
Mendengar jika wanita yang selama ini ingin di nikahinya ternyata adik kandungnya membuat Malik terdiam. Entah apa yang kini dia rasakan.
Entah dia harus bahagia atau sedih dengan kenyataan yang di hadapinya. Berbeda dengan Malik,kini Gio yang tau bahwa dia memiliki kakak dan adik. Yang lebih menyakitkan baginya adalah wanita yang sangat dia cintai dan mencintainya ternyata adik kandungnya,bahkan dia merasa sangat sedih karena pernah menyakiti hati wanita tersebut. Rani pun kini merasa terpukul akan kenyataan yang dihadapinya,semua terasa bagai mimpi baginya,dia pun memandang Gio dengan sedih karena bagaimana pun dia sangat mencintai Gio setelah kebersamaan mereka selama ini. Gio pun memandang Rani dengan Wajah sendu,dia pun tidak menyangka kalau wanita itu adiknya,hatinya terasa sakit. Bagaimana dia akan memperlakukan Rani,sebagai adik namun perasaannya mencintai sebagai seorang kekasih.
David pun hanya bisa memeluk Rani,bagaimana pun dia adalah orang yang selama ini menemani Rani sedari kecil.
" beruntung Rani berada pada keluarga yang baik hati."ucap bu Mayang dan di benarkan oleh Sinta.
Rani kini merasa terpukul akan kenyataan itu membuatnya terdiam saja,dia pun kini hanya menatap dengan pandangan kosong. Sinta pun segera mendekat pada Rani dan mengelus punggungnya untuk memberi kekuatan namun tanpa sengaja dia merasakan kalau Rani sedikit lain,dia pun segera menepuk wajah Rani yang seperti kehilangan jiwanya.
" Ran,kamu baik baik aja kan?" tanya Sinta pelan membuat semua yang ada di ruangan tersebut khawatir terhadap Rani. Sinta segera menggenggam tangan Rani yang terasa sedingin es dan dia pun segera memberi tahu David. Pandangan Rani pun tidak berubah masih seperti tadi,semua orang kini mulai panik akan keadaan Rani. Gio pun segera mendekat dan memeluknya berharap Rani kembali sadar. Entah kemana jiwanya menghilang yang membuat dia seperti ini.
" kita bawa ke dokter langganannya saja kak." ucap Sinta dan di setujui oleh semuanya. Mereka pun segera membawa Rani ke psikiater langganannya.
Mereka harap Rani baik baik saja.
" kenapa Rani bisa berlangganan psikiater?" tanya Gio dan Malik bersamaan membuat Malik menghela nafas kasar.
"Sejak dia bermasalah sama mantan suaminya dia mulai konsultasi sama spikiater,sebenarnya dia tidak boleh shock atau terkejut berlebih karena itu akan memicu dia seperti mayat hidup." jelas David membuat Gio terguncang,dia pun menangis mendengar akan yang terjadi pada adiknya,wanita yang pernah jadi kekasihnya tersebut.
" kak,kita langsung ke rumah sakit saja tempat dokter Maya kerja,tidak usah di praktiknya." perintah Sinta dan mereka semua pun ke rumah sakit.
Mereka semua pun kini hanya diam dengan pikiran masing masing.
__ADS_1
Sesampai di rumah sakit mereka segera membawa Rani,dan memanggil dokter langganan Rani.
Dokter Maya pun segera menemui mereka, melihat keadaan Rani yang seolah tak sadarkan diri dokter Maya pun berdecak kesal dan dia langsung menghadap ke David.
" lo lupa yang gue bilang dulu Vid? Ini bisa membuat dia kritis,bukankah gue sudah bilang jangan bikin dia syok berlebihan." ucap dokter Maya yang ternyata teman David juga.
" ini semua diluar kehendak kami May,sebuah berita membuat dia syok." ucap Sinta yang memang sudah kenal sama dokter Maya.
Rani pun segera di tangani,kini matanya tertutup namun nafasnya yang seperti orang asma.
" dokter Maya,pasien tekanan darahnya menurun dan nafas sesak." lapor salah satu perawat yang menangani Rani.
" dok,badannya dingin dan kuku nampak berubah warna ini sebenarnya kenapa dok?" tanya Sinta yang ikut masuk untuk mendampingi pasien. Dokter Maya pun segera melakukan rangkaian perawatan pada Rani,agar bisa kembali seperti semula. Tak lama kemudian badan Rani kembali hangat,dan nafas sudah teratur.
" sebenarnya apa yang terjadi Sin? Kenapa Rani sampai seperti ini lagi?" tanya dokter Maya. Kemudian Sinta pun menceritakan semua yang terjadi dan hak itu pun membuat dokter Maya syok.
Setelah beberapa jam, akhirnya Rani kembali sadar. Badannya pun lemas dan wajahnya pucat.
" kak?" panggil.Rani dengan suara lemah,dengan segera Sinta pun mendekat.
" ada apa dek? Kamu jangan banyak bicara dulu ya supaya cepat pulih." ucap Sinta,dan kini air mata Rani kembali menetes dengan derasnya membuat Sinta sedih melihatnya dan segera memeluknya,Rani pun sesenggukan dalam pelukan Sinta membuat Sinta semakin trenyu mendengar tangisan Rani.
Sedangkan di tempat lain, Malik dan Gio bersama David dan bu Nancy.
__ADS_1
" sebenarnya di mana orang yang merawat Rani?" tanya bu Nancy sama David.
" mereka semua sudah meninggal tante dan setelah mereka meninggal Rini tinggal bersama saya sambil belajar mengelola perusahaan orang tuanya sampai dia menikah." ungkap Malik dan kemudian menceritakan semua perjalanan Rani,hal itu membuat bu Nancy semakin merasa bersalah karena sudah menyakiti hati Rani. Mereka pun akhirnya kembali ke rumah sakit karena panggilan dari Sinta kalau Rani sudah siuman.?
Sesampainya di rumah sakit mereka melihat Rani yang masih dalam pelukan Sinta. Mereka semua terdiam menyaksikan semua itu. Rani yang akhirnya sadar kalau keluarganya semua telah kembali dia pun memaksakan tersenyum pada mereka semua,dia pun meminta untuk bicara Gio.
" ada apa sayang? Kamu harus kuat ya,kamu harus sembuh agar kita bisa merebut kembali perusahaan itu." ucap Gio sambil mengelus kepala Rani,dan Rani hanya memejamkan matanya.
" kak,aku minta kakak mengurus semua perusahaan,bersama kak David,aku ingin istirahat kak. Aku cukup lelah dengan keadaan ini. Aku tidak bisa menghadapi semua ini kak. Sangat menyakitkan bagiku." ucap Rani terbata bata membuat Gio merasa terpukul akan ucapan Rani.
" dengar dek,kamu harus kuat,banyak yang menyayangimu mereka semua ingin kamu bangkit. " ucap Gio membuat Rani kembali terdiam,nafasnya pun kembali sesak dengan segera David memanggil dokter,segera kemudian mereka menangani Rani namun tekanan darah Rani semakin menurun,dia pun semakin drop. Dokter Maya pun segera memanggil dokter spesialis untuk membantu menangani Rani. Tiba tiba Rani membuka mata di tengah kepanikan para dokter,dia hanya menggelengkan kepala kepada dokter Maya,tanda jika dia tidak sanggup lagi. Dokter Maya pun meneteskan air mata melihat Rani.
" Tidak Rani,kamu harus kuat." teriak dokter Maya membuat orang di luar ruangan terkejut,David dan Sinta pun terkejut mereka sangat cemas mendengar teriakan Dokter Maya.
" MAAF." ucap Rani kemudian menutup matanya. Dokter Maya pun berteriak meminta perawat dan dokter spesialis tersebut membantunya namun mereka menggelengkan kepala. Rani telah pergi.
Dokter Maya pun keluar dengan berurai air mata,dia tidak mengatakan apa apa dan hanya langsung memeluk Sinta,dia menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Sinta langsung histeris dan melepaskan pelukan dokter Maya kemudian berlari menuju ruangan Rani,disusul sama David,mereka semua tidak menyangka kalau Rani harus pergi. Mereka semua terpukul akan peristiwa ini. Di saat mereka seharusnya kumpul berbahagia justru malah Rani harus pergi. Gio tidak bicara apa pun dia hanya menangis tanpa suara. Ternyata permintaan tadi adalah permintaan terakhir Rani, Sinta pun ter duduk di lantai dan David yang melihat sang istri pun segera memeluknya. Dia takut akan kandungan sang istri.
" semuanya,kalian harus ikhlas. Ayo kita urus jenasah Rani." ucap bu Nancy mencoba tegar.
Akhirnya mereka semua pun keluar dan Malik mengurus segala sesuatunya,Gio pun hanya terdiam.
" semoga kamu bertemu sama Rasya dek,kalian adalah orang baik. Aku janji akan merebut perusahaan kita." ucap Gio kemudian menghapus air matanya.
__ADS_1
#maaf ceritanya harus berakhir