
Benar apa yang dikatakan Gerhana. Apa salahnya mencoba?
Pagi ini Aurora sudah rapi dengan pakaian rumahan khas dirinya. Dress panjang selutut lengan pendek itu sangat pas di tubuh Aurora. Apalagi warna maroon, sangat cocok dibadannya.
Angkasa yang baru bangun dari tidurnya pun mengerjapkan matanya dan menajamkan penglihatan kearah sang istri yang tengah mematut diri didepan cermin.
Merasa diperhatikan, Aurora pun berbalik dan menatap Angkasa balik. Tak ada perkataan, hanya menatap.
"Tumben Sayang. Pagi-pagi udah rapi?" Tanya Angkasa hati-hati.
"Pengen aja" Singkat Aurora.
Angkasa tertegun. Ini kali pertama setelah sekian hari Aurora mendiamkannya.
"Emang mau kemana?" Tanya Angkasa lagi dengan perasaan lega.
"Nggak ada. Di kamar aja" Jawab Aurora lagi. Dia pun segera berjalan ke ruang ganti dan mengambil pakaian kerja Angkasa.
"Cepat mandi. Kamu harus kerja. Nggak baik pekerjaan ditunda-tunda. Lagian, kasihan mahasiswa kamu" Ucap Aurora sedikit panjang.
Angkasa yang tengah bingung hanya menurut saja. Dia berjalan linglung kearah kamar mandi. Pikirannya tertuju pada Aurora yang tampak berbeda pagi ini. Apa yang terjadi semalam? Pikir Angkasa.
"Apa selama ini dia kerasukan? Pusing gue!" Gumam Angkasa pelan.
Setelah beberapa menit Angkasa selesai, Dia sudah rapi menggunakan kemeja dan celana panjang khas seorang Dosen. Tak lupa Aurora menyerahkan jas berwarna senada dengan celana Angkasa.
__ADS_1
"Ra?"
"Iya, Aku tau kamu bingung. Tapi, Setelah aku pikir-pikir, Ada benarnya juga mimpi aku semalam. Mas, Semalam aku mimpi ketemu wanita cantik yang ngaku sebagai adik kamu. Dia bilang kalau aku harus nyoba buat bangkit. Dan sekarang, Aku akan mencobanya" Ucap Aurora.
Angkasa terdiam. Bukankah tadi malam itu nyata? Tapi kenapa Aurora menyangka itu hanya sebuah mimpi? Entahlah, Bingung juga.
"Aku bersyukur banget akhirnya kamu mau berpikir luas" Ucap Angkasa tersenyum.
"Mas, Makasih dukungannya. Bantu aku lupain semuanya, Bantu aku sembuhin trauma aku" Lirih Aurora. Airmatanya menggenang dipelupuk mata, Namun sebisa mungkin dia tahan.
"Iya. Yaudah, Mulai sekarang, Jangan mikir aneh-aneh. Jangan mikir terlalu berat. Percaya kalau semua udah takdir" Ucap Angkasa.
"Iya, Mas"
Aurora terdiam. Rasa takutnya tiba-tiba muncul kala membayangkan wajah Aditya dan Safira. Rasanya belum mampu dia untuk bertemu dengan mereka.
Menyadari ketakutan Aurora, Angkasa pun memegang pundak sang istri dan menatap manik matanya.
"Hei, Kamu kenapa?" Tanya Angkasa sembari menggiring Aurora untuk duduk.
Aurora menggeleng. Sekelebat demi sekelebat bayangan muncul berlalu lalang dipikirannya.
"Nggak! Nggak! Nggak mungkin!" Lirih Aurora.
Keringat panas dingin dan tubuh bergetar menandakan Aurora tengah ketakutan saat ini.
__ADS_1
Airmatanya leleh dan kedua tangannya terasa dingin, sedingin salju.
Angkasa menggenggam erat tangan sang istri berusaha menyalurkan kekuatan. Dipeluknya erat Aurora sembari mengusap-usap pelan punggungnya.
"Hei, Kamu kenapa? Please, Jangan kumat lagi. Tepis rasa trauma itu, Sayang! Lawan dia!" Ucap Angkasa lembut.
Aurora hanya menangis sembari menggeleng. Nyatanya dia tidak bisa melawan rasa trauma itu.
Angkasa memeluk erat Aurora. Hatinya hancur melihat Aurora yang makin hari makin terpuruk. Begitu banyak usaha yang dia lakukan untuk mengembalikan istrinya seperti dulu, Namun nyatanya sangatlah sulit.
"Aku takut....." Lirih Aurora.
"Jangan takut, Sayang. Ada aku yang selalu menemani dan menjagamu" Balas Angkasa.
Niat awal Angkasa ingin ke kampus, Namun tak jadi karena Aurora kembali down.
"Ayo ke kasur, Kamu baringan aja" Ucap Angkasa.
Aurora hanya menurut sembari memeluk Angkasa dengan erat, Seakan rasa takut yang amat sangat menyelimuti Aurora.
Selesai membaringkan sang istri, Angkasa pun segera beranjak untuk mengambil sarapan.
"Kamu istirahat. Aku turun sebentar ambilin kamu sarapan" Ucap Angkasa. Sebelum benar-benar pergi, Angkasa lebih dulu mengecup lama kening Aurora yang masih menangis itu.
Bersambung......
__ADS_1