Suamiku Diatur Mertuaku

Suamiku Diatur Mertuaku
bab 6


__ADS_3

Bang Ardi benar benar marah atas apa yang ku lakukan,dia pun harus merogoh tabungannya. Aku yakin dia pasti akan meminta hak pada rumah itu,tapi aku sudah pikirkan itu semua.


Di rumah aku tidak bisa tenang,mertua yang sok berkuasa dan kakak ipar yang jelalatan tiap memandang. Aku sudah tidak betah serumah sama mereka. Sepertinya aku harus menendang mereka satu per satu deh,aku harus mulai dari kak Johan sepertinya. Kak Johan orangnya sangat mudah terpancing,dia selalu mengedepankan nafsu dari pada akal pikiran. Kini aku tau harus apa buat kak Johan ditendang dari rumah ini.


Aku pun bangun membuat sarapan,cukup nasi goreng dan telur ceplok. Dimakan syukur,tidak dimakan juga biarin aja. Tumben nih mertua rapi pagi pagi,biasanya juga lusuh.


" ini aja sarapannya Ran?" tanya ibu.


" iyya bu,kan aku belum ada uang belanja." ucapku.


" kamu tidak usah dikasi makan aja sekalian,uang Ardi habis bayar utang kamu. Gak punya kerja tapi mau berutang,dasar gak punya otak." omel ibu.


" gimana gak utang bu,aku mau makan tapi suami gak nafkahi aku,ya aku cari cara dong." ucapku.


" Ran,jadi sertifikat rumah ini mana,kan aku sudah bayar jadi harusnya sertifikat itu dikembalikan?" tanya bang Ardi,aku pun mikir keras alasanku.


" betul itu,ibarat ya ini rumah Ardi sudah tebus jadi harus jadi miliknya." cerocos ibu mertua ampun bawelnya,tiap ada masalah aku sama bang Ardi pasti dia dahuluan. Bang Ardi juga selalu kayak kerbau di cucuk hidungnya sama ibu.


" loh emang kemarin gak dikasi ke abang waktu abang bayar?" ucapku pura pura terkejut.


" apa maksud kamu Ran? Tanya bang Ardi.


" kan abang yang kasi uang,kenapa gak minta surat rumah ini?" ucapku pura pura kesal. Mereka semua akhirnya melongo mendengar ucapanku.

__ADS_1


" Jadi,gimana dong kalau surat rumah masih di tahan sama rentenir?" ucap ibu.


" Bang Ardi sih ku bego banget,bayar tapi gak ambil surat rumah,ceroboh banget." ucapku pura pura marah. Dalam hati aku tertawa karena kecerobohan bang Ardi,untung sebenarnya tukang tagih itu anak buah kak David,tidak bisa ku bayangkan kalau itu beneran rentenir.


" terus kwitansi pelunasan mana bang?" tanyaku lagi uang pastinya itu tidak akan ada.


" mereka tidak ngasih." ucap bang Ardi lemas,benar benar ceroboh. Mereka kini semua terdiam,aku pun diam diam chat kak david menceritakan kecerobohan bang Ardi dan memberi tahu rencanaku. Aku akan pura pura telepon rentenir.


" ya udah aku coba telepon rentenir itu." ucapku pura pura padahal yang akan ku telepon adalah kak David dan skenario sudah tersusun


" halo abang,ank buah abang kemarin ke rumah ambil pelunasan tapi kenapa surat rumah aku tidak dikasi bang?" aku meloudspeaker agar mereka mendengar,dan aku yakin kak David di sana pasti menahan tawa.


" berapa nomor kwitansi pelunasan kamu Ran,bisa sebutkan nomor seri nya?" ucap kak david,ada ada aja kwitansinya pake nomor.seri.


" ya gimana aku yakin kalau kamu sudah bayar lunas,kamu gak ada bukti. Jadi aku anggap itu belum lunas ya,kalau kamu mau surat rumah kamu ya harus bayar." ucap kak David,yang pastinya dia cekikikan di sana,aku pun menggigit bibirku supaya tidak tertawa. Tampak muka ibu masam.


" ya gak bisa gitu dong,anak saya sudah bayar masa bayar lagi." ucap ibu emosi. Aku pun menutup telepon dan semuanya kini terdiam,aku harus akting apa lagi ya supaya membuat bang Ardi merasa bersalah karena tidak minta bukti pelunasan. Aku pun pura pura terisak .


" rumah yang ku beli dengan hasil keringatku ini nantinya bakalan disita,abang sih kenapa bodoh sekali tidak minta bukti pembayaran. Aku gak mau kehilangan rumah ini." ucapku terisak dan bang Ardi menyugar rambutnya. Dia pasti frustasi sekarang,karena uangnya hilang begitu saja.


" ini semua karena kamu ngutang sama orang itu." bentak bang Ardi tiba tiba.


" abang nyalahin aku?? Harusnya abang salahin diri sendiri dong,aku gak bakalan ngutang kalau abang ngasih aku nafkah. Kalau abang gak sanggup nafkahin aku ya sudah kita cerai,talak aku sekarang bang." ucapku membuatnya terdiam.

__ADS_1


" duh nak Rani,jangan emosi,tenang dulu ya jangan asal sebut cerai gak baik." nasehat bapak,tumben ini baik pasti ada rencana mereka. Dan ibu terlihat mengkode bang Ardi,sepertinya mereka masih takut aku bercerai dengan anaknya.


" maafin aku ya sayang,abang emosi bukan maksud abang sengaja nyalahin kamu." ucap bang Ardi,apa yang telah mereka rencanakan. Aku harus hati hati,jangan sampai terkecoh sama mereka.


" gimana kalau kita kembali ke rumah ibu,toh rumah ini bakalan disita nantinya. Lagian kan rumah ibu kosong jadi kita pindah saja " ucapku membuat ibu kelabakan,ternyata mereka menjual tanpa memberi tahu bang Ardi,uang hasil penjualan pun tidak mereka kasi. Hanya dikuasai kak johan dan ibu bapak.bang Ardy Tidak dpt bagian,pastinya mereka takut ketahuan sekarang.


" itu anu..itu..... Rumah ibu...anu" terbata sudah ibu berucap membuat bang Ardi memandang ibu curiga. Ya bakalan ada drama lagi nih.


" rumah ibu kenapa?" tanya bang Ardi curiga.


" sebenarnya rumah ibu kita jual buat...buat modal usaha kakakmu John." bapak menjawab membuat bang Ardi murka. Bakalan ada perang nih,aku pun mundur perlahan dari sana tanpa mereka sadari.


" tega kalian jual rumah itu tanpa persetujuan ku,sekarang mana bagianku? " tanya bang Ardi sambil menadahkan tangan ke muka ibu.


" uangnya sudah habis buat bantu usaha kakakmu,kamu tau kan usaha kakakmu itu sekarang lagi menurun butuh suntikan dana. Jadi kita kasi semua ke dia." ucap ibu. Kemarahan bang Ardi pun memuncak dia menggebrak meja.


" kalian ini kenapa selalu pilih kasih,tiap susah lari ke aku,saat bahagia malah gak ajak aku." omel bang Ardi.


" sekarang kita harus gimana,rumah ini tetap dianggap tidak lunas,kemana lagi kita bernaung." ucap bang Ardi,jujur aku kasihan melihatnya pusing begitu tapi salah sendiri sok sok an mau ikuti saran ibu nikah sama si vera. Dia pikir aku akan diam,liat aja aku akan membuat kalian menyesal telah menyakiti aku.


" coba minta bantuan sama Vera,barangkali mau pinjamkan dana buat kita,terus saat nanti kamu nikah sama dia kan,jadinya tidak perlu kembalikan uangnya." usul ibu,aku yang hendak kembali keluar mendengarnya membuatku membelalakkan mata.


Hebat benar idenya menyuruh anaknya pinjam sama calon menantunya. Baik kita liat saja jika kamu sampai menuruti ibu kamu lagi bang,aku tidak akan segan segan buat perhitungan .

__ADS_1


__ADS_2