
Aurora menangis di dalam kamar. Dia takut jika masalah ini berkelanjutan, Mama dan Papa nya sudah sangat marah dengannya.
***
Di dalam kamar, Elena dan Arkhan sedang melamun memikirkan kejadian ini. Hanya satu yang mereka takutkan, Aurora ternodai dan termakan bujukan setan. Selama ini dia mewanti-wanti Aurora untuk menjaga kehormatannya. Namun, mereka tidak percaya jika Aurora masih dalam keadaan suci tanpa tersentuh sedikitpun.
"Mas, Aku nggak habis pikir sama Serena! Kelakuannya nggak ngotak! Aku takut anak kita mengikuti jejaknya" Ujar Elena masih menangis.
"Tenanglah, Ma! Papa sedang memikirkan cara untuk masalah ini. Dan Papa yakin kalau Aurora jujur"
"Aku juga percaya, Dari raut wajahnya juga kentara kalau dia jujur. Tapi, Mama cuma gertak dia aja. Jujur, Mama kaget banget waktu Safira chat Mama dan bilang kalau di kampus anak kita ada yang kayak begituan. Apalagi Safira ngirim foto dan itu fotonya Serena!" Jelas Elena.
***
Hari-hari berlalu, Elena dan Arkhan mendiamkan Aurora. Mereka sama sekali tidak mau berbicara kecuali Aurora yang memulai.
Seperti halnya pagi ini, Aurora sedang bersiap-siap untuk kuliah pagi. Jika biasanya Elena akan datang memanggilnya sarapan, Lain dengan beberapa hari ini. Elena tidak lagi pernah memanggilnya sarapan dan menganggap seakan Aurora tidak ada.
"Mama sama Papa bener-bener marah sama gue, Please Ma, Pa! Aku nggak mungkin ngelakuin hal itu!" Gumam Aurora sembari memakai jam tangannya.
Outfit dress tanpa lengan di tutup dengan blazer warna cream itu sangat sempurna di pakai oleh Aurora. Dengan sentuhan make up natural dan rambut di gerai bebas menambah kesan anggun dalam dirinya. Tak lupa sneakers putih yang terpasang di kakinya.
Aurora keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan, Bergabung dengan Arkhan dan Elena.
"Pagi, Ma! Pa!" Sapa Aurora dengan senyum mengembang.
"Pagi!" Ketus mereka.
Merasa respon keduanya sanga dingin, Seketika Aurora merubah raut wajahnya menjadi sedih. Hatinya teriris mendengar dan melihat perlakuan kedua orang tuanya.
"Mama sama Papa masih marah sama aku?" Tanya Aurora sendu.
Mereka tak menjawab, Mereka malah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Ma, Pa, Rora berangkat aja. Rora ada kuliah pagi" Tukasnya lalu berdiri dan menyalimi tangan kedua orang tuanya.
Elena dan Arkhan saling menatap saat Aurora berjalan keluar. Jujur, Mereka sangat khawatir karena belakangan ini sejak masalah itu muncul, Aurora jarang sekali makan, Jarang memikirkan kesehatannya.
"Aurora belakangan ini nggak pernah makan teratur, Ma! Papa takut dia drop kalau kesehatannya nggak dijaga" Ucap Arkhan.
__ADS_1
"Mama juga khawatir sama dia. Tapi mau gimana lagi!" Jawab Elena.
***
Aurora sampai di kampus dan masih melamun. Dia memilih duduk di taman kampus dan melamun disana.
"Gue pusing banget! Belakangan ini kayaknya pola makan gue nggak teratur, deh!" Gumam Aurora sembari membuka handphone nya.
Tiba-tiba, Seseorang duduk di sampingnya dan menyodorkan roti beserta air mineral di hadapannya.
"Aku tau pasti kamu belum sarapan" Ujar Angkasa. Iya, Dia adalah Angkasa Elzidane Ausky.
Aurora memicingkan matanya. Selalu saja orang ini yang muncul. Pikir Aurora.
"Mr ngapain disini? Bukannya Mr nggak ada jadwal?" Tanya Aurora.
Memang, Hari ini Angkasa sedang libur, Tapi entahlah dia bisa sampai di kampus sepagi ini.
"Iya, Tapi aku ada urusan dikit di sini" Jawabnya.
"Nih, Pegel tanganku megangin" Ujar Angkasa menyodorkan kembali.
"Tumben Mr baik sama saya? Ada apa?" Tanya Aurora.
"Saya emang baik, Rora! Kamu aja yang nggak pernah nyadar"
"Gimana? Udah dapat kabar dari mereka?" Tanya Aurora.
"Belum, Sejauh ini Awan belum merespon pesanku" Jawab Angkasa.
"Sabar, Aku tau apa yang kamu rasain. Jangan sedih, Aku percaya sama kamu" Ucap Angkasa sembari tersenyum tipis, Nyaris tak terlihat.
Aurora diam, Entahlah dia tak tau harus bersikap bagaimana.
"Oh iya, Habis makan roti itu, Kamu ke ruanganku ya!" Tanpa menunggu jawaban, Angkasa pun berdiri dan meninggalkan Aurora.
Aurora tak berniat memakan roti tersebut. Walaupun cuma roti, Rasanya tenggorokan Aurora sempit sehingga tak bisa digunakan untuk menelan. Nafsu makannya hilang sejak kejadian beberapa hari lalu.
Aurora berdiri dan mengikuti langkah Angkasa. Mungkin ini tentang Serena. Dia harus menemui Angkasa. Pikirnya.
__ADS_1
Aurora bergeming di depan ruangan Angkasa.
"Gue ketuk nggak, Ya?" Gumamnya.
"Ketuk aja, lah! Siapa tau ada yang penting" Sambungnya.
Saat mengetuk pintu tersebut, Kepala Aurora seakan dihantam batu besar, Sejenak dia merasakan berat di kepalanya namun hilang dengan sekejap.
"Kok tiba-tiba pusing, Ya?" Gumamnya saat pintu terbuka.
"Aurora! Kamu kenapa?" Tanya Angkasa.
Namun, Belum sempat menjawab tubuh Aurora sudah ambruk tak sadarkan diri. Untung Angkasa dengan sigap menahannya.
"Rora! Rora!" Panggil Angkasa sembari menepuk-nepuk pelan pipi Aurora.
"Bangun, Rora!" Panggilnya lagi.
Angkasa segera membopong tubuh Aurora dan membawa masuk ke dalam. Namun, Tanpa sepengetahuan Angkasa ada seseorang yang diam-diam memotret.
Angkasa meletakkan tubuh Aurora di sofa ruangannya.
Angkasa berjalan menuju meja kerjanya dan mencari kotak P3K. Berharap ada sesuatu yang bisa membantu Aurora.
Angkasa menemukan minyak kayu putih dan mengoleskan di hidung Aurora.
Sepuluh menit berlalu, Aurora akhirnya sadar. Kepalanya sangat pusing dan juga mual.
"Rora! Kamu udah sadar? Ayo minum" Ujar Angkasa menyodorkan gelas minum.
"Makasih" Lirih Aurora.
Mereka saling diam, Tiba-tiba pintu ruangan tersebut di dobrak dan para Dosen berjejeran menyaksikan mereka berdua.
"Ada apa ini?!" Ucap Angkasa spontan berdiri.
"Mr Angkasa! Tak disangka anda berani berbuat seperti ini di dalam kampus!" Ucap Rektor.
"Apa maksudnya?" Tanya Aurora bingung. Saat ini pikirannya tak karuan. Dia takut jika dituduh berbuat macam-macam dengan Angkasa.
__ADS_1
Bersambung......