STAR SYNDROM PENYANYI TERKENAL

STAR SYNDROM PENYANYI TERKENAL
Ibu Tiri Benalu


__ADS_3

"Woy si tikus got itu kabur! Ayo kita kejar dia!" pekik Rachel kaget.


"Ayo!" sahut Evi seraya melotot-melotot.


Shae berlari ditengah banyaknya kerumunan mahasiswa dan mahasiswi. Banyak dari mereka yang keheranan melihat Shae berlari sepanjang area di kampus.


"Kenapa tuh anak?"


"Palingan ada yang mau bully dia makannya dia lari-lari ketakutan kek gitu."


Tanya dan jawab beberapa mahasiswa yang melihat Shae berlari kepanikan.


Shae sembunyi didalam gudang kampus, disini adalah tempat yang cukup aman buat dirinya bersembunyi. Shae bagaikan seekor kelinci yang sedang melindungi dirinya didalam sebuah lubang kecil, ketika tangan mengerikan berkuku tajam dari seekor harimau tengah berusaha mendapatkan kelinci itu dengan meraih menghancurkan lubangnya.


Uang hasil manggung semalam jangan sampai direbut kedua saudari tirinya. Uang itu sangat amat penting buat biaya membeli obat bapaknya.


"Jangan sampai uangku hasil manggung semalam direbut lagi sama mereka, setelah kemarin aku menunda pembayaran UTK sekarang aku gak mau lagi kalau sampai bapak gak punya obat buat memulihkan kesehatannya."


Rachel dan Evi berhenti berlari mengejar Shae di depan pintu gudang.


"Vi tadi tikus got itu lari ke arah sini kan? Tapi dimana dia? Ngumpet dimana tikus got itu ya?"


"Buruan kita cari dia! Perutku udah laper banget nih pengin jajan."


"Vi, kita adalah sepasang kucing yang siap menerkam mangsa kita yaitu si tikus got itu!"


"Tentu saja Rachel, kita cari tikus itu didalam gudang kampus ini sampai ketemu. Bukankah tikus itu sukanya bersembunyi didalam gudang seperti ini kan Hel?"


"Kamu benar Evi, ayo kita masuk, hai tikuus sedang apa kamu didalam?"


Mereka berdua bersuara layaknya orang yang yakin bahwa orang yang sedang mereka cari-cari itu ada didalam gudang kampus. Mereka berdua membuka pintu gudang kemudian masuk kedalam mencari keberadaan Shae dengan perlahan.


"Tikuus? Keluarlah? Pasti kamu sedang berada disini kan? Serahin uang kamu tikus? Atau kamu mau kita bully lagi, hah?" ucap Evi mencari-cari Shae dengan nada suara yang dilembut-lembutkan.


"Kemana sih tikus itu? Tikus sebesar itu tapi sulit buat ditemukan. Apa jangan-jangan ada dibawah kolong meja ya!" tukas Rachel sembari menundukkan kepalanya ke bawah meja tapi ternyata ada tikus beneran dibawah meja itu!


Sontak saja mereka berdua yang jijik sama binatang pengerat itu bergegas berlari kocar-kacir keluar dari dalam gudang.


"Haaaaaaaa! Tikuuuuus! Jijik banget siiih!" teriak Evi seraya jingkrak-jingkrak.


"Tadi tikusnya hampir gigit kaki aku Evi!" isak Rachel panik bin lebay didepan pintu gudang.

__ADS_1


Beberapa mahasiswa berdatangan setelah mendengar teriakan mereka berdua.


"Woy ada apa sih kalian berdua teriak-teriak?" tanya seorang dari mereka.


Evi dan Rachel bingung mau menjelaskan apa kepada mereka.


"Kita lagi mencari Shae, kita kira Shae lagi bersembunyi didalam sini tapi ternyata banyak tikus yang menjijikkan disini eouh." jawab Evi.


"Halah! Alasan aja! Pasti kalian berdua mau maling benda-benda disitu kan? Ngaku!" sahut mahasiswa yang lain curiga.


"Jaga tuh bacotan elo-elo pada yak! Masa cewek secantik kita mau maling barang bekas sih! Udah yuk Evi gausah ladenin bacot sampah mereka, mendingan kita balik aja ke kelas!


"Ayo Rachel."


"Huuuuu, huuuuu, huuuuuu!!!" semua mahasiswa yang berdatangan itu kompak menyoraki mereka berdua.


Sementara itu didalam lemari didalam gudang Shae tengah bernafas lega karena Evi dan Rachel gagal mengambil uangnya.


***


Cuaca panas ditengah jalan


Air mata itu menetes jatuh keatas aspal. Tapi air mata yang sedikit membasahi aspal itu tertutup oleh dedaunan kering yang beterbangan tertiup angin. Di tangan kanannya memegang satu kresek putih berisi obat-obatan untuk bapaknya. Di punggungnya memikul sebuah tas berisi buku-buku penting anak kuliahan.


Sesampainya di rumah Shae langsung masuk kedalam rumah. Di sofa ruang tamu sedang duduk wanita yang selalu melukai hatinya selama ini, bu Rianti.


"Ibu tiri?" sapa Shae sembari berjalan cepat.


"Tunggu!" pekik bu Rianti mencegah Shae yang terus berjalan dengan langkah cepat.


"Ada apa bu? Aku harus segera memberikan obat ini untuk bapak."


"Taruh dulu obat itu diatas meja, kamu kesini,"


Shae menghela nafas kemudian meletakkan satu kresek putih berisi obat itu diatas meja. Lantas setelah itu Shae berdiri didekat ibu tirinya.


"Ada apa bu?"


Bu Rianti mengambil uang sebesar dua ratus ribu dari dalam dompetnya.


"Ibu udah punya uang? Punya uang darimana?"

__ADS_1


"Minjem teman tadi. Ini kamu belikan saya pizza dulu sana. Yang harganya murah aja."


"Bapak udah makan siang kan bu?"


"Udah kok!"


"Kenapa gak order online saja bu? Kan banyak yang jual pizza murah di online?"


"Hemat ongkos ya! Kamu tahu kan sejak bapak kamu sakit-sakitan hidup kita jadi serba kesusahan! Buruan sana pergi ke restoran terdekat, jalan kaki beli pizza!"


"Iya. Tapi ibu jangan lupa minumkan obat ini ke bapak ya?"


"Hm!"


Kemudian Shae melangkah keluar rumah buat membelikan sesuatu yang diperintahkan oleh ibu tirinya. Tak berselang lama Shae kembali ke rumah dengan membawa satu box pizza pesanan bu Rianti. Shae menahan rasa lapar dan dahaga demi memuaskan keinginan ibu tirinya.


Begitu juga dengan kedua kaki Shae yang rasanya sudah gempor setelah berjalan dengan durasi yang lama sedari tadi. Shae menaruh box pizza itu diatas meja makan kemudian Shae masuk kedalam kamar bapaknya.


Pak Farhan masih tertidur dengan pulas. Diatas meja kecil di samping ranjang hanya ada sepotong apel dan segelas air putih. Suara dengkuran itu terdengar jelas.


"Bapak sudah minum obatnya belum ya, kok badan bapak masih panas?" ucap Shae bingung sembari menempelkan tapak tangannya diatas dahi pak Farhan.


Merasa ada sesuatu yang memegang dahinya, pak Farhan pun terbangun.


"Shae? Kamu udah pulang nak?"


"Udah. Bapak udah minum obat kan?"


"Obat apa? Sedari tadi bapak hanya minum air putih saja dan makan apel dikit. Tubuh bapak rasanya lemas sekali. Memangnya sudah ada obatnya nak?"


Shae yakin pasti bu Rianti belum memberikan obat itu untuk bapaknya.


"Bapak tunggu disini bentar ya aku mau cari ibu."


Shae keluar dari dalam kamar pak Farhan kemudian pergi mencari-cari keberadaan ibunya didalam rumah. Ternyata bu Rianti sudah duduk di meja makan sembari menggigit pizza yang lezat.


"Bu! Kenapa ibu belum berikan obat itu buat bapak? Kasihan bapak bu! Kapan dia sembuhnya kalau obatnya belum juga diminum? Dimana obat itu sekarang? Aku mau berikan obat itu sekarang buat bapak. Buat bapak yang selama ini selalu bekerja keras untuk kita!"


"Ibu nggak tahu obatnya ada dimana. Tadi waktu ibu tinggal bentar ke toilet obat dimeja ini udah gak ada Shae." jawab bu Rianti berbohong.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2