
Dokter yang diundang oleh bu Rianti akhirnya tiba di rumah. Dokter itu memeriksa kondisi kesehatan pak Farhan. Kata dokter , tensi darah pak Farhan sangat tinggi. Dokter menyarankan agar pak Farhan tidak terlalu stress dan banyak melakukan aktifitas yang bisa membuat moodnya senang.
"Pasien harus banyak istirahat dan jangan terlalu stress. Itu tidak baik untuk kesehatannya. Penyakit kanker otak yang diderita oleh pak Farhan lama kelamaan akan berkembang maka dari itu prosedur kemoterapi harus segera dilakukan untuk menghancurkan sel-sel kanker itu." tukas sang dokter.
"Hadeuh, duit lagi duit lagi." gerutu bu Rianti kesal.
Dari pintu kamar pak Farhan, Shae tengah berdiri sembari memasang wajah sedih menatap bapaknya yang sedang terbaring lemah diatas kasur. Shae bertekad kuat mengumpulkan uang hasil dia manggung dari cafe ke cafe demi biaya pengobatan bapaknya.
Apalagi sekarang bapaknya selalu siap pasang badan saat dirinya sedang ditekan oleh ibu tiri dan kedua saudara tirinya. Dokter itu meresepkan obat-obatan yang harus segera ditebus oleh keluarga pak Farhan di apotik, setelah itu dokter itu pun pergi dari rumah mereka.
Bu Rianti membaca kertas yang diberikan oleh dokter itu. Total uang yang harus digunakan buat menebus obat-obatan itu mencapai ratusan ribu tapi bu Rianti sedang tidak memegang uang begitu juga dengan Rachel dan Evi.
Meski begitu perhiasan yang dipakai oleh bu Rianti begitu mentereng dan banyak menghiasi badannya. Bahkan di jari jemari bu Rianti banyak sekali cincin-cincin mewah yang terpasang. Menjual satu saja rasanya cukup untuk mengcover biaya penebusan obat hari ini.
Shae melangkah menghampiri bu Rianti kemudian mempertanyakan soal resep yang harus segera ditebus itu.
"Ibu harus segera pergi ke apotik buat menebus obat-obatan itu. Bapak segera membutuhkan obat itu buat memulihkan kembali kesehatannya." pinta Shae dengan nada suara yang begitu lembut.
Bu Rianti melempar kertas itu ke muka Shae kemudian ia kembali marah-marah.
"Gak sudi! Bapak kamu begini gara-gara semalaman dia nungguin kamu yang gak pulang-pulang didepan rumah! Semua ini salah kamu! Saya gak sudi ya keluar uang buat biaya pengobatan bapak kamu! Semalam saya udah bilangin ke bapak kamu buat segera masuk kedalam rumah tapi dia ngeyel! Kamu urus sendiri tuh bapak kamu dasar anak yang nggak berguna!" jengkel bu Rianti kemudian keluar dari dalam kamar.
Shae menghapus air matanya kemudian duduk di samping bapaknya. Shae memegang lembut telapak tangan bapaknya kemudian dia berkata,
"Ibu tiri benar-benar keterlaluan. Bapak yang kuat ya? Bapak pasti akan segera sembuh. Aku akan mengusahakan mencari uang buat biaya pengobatan bapak. Aku mau pergi kuliah dulu ya pak? Aku pasti akan selalu menjagamu pak." ucap Shae sendu kemudian bibirnya mengecup manis tangan bapaknya.
Selepas itu Shae mulai siap-siap buat berangkat ke kampus menempuh pendidikannya.
__ADS_1
***
Sesampainya di kampus Shae bertemu kembali dengan Mila yang sedang duduk menyendiri diatas kursi taman. Shae tersenyum kemudian melangkah menghampiri Mila. Shae ikutan duduk di samping Mila kemudian menyapa Mila dengan ramah.
"Pagi Mila? Kamu cantik banget pagi ini."
"Iya muka aku emang cantik, nggak kaya muka kamu yang pas-pasan itu, ups!" balas Mila sewot.
"Iya aku tahu wajahku emang pas-pasan, tapi kenapa kamu tega bilang seperti itu kepadaku? Sebelumnya kamu belum pernah berkata seperti ini? Aku punya salah apa sama kamu Mil? Kita ini kan bestie?"
"Hah, bestie lo bilang? Mulai sekarang nggak ada sebutan bestie lagi diantara kita! Hubungan pertemanan kita udah end!" kesal Mila kemudian Mila bangkit dari duduknya tapi Shae buru-buru menarik kuat tangan Mila hingga Mila terduduk lagi diatas kursi.
"Iih! Kamu ini apa-apaan sih! Aku mau pergi! Aku nggak sudi temenan sama kamu lagi!"
"Mila? Salahku apa sama kamu? Kamu pikir soal kejadian semalam itu, aku yang minta ke Clay buat marahin kamu? Nggak! Jadi kamu jangan bersikap kayak gitu sama aku dong? Sekarang Clay sedang dirawat di rumah sakit."
"Clay kenapa?"
"Semalam, Clay ngantarin aku pulang naik motor. Tapi dijalan ada preman-preman jahat yang mau nyerang kita. Dia nyuruh aku pergi dan Clay menghadapi semua preman itu sendiri. Clay babak belur ditangan preman-preman itu."
Penuturan Shae membuat Mila menjadi semakin benci kepada Shae.
"Kamu ini ya selalu saja menjadi biang masalah! Selama ini aku tahu kamu itu dibenci sama keluarga kamu. Sekarang aku tahu alasannya kenapa mereka semua pada benci banget sama kamu dan mereka menganggapmu sebagai benalu dalam keluarga kamu! Itu karena kamu adalah manusia pembawa masalah! Sadar dong benalu! Clay jadi masuk rumah sakit gara-gara kamu!"
"Bahkan sekarang sahabat terbaik aku ikut-ikutan menganggapku sebagai seorang benalu? Ucapan kamu jahat sekali Mila!"
"Udah ya! Nggak penting buat aku ladenin kamu terus! Bilang dimana Clay dirawat! Pulang kuliah aku mau langsung nengo dia. Bawain makanan kesukaan dia dan juga menemani dia. Tapi aku gak sudi datang kesana barengan sama kamu!"
__ADS_1
"Mila, please Mil? Jangan gini sama aku?"
"Aku nggak peduli Shae! Minggir kamu!" bentak Mila kemudian melangkah sembari sedikit menabrak badan Shae.
Banyak anak-anak kuliahan lain yang sedang mengamati pertengkaran yang sedang terjadi diantara Shae dan Mila. Termasuk Rachel dan Evi, dua saudara tiri Shae yang selalu membenci Shae.
"Hahaha, mampus lo benalu!"
"Iya Evi, mampus dia, hahaha." tawa Evi dan Rachel dari belakang Shae. Mendengar suara tawa itu Shae menoleh kearah mereka berdua dengan tatapan kecewa.
"Eh itu lihat, si benalu lagi lihatin kita tuh!"
"Iya tuh yang abis dimarahin sama mantan bestienya, ups! Lama-lama semua orang yang dekat dengan dia pasti akan merasa benci juga dan akhirnya dia akan dijauhin sama semua orang!"
"Dia itu memang the real parasit ya Vi. Dia emang pantes buat dibenci! Udah yuk, daripada kita disini mulu dilihatin sama dia mendingan kita jajan aja di kantin?"
"Yuhuu, let's go Rachel." ajak Evi sembari memegang tangan Rachel.
Tapi Evi baru teringat kalau sebenarnya mereka hari ini tidak membawa uang sepeserpun.
"Bentar! Kita gak punya uang kan? Kita mau bayar pakai apa Rachel!"
"Pakai apa ya? Ah tenang aja Vi! Kita minta lagi aja duitnya si benalu. Semalam kan dia abis manggung tuh pasti dia lagi megang duit banyak!"
Shae buru-buru berlari tatkala mendengar omongan Rachel dan Evi yang pasti mereka berniat mau merampas uangnya kembali padahal Shae mau menggunakan uang itu buat menebus biaya obat pak Farhan.
Bersambung...
__ADS_1