
"Kamu selama ini udah khatam sama kelemahan aku Clay. Tapi kamu juga mengetahui sedikit kelebihan yang ada pada diri aku. Tapi sayangnya aku tidak pernah tahu kelemahan apa yang ada pada diri kamu. Kamu manusia yang sempurna dan sulit sekali buat mencari kelemahan yang ada pada diri kamu. Siapapun nanti wanita yang menjadi kekasihmu dia adalah wanita yang sangat beruntung bisa memiliki suami yang sempurna seperti kamu." batin Shae berkata.
Membonceng Clay mereka berdua tengah dalam perjalanan menuju rumah pak Farhan.
Karena kejadian kemarin waktu bu kost bilang mereka pacaran ketika melihat tangan Shae memeluk perut Clay terus, sekarang Shae jadi enggan berpegangan ke perut Clay dan memilih berpegangan ke bagian belakang motor saja.
Clay merasa aneh karena tiba-tiba Shae tidak mau berpegangan lagi ke perutnya. Clay yakin pasti karena perkataan ibu kost kemarin. Clay yakin Shae tidak ingin ada orang lain yang menganggap mereka berpacaran. Padahal Clay memimpikan Shae menjadi pacarnya.
Sesampainya di persimpangan jalan Clay langsung mengerem motornya. Lampu penerangan jalan pada malam hari terlihat sudah menyala dengan cahaya temaramnya di dekat persimpangan jalan itu. Cahaya lampu itu terlihat temaram, sudah saatnya lampu yang sudah terlalu usang itu harus segera diganti dengan yang baru. Cahaya lampu temaram seperti tingkat kecerahan yang ada pada diri Shae sekarang.
"Makasih ya Clay? Aku mau balik dulu ke rumah. Mau diem-diem ambil gaun aku dan abis itu aku pasti akan secepatnya balik kesini. Sekalian juga mau mengecek kondisi bapak nanti,"
"Mau ditemenin?"
"Nggak Clay kamu disini aja. Takut ketahuan nanti kalau kita rame-rame kesana."
Kemudian Shae melangkah melewati jalanan depan komplek menuju rumah bapaknya. Sesampainya didepan rumah Shae memikirkan cara gimana caranya supaya bisa masuk kedalam tanpa ketahuan sama yang lain.
Kamarnya ada di lantai dua cukup rumit jika harus memanjat rumah dan jalan satu-satunya adalah masuk lewat pintu belakang. Jika pintu itu sudah terkunci Shae akan mencoba membukanya dengan peniti. Shae mulai berjalan menuju ke belakang rumah dengan berhati-hati. Kedua matanya terlihat awas memindai keadaan di sekelilingnya.
Tiba-tiba ada seseorang yang membuka gorden ruang tamu. Shae buru-buru bersembunyi dibalik pot tanaman takut orang tersebut melihat dirinya. Saat Shae mengintip dari balik pot tanaman siapa orang yang membuka gorden itu ternyata orang itu adalah pak Farhan.
"Bapak? Syukurlah kalau bapak baik-baik aja. Aku kira bapak lagi tiduran di kamar. Bapak pasti lagi panik banget karena aku nggak kunjung memberikan bapak kabar kalau aku lagi ada dimana. Aku janji setelah aku berhasil mengambil gaun aku dan kemudian aku pergi dari sini, aku akan segera mengabari bapak lewat chat. Aku nggak mau bapak terus-terusan panik mikirin aku." batin Shae merasa bersalah.
Tatapan kedua mata pak Farhan terlihat benar-benar menunjukkan kesedihan yang sangat jelas. Shae sangat terharu ketika melihat bapaknya yang sudah pasti sedang mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
"Bapak?" sebut Shae dengan suara pelan.
Kemudian setelah pak Farhan puas menatap luar rumah namun orang yang ditunggu belum juga pulang, pak Farhan kembali lagi masuk kedalam kamar.
Shae kembali melanjutkan perjuangannya dalam mendapatkan satu-satunya gaun miliknya. Gaun elegan yang bisa ia gunakan buat tampil di acara konser besok malam.
Shae berhasil sampai ke pintu belakang dengan aman. Ketika Shae mencoba membuka pintunya ternyata pintu itu belum terkunci.
"Aduh ceroboh sekali, meski ini memudahkan aku buat masuk tapi kalau sampai ada maling yang masuk kan gawat." ucap Shae pelan.
Lalu Shae membuka pintu itu dengan sangat berhati-hati, jangan sampai saat dirinya menggerakkan pintu bisa menimbulkan suara berdecit. Shae berjalan mengendap-endap menaiki tangga menuju lantai dua rumah ini. Rasa cemas akan ketahuan melanda dirinya. Berkali-kali Shae menoleh ke atas dan bawah takut ada orang yang memergoki dirinya.
Kaki Shae saat melangkah di tangga hampir saja terpeleset dan akan terjatuh ke bawah, Shae kurang berhati-hati karena matanya terlalu awas kesana kemari. Hingga akhirnya Shae berhasil masuk kedalam kamarnya. Saat mencari-cari gaunnya didalam lemari ternyata gaun itu sudah tidak ada lagi.
"Loh dimana gaunku dan kenapa semua baju aku pada acak-acakan? Siapa yang melakukan ini?" tanya Shae sedih.
Tiba-tiba terdengar suara obrolan dua orang wanita didekat kamarnya. Shae yakin pasti dua orang itu adalah Evi dan Rachel. Shae terlihat panik bingung mau bersembunyi dimana. Tapi akhirnya Shae memutuskan untuk bersembunyi di balik lemari saja. Ada sedikit ruang buatnya berdiri di belakang lemari.
"Loh kok pintu kamar si benalu kebuka ya? Perasaan tadi udah gue tutup deh," tanya Rachel bingung.
"Apa ada orang yang masuk kedalam ya? Yuk kita cek." ajak Evi.
Kedua cewek licik itu masuk kedalam kamar Shae dengan segera. Kedua mata elang mereka terlihat cermat dalam mendeteksi sesuatu yang kiranya menyeruak kedalam ruangan sempit ini.
"Benerkan naluriku, sekarang tidak ada seorangpun disini. Masa iya pintu kamar si benalu kebuka sendiri atau jangan-jangan bapak atau ibu yang masuk ya?"
__ADS_1
"Apa bapak tiri kita yang menganggur itu ya Vi yang barusan masuk kesini?"
"Buat apalagi kita didalam kamar jelek ini, buruan kita cabut ke kamar bapak sompret penyakitan itu!" ajak Evi seraya menggenggam pundak Rachel.
Ketika Rachel dan Evi keluar dari dalam kamarnya, Shae buru-buru kabur keluar rumah. Shae tidak sempat menemui bapaknya karena barusan Shae tahu kalau Evi dan Rachel tengah bersama menemui bapaknya di kamar.
"Gaun aku dimana ya? Kok bisa hilang. Aku curiga gaun aku diambil sama mereka berdua!" batin Shae penasaran.
Tetapi, sorot matanya terpaku kala melihat tong sampah besar didepannya. Shae melihat ada kain berwarna putih yang terjepit tutup tong sampah.
"Kain apa itu?" tanya Shae penasaran.
Shae berlekas membuka tong sampah itu dan menemukan sesuatu yang ia cari sedari tadi.
"Ini dia gaunku. Hah, ternyata gaun aku udah robek begini mana bisa dipake buat besok? Kenapa hidupku apes terus sih, aku capek banget." keluh Shae seraya bersimpuh diatas rumput.
Clay datang mengulurkan tangan kirinya.
"Raihlah tanganku?"
"Clay, aku udah capek banget. Aku capek sama kehidupanku sendiri. Aku lelah dengan kehidupan ini yang dimana kebahagiaan tidak pernah berpihak kepadaku."
"Itu tandanya kamu kurang pandai bersyukur Shae. Jangan pernah mencela kehidupan yang malang karena kehidupan ini adalah anugerah terindah. Bernafas saja adalah suatu kenikmatan masa gini doang kamu nyerah sih. Yuk kita ke butik? Aku akan beliin kamu gaun yang baru."
Shae awalnya enggan buat menerima ajakan dari Clay pergi ke butik, tapi pada akhirnya Shae mau dan kemudian Shae meraih tangan Clay. Shae bangkit dengan rasa semangat yang kembali ia bangun.
__ADS_1
Bersambung...