
"Oh jadi sahabat sejatiku ini lagi kebingungan ya karena gak punya baju yang pas buat tampil di acara konser besok? Serahkan semua urusan itu kepadaku."
Shae bangkit dan malah menjewer telinga kiri Clay
"Aduh, sakit bos! Ampun!"
"Udah dibilangin jangan peduli lagi sama nasib aku bandel banget sih kamu! Udah gak apa-apa Clay, sebenarnya aku masih punya gaun yang indah. Gaun itu adalah hadiah dari bapak saat aku ulang tahun yang ke 17 waktu itu. Gak tau sekarang masih muat atau kaga karena aku ngerasa kalau badanku agak gendutan tapi moga aja masih muat ya? Rencananya aku mau balik ke rumah terus aku mau diam-diam masuk kedalam buat mengambil gaun itu saja. Gaun itu ketinggalan soalnya waktu aku kabur dari rumah kemarin."
"Aku temani kamu pasti boleh kan? Jangan pulang sendiri, nanti kalau kamu kepergok ibu tiri kamu yang galak itu siapa yang bakal bantuin kamu kalau bukan aku?"
"Hmm gini aja, gimana kalau kamu anterin aku aja pakai motor kamu sampai persimpangan jalan didekat rumah aku? Dari sini kesana jauh soalnya."
"Oke dengan senang hati bestie! Tapi sebelum itu kita makan batagor ini sampai abis ya?"
"Itu pedes nggak Clay?"
"Pedes manis nggak pedes-pedes amat. Aku pesen yang sedeng aja."
"Oke, makasih bestie atas traktirannya. Aku nggak suka kalau terlalu pedas soalnya aku ada maag."
"Iya aku tahu kok Shae."
Clay duduk disamping Shae sembari membuka kresek berisi dua bungkus batagor lezat dan gurih itu. Meski dua bungkus batagor ini hanyalah makanan murah dan sederhana tapi ini sudah cukup untuk membuat suasana senja pada hari ini cukup menggembirakan bagi mereka. Sembari melihat indahnya mentari senja mereka berdua bersama mengunyah satu persatu potongan batagor didalam plastik.
"Mungkin kali ini aku memanggil kamu dengan sebutan bestie, tapi suatu saat nanti aku berharap bisa memanggilmu dengan sebutan sayang, Shae." batin Clay berharap romantis.
***
__ADS_1
Malam pun tiba. Pak Farhan sedang beristirahat di dalam kamar setelah capek bersih-bersih rumah seharian ini. Sedangkan Evi dan Rachel, mereka terlihat tengah berdiri berdua didepan kamar Shae.
"Mumpung si kutil ayam itu lagi nggak ada dirumah gimana kalau kita berdua obrak abrik aja isi lemarinya si kutil ayam itu, siapa tahu ada sesuatu yang menarik didalam lemarinya?" ajak Evi didepan kamar Shae kepada Rachel.
"Ide bagus! Buruan kita masuk kedalam kamarnya yang sempit ini."
Evi dan Rachel kompak membuka pintu kamar Shae. Mereka masuk kedalam kamar yang sempit dan pengap itu. Hanya ada kasur lantai yang sudah gepeng dan juga beberapa lemari untuk menyimpan pakaian.
Evi mulai membuka salah satu lemari Shae yang berisi semua pakaiannya Shae. Mereka berdua mengacak-acak semua baju-baju Shae melemparnya keatas kasur lipat diatas lantai. Yang menurut mereka tidak menarik mereka hempas dengan seenak udelnya.
"Belum ada yang menarik nih semua baju-baju si benalu jelek semua!" gerutu Evi bete.
"Lo betul Evi, huuh menyebalkan! Tapi benalu itu cocoknya emang pakai baju-baju jelek kaya gini sih sepadan lah sama mukanya yang B aja itu." sahut Rachel sembari terus mengacak-acak semua pakaian Shae.
Hingga akhirnya mereka berdua berhenti mengobrak-abrik isi lemari Shae ketika mereka berdua melihat sesuatu yang mencuri perhatian mereka. Mereka berdua sama-sama terpaku ketika mata mereka melihat sebuah gaun berwarna putih yang terlihat anggun dan menarik.
Evi mengambil gaun yang masih terlipat itu kemudian mengulurkannya ke bawah.
"Iya, kok aneh ya? Apa jangan-jangan si benalu itu nyolong gaun ini di butik? Atau dia diam-diam beli gaun ini pakai uangnya sendiri?" bingung Rachel juga.
"Hmm nggak peduli gaun ini dia dapet darimana tapi gaun ini akan menjadi milik gue! Kayaknya masih muat nih kalau gaun ini dipakai ke badan gue yang seksi ini." ucap Evi senang.
Tapi Rachel juga tertarik untuk memiliki gaun itu. Rachel menarik gaun Shae yang sedang dikuasai oleh Evi itu.
"Mau apa lo! Gaun ini punya gue!" marah Evi tidak terima gaun yang ingin ia kuasai direbut oleh Rachel.
"Eh nggak bisa mau enaknya aja ya lo! Kan gue duluan tadi yang megang gaun ini!" sanggah Rachel juga ingin menang sendiri.
__ADS_1
"Siapa cepat dia dapat! Gue duluan yang buka gaun ini dan gaun ini lebih pas dipake di badan gue. Karena badan lo itu gendut pasti gaun ini bakalan sobek kalau lu pake!"
"Evi! Lo bilang badan gue gendut? Mata lo siwer ya orang badan gue langsing gini dibilang gendut! Badan lo kali tuh melar kebanyakan makan doang gak pernah olahraga! Buat gue gaun itu!"
"Enak aja ini punya gue!"
"Punya gue!"
Mereka berdua rebutan gaun milik Shae layaknya dua anak kecil yang sedang berebut mainan. Hingga karena kecerobohan mereka gaun milik Shae malah jadi robek karena ditarik-tarik.
"Yah, malah sobek lagi! Gara-gara lo Evi!"
"Enak aja gara-gara lo curut! Kalau lo gak rebut gaun ini pasti gaun ini ga bakalan robek seperti ini. Yah, gagal deh pakai gaun ini kan desain gaun ini lumayan banget kalau gue pakai buat dateng ke acara ultah Lisa besok."
"Semua ini gara-gara lo ih dasar pelit! Udahlah daripada bahas gaun si benalu mulu mending kita buang aja ke tong sampah depan rumah. Ngapain juga gaun robek kaya gini disimpen, yuk buang?" ajak Rachel.
"Yaudah deh."
Lantas mereka berdua melangkah bersama menuju keluar rumah sembari memegang gaun yang sudah robek itu. Evi membuka tong sampah kemudian dengan teganya mereka menaruh gaun satu-satunya milik Shae didalam tong sampah yang bau dan kotor dalam keadaan yang sudah robek pula.
"Udah yuk balik kedalam? Perutku udah laper nih mama masak apa ya malam ini?" tanya Rachel penasaran.
"Tau tuh ah palingan juga pesan online makanan lagi. Mama kan males masak." sahut Evi dengan ekspresi datar.
"Iya kamu benar Evi."
Kemudian mereka berdua melangkah dengan kompak menuju kedalam rumah tanpa merasa bersalah karena sudah membuat robek gaun satu-satunya milik Shae.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Shae datang. Shae tengah melangkah didepan rumah dengan mengendap-endap. Shae sangat berhati-hati takut kepergok oleh ibu tiri dan kedua saudara tirinya. Shae melihat-lihat sekeliling rumah, Shae akan berusaha masuk kedalam dengan memanjat jendela kamarnya.
Bersambung...