STAR SYNDROM PENYANYI TERKENAL

STAR SYNDROM PENYANYI TERKENAL
Kekhawatiran Pak Farhan


__ADS_3

Sesosok pria paruh baya itu tengah berdiri dengan gagah didepan sebuah bangunan bercat putih yang cukup mewah. Syal hangat berwarna hitam malam ia pasang di lehernya mengikat halus memutar dan memberikan kehangatan untuknya kehangatan yang sederhana dari sebuah benda yang sederhana.


Pak Farhan tengah menanti Shae pulang sedari kemarin tapi anaknya yang rajin dan baik itu belum juga pulang. Pak Farhan menjjadi cemas bahkan karena rasa cemasnya itu dirinya belum makan sedari siang.


PRAAAAAAAAANG


Pak Farhan langsung berjingkut kaget tatkala mendengar sesuatu yang pecah didalam rumah. Pak Farhan bergegas masuk kedalam untuk melihat apa yang tengah terjadi. Dengan langkah cepatnya pak Farhan mulai melangkah masuk menuju sumber suara benda yang terjatuh sampai pecah itu. Pak Farhan yakin pasti sesuatu yang pecah itu adalah karena istrinya yang sedang marah-marah.


Sesampainya di ruang tengah ternyata benda yang pecah itu adalah sebuah gelas. Namun gelas itu pecah bukan karena ketidaksengajaan melainkan disengaja oleh istrinya yang kejam itu, sesuai dugaan barusan.


Di belakang bu Rianti berdiri dua orang anaknya. Ekspresi mereka agak takut melihat ibu mereka yang sedang marah hebat.


"Rianti! Apa-apaan sih kamu! Gelas ini juga dibeli pakai uang, kamu main mecahin aja seenaknya!" tegur pak Farhan.


"Kamu umpetin dimana anak kamu yang nggak berguna itu hah! Sejak dia nggak pulang ke rumah semuanya jadi berantakan! Nggak ada yang mau beresin kamar, menyapu, mencuci, ngepel, semuanya kacau!" teriak bu Rianti marah-marah menghebohkan suasana.


"Apa kamu bilang? Terus apa gunanya kedua anak kamu yang manja itu! Mereka bisanya hanya makan dan main HP aja! Tidak mau membantu mengurusi pekerjaan rumah, mereka the real benalu!" lantang pak Farhan menyinggung Rachel dan Evi.


Sontak saja wajah Rachel dan Evi jadi cemberut karena malam ini bapak tirinya berani menyenggol hati mereka.


Pak Farhan melangkah kedepan bu Rianti. Sekarang jarak mereka berdua hanya sekitar 10 cm saja. Pak Farhan mendelikkan matanya tidak kalah tajam dari kedua mata istri buasnya itu.


"Bukankah orang yang kamu sebut BENALU itu sudah seharusnya pergi dari rumah karena logikanya benalu itu hanya jadi sesuatu yang menganggu saja kan? Tapi kenapa kamu masih aja mencari-cari benalu itu? Kalau memang benalu itu sudah tidak mau lagi menganggu kita disini ya biarkan saja! Biarkan dia hidup dengan nyaman diluar sana." tutur panjang pak Farhan seraya terus menatap nyalang istrinya.


"Diam kamu dasar suami penyakitan! Pokoknya kamu harus cari benalu itu sampai ketemu! Kalau benalu itu nggak ketemu-ketemu, maka jangan salahkan aku jika kamu yang harus menggantikan semua tugas benalu itu mengurus semua pekerjaan di rumah ini! Mas, berhenti menyalahkan kedua anak saya yang cantik! Mereka itu tidak boleh capek-capek beberes rumah! Suatu saat mereka itu calon istri pengusaha! Calon wanita kaya seperti mereka tidak layak melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh para babu! Ngerti kamu!" titah bu Rianti tega.


"Oke! Lebih baik aku saja yang mengurus rumah daripada Shae anakku! Lebih baik Shae hidup sendiri diluaran sana. Semoga dia baik-baik saja dan bisa fokus berkuliah dengan nyaman."


Rachel berjalan mendekati mereka berdua.


"Berkuliah dengan nyaman? Perasaan tadi pagi nggak ada tuh si benalu itu nongol di kampus. Aku yakin benalu itu sudah males kuliah dan mungkin sekarang dia lagi jadi orang yang memuaskan pelanggan di sebuah bar demi mendapat uang buat memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena dia juga sudah dipecat dari bandnya akibat kesalahannya sendiri." kata Rachel tega menjelekkan Shae didepan semua orang.

__ADS_1


"Jaga bicara kamu! Shae gak mungkin mau menjadi wanita murahan seperti itu!" sahut pak Farhan menyangkal.


"Ya itu sih cuma pemikiran aku aja ya pak. Bapak harus buka matanya lebar-lebar deh, jangan mau tertipu dengan muka sok polos benalu itu! Dia itu bermuka dua pak!"


"Cukup Rachel! Berhenti menuduh Shae yang bukan-bukan!"


"Terus aja teruuuus belain anak setan itu!" sahut bu Rianti semakin meradang.


"Oke! Mulai besok kamu yang ngerjain semuanya! Aku nggak peduli lagi! Oh iya, beresin semua pecahan gelas itu! SEKARANG!" Titah kejam bu Rianti sembari melirik kearah pecahan gelas diatas lantai.


Pak Farhan kembali bergidik kaget ketika bu Rianti mengeluarkan suaranya terkencangnya disaat ngomong kata "sekarang!". Lantas bu Rianti kembali masuk kedalam kamarnya diikuti oleh Rachel dan Evi yang juga tidak peduli kepada bapak tiri mereka.


"Ya Allah kuatkanlah hambaMu ini?" batin pak Farhan seraya memejamkan kedua netranya.


Pak Farhan mulai membersihkan pecahan gelas akibat perbuatan menyebalkan istrinya itu. Jempolnya sedikit tergores beling saat membersihkan pecahan gelas itu.


"Aww," rintih pak Farhan kemudian dirinya mengambil tisu diatas meja buat membersihkan sedikit noda darah yang mengalir.


"Shae semoga kamu baik-baik saja nak, bapak nggak henti-hentinya khawatirin kamu." batin pak Farhan berharap dengan segenap ketulusannya.


Di tengah tidur nyenyaknya didalam mimpinya Shae sebenarnya tengah bermimpi buruk. Shae bermimpi pak Farhan dipukuli oleh ibu tiri dan kedua saudara tirinya didalam kamar mandi dan Shae melihat bapaknya sampai pingsan karena kekejaman mereka bertiga. Sontak karena mimpi itu Shae jadi terbangun sembari berteriak panik.


Karena teriakannya tersebut beberapa tetangga satu kostnya pada keluar dari kamar mereka masing-masing. Mereka semua berdiri didepan kamar Shae kemudian mengetuk pintu kamar Shae.


"Shae, kamu kenapa? Kok teriak-teriak?" tanya salah satu dari mereka sembari mengetuk pintu.


Shae menghela nafasnya kemudian Shae bangkit dan membukakan pintu buat mereka. Ada tiga teman kost yang berdatangan setelah terbangun gara-gara suara teriakan gadis malang itu barusan.


"Kamu kenapa Shae?"


"Aku mimpi buruk. Maaf ya gara-gara aku kalian semua jadi terbangun. Aku telah mengganggu waktu tidur kalian?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok Shae. Kamu kalau mau tidur jangan lupa baca doa dulu ya?"


Shae mengangguk kemudian mereka semua kembali kedalam kamar mereka masing-masing. Shae kembali duduk diatas kasurnya. Ekspresi wajahnya yang cemas tak terelakkan lagi.


Shae betul-betul mengkhawatirkan bapaknya dirumah. Sudah dua hari dirinya tidak pulang ke rumah. Disisi lain Shae merasa khawatir dengan keadaan bapaknya di rumah. Apakah ibu tirinya merawat bapaknya dengan baik atau tidak?


Shae menghidupkan kembali ponselnya dan ternyata banyak sekali misscall dari bapaknya. Ada ratusan miscall dari bapaknya. Shae kembali menangis saat melihat betapa banyak jumlah misscall yang masuk ke ponselnya.


"Bapak, bapak misscall aku sebanyak ini? Apa bapak baik-baik aja dirumah? Maafin aku pak, aku pergi tanpa memberi kabar sedikitpun ke bapak. Tapi aku janji nggak lama lagi aku akan pulang ke rumah buat menengok keadaan bapak. Semoga bapak baik-baik saja disana ya?" harap Shae sembari memandang fotonya yang sedang berdua dengan bapaknya di dalam galeri ponselnya.


***


Beberapa hari kemudian,


Satu hari sebelum mini konser itu berlangsung Shae tengah kebingungan di angkringan yang biasa dijadikan tempat nongkrong dirinya dan Clay. Clay datang membawa sebungkus batagor buat Shae makan.


"Batagor pedas manis abang Revan siap disantap?" teriak Clay heboh didepan angkringan.


"Makasih Clay, kamu traktir aku terus? Stop ya abis ini jangan traktir aku lagi. Aku nggak bakal menerima traktiran apapun lagi dari kamu!"


"Sssssst, nggak boleh gitu Shae. Kamu gak boleh menolak rezeki yang datang untuk kamu. Oh iya, aku lihat kamu seperti lagi bingung?"


"Nggak, aku nggak mau cerita nanti ujung-ujungnya kamu simpati terus kamu ngeluarin uang lagi buat aku."


"Soal apalagi?"


"Aku nggak mau jawab Clay!"


"Kalau kamu nggak mau jawab oke fix persahabatan kita usai disini."


"Iih kamu ini nyebelin banget sih! Aku bingung mau pakai apa saat tampil di konser itu nanti?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2