi kemudian mencekik leher Shae.
Bersambung...