STAR SYNDROM PENYANYI TERKENAL

STAR SYNDROM PENYANYI TERKENAL
Menyendiri Di Bukit


__ADS_3

"Cewek benalu kurang ajar! Beraninya lo mukul gue hah! Terima ini!" Evi menonjok perut Shae menggunakan tangan kanannya.


Hantaman tangan itu kembali membuat perutnya terasa sakit. Shae kembali merintih kesakitan. Diperlakukan kasar oleh tiga cewek jahat sekaligus rasanya menyedihkan.


"Hahaha, enak? Giliran gue Vi, sekarang gue yang akan membalaskan dendam lo secara langsung. Terima ini cewek murahan!" Rachel menambah penderitaan Shae dengan memukul wajah Shae.


"Aw." rintih Shae terjatuh ke lantai.


Sedikit darah keluar dari sudut bibir Shae yang malang. Disaat Shae terjatuh Shae melihat sebuah gunting berkarat dibawah kursi. Shae yakin pasti gunting itu adalah gunting lama yang sekarang sudah menjadi barang bekas. Shae bergegas mengambil gunting itu lalu mengacungkan gunting itu kepada mereka bertiga para antagonis wanita.


"Aku nggak akan segan-segan melukai kalian menggunakan benda tajam ini kalau kalian terus menerus menyakiti aku disini!" ancam Shae berbalik mengancam mereka.


Evi dan Rachel tampak agak takut melihat ancaman yang Shae lakukan tapi tidak dengan Mila. Mila tetap berani melawan Shae.


"Lo pikir gue takut denger ancaman lo? Sayangnya nggak! Mana mungkin lo berani melukai orang lain dengan benda tajam seperti itu!" jawab Mila sembari memasang wajah berani.


"Mil, kalau gue sih ogah ya ngelawan dia disaat dia megang benda tajam seperti itu, bahaya tahu! Udah yuk kita hentikan saja" bisik Evi ditelinga Mila.


Shae bergegas membuka pintu gudang lalu berlari pergi dari kampus.


"Woy mau kemana lo!" teriak Mila kencang.


Shae berlari pergi sembari menangis meninggalkan kelasnya yang belum selesai hari ini.


"Dia kabur gais!" tukas Rachel kesal didepan pintu. Mereka bertiga mengamati Shae yang berlari terbirit-birit ditengah taman kampus.


"Kita kejar aja! Greget gue sama itu anak." sahut Mila ambisius.


"Nggak usah Mil ntar kalau itu sampah balik lagi kita bully lagi aja. By the way thank's ya karena lo sekarang ada di pihak kita? Cewek sampah itu emang pantes kita bejek-bejek tau nggak sih," ucap Evi senang.


"Yoih. Gue udah lama muak sama tingkahnya dia. Dia itu cewek binal murahan berkedok sopan santun tau nggak sih!" tuduh Mila.

__ADS_1


"Yups! Pokoknya kita bertiga harus selalu kompak dalam membuat hari-hari itu cewek menjadi menderita." sahut Rachel excited menunggu penderitaan Shae selanjutnya.


***


Bulan purnama memantulkan cahaya matahari dengan terang di malam yang dingin dan sunyi ini. Ditemani cahaya senter via fitur senter di ponselnya, Shae menyendiri diatas bukit Angsa. Bukit tinggi nan luas yang selalu menjadi tempatnya buat merenungi kehidupannya. Sembari menatap indahnya perkotaan dari atas bukit ini.


Kebetulan malam ini bukit ini sedang sepi. Biasanya kalau malam minggu atau malam liburan pasti bukit ini selalu ramai kedatangan para anak muda yang bermain kembang api atau membuat api unggun. Diatas bukit ini juga ada gubug kecil yang bisa digunakan buat tempat tidur yang nyaman.


Dua ekor kunang-kunang yang cantik terbang, hinggap di hidung Shae. Shae membiarkan kunang-kunang cantik itu terus menempel dengan nyaman di hidungnya. Shae tersenyum setelah sedari tadi terus bersedih. Kunang-kunang ini seolah datang buat menghiburnya.


Setelah puas hinggap di hidung mungil Shae, kunang-kunang itupun terbang pergi.


"Sampai jumpa kunang-kunang yang cantik, terimakasih atas sepuluh detiknya yang berharga. Kamu barusan berhasil membuatku kembali tersenyum walau cuma beberapa centi saja." ucap Shae ceria.


"Kalau kunang-kunang itu hanya berhasil membuatmu tersenyum beberapa centi saja, semoga aku berhasil membuat kamu kembali tersenyum lebar selebar danau yang indah." sahut seorang laki-laki yang suaranya tidak asing lagi.


Tiba-tiba Shae mencium aroma parfum yang sudah tidak asing lagi. Parfum laki-laki yang sudah ia kenal dekat sejak lama. Apa mungkin Clay ada disini?


"Clay? Itu beneran kamu?" tanya Shae seolah tidak percaya melihat sahabat terbaiknya datang buat menyusulnya kesini.


"Tadi aku cari kamu ke rumah tapi kata bapak kamu, kamu belum juga balik. Jadi aku yakin kamu ada disini, pasti disini. Kamu berani sendirian disini?" jawab Clay seraya duduk di samping Shae.


"Berani. Bukannya kamu pulang besok ya dari rumah sakit?"


"Aku mempercepat kepulanganku dari jadwal yang seharusnya. Aku udah bosan setengah mati disana. Walau baru beberapa hari saja tapi aku udah kangen rumah, kangen lingkungan sekitar, kangen bukit ini, kangen kamu juga bestie."


"Makasih ya kamu mau anggap aku sebagai teman kamu. Aku merasa terharu banget."


"Biasa aja kali Shae. Kita kan udah kenal dari kecil. Ngomong-ngomong gimana persahabatan kamu dengan Mila?"


"So bad. Mila udah nggak mau anggep aku lagi jadi temen dia. Mila juga udah pecat aku dari The Suamas Band. Sekarang aku bingung harus cari uang dengan cara apa buat biaya kuliah dan pengobatan bapak."

__ADS_1


"Keterlaluan! Besok di kampus kalau ketemu Mila aku janji akan memarahi dia habis-habisan. Kurang ajar sekali dia berani depak kamu dari grup bandnya. Lagian selama ini semua orang nonton pertunjukan The Suamas Band ya karena kamu Shae. Kamu adalah separuh nafas bagi band itu."


"Nggak Clay, jangan marahin Mila ya? Aku nggak mau suasana menjadi semakin rumit. Aku nggak apa-apa kok Clay ya meski hati aku sedih banget."


"Tapi selama ini uang yang kamu dapatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup kamu kan dari hasil menyanyi bersama band itu?"


"Iya Clay, itu yang sedang aku pusingin sekarang. Sepertinya aku mau mencoba melamar kerja aja. Aku mau mencoba mencari kerja sampingan aja Clay."


"Kamu bisa membagi waktu kamu antara kerja dan kuliah?"


"Akan aku usahakan."


"Aku jamin suatu saat The Suamas Band pasti akan menyesal karena udah membuang penyanyi sebagus kamu."


Shae diam saja, perasaan sedih benar-benar membuatnya kacau.


"Besok aku bantu kamu cari lowongan pekerjaan ya? Tapi sebelum itu kamu harus sering latihan dulu buat persiapan tampil di acara mini konser komunitas kesenian yang aku ikuti itu."


"Apa? Apa aku terpilih menjadi salah satu penyanyi yang boleh tampil di konser musik itu?"


Clay mengangguk dengan sumringah.


"Setelah rapat sengit antar tim sukses konser musik kemarin, kemudian setelah hasil rapat selesai mereka kemarin mengabari aku bahwa mereka memutuskan memilih kamu sebagai salah satu penyanyi yang boleh tampil disana. Mereka tertarik setelah mereka menonton video perform kamu di cafe Roselia. Mereka semua tertarik setelah mendengar suara kamu yang berkelas itu. Tapi salah satu dari tim sukses kita awalnya enggan memilih kamu karena..."


"Karena aku nggak cantik kan Clay?" ucap Shae langsung memotong pembicaraan Clay.


"Sudah lupakan saja, tapi yang penting kan kamu terpilih buat tampil di acara konser musik itu kan?"


"Iya Clay, aku tidak mau  menyia-nyiakan peluang ini. Disana ada produser musik yang hadir. Aku akan menampilkan kemampuanku sebaik mungkin. Kalau udah rezeki aku, mungkin aku akan ditawari rekaman sama produser itu."


"Aamiin." ucap Clay.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2