
Malam ini Aurora sedang bermain dengan bayi belum genap satu bulan itu. Aurora sangat menikmati kesehariannya menjadi seorang Ibu dadakan bagi Canva.
"Canva, Nanti kalau Canva udah gede mau jadi apa?" Tanya Aurora sembari memainkan hidung Canva.
"Mau jadi Pilot, Mom" Sahut Angkasa yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Jangan, deh. Bahaya, Canva ikut jejak Daddy aja, Jadi Dosen" Ucap Aurora. Meskipun yang menjawab Angkasa, Aurora tetap berbicara pada Canva.
"Belum juga satu bulan dia lahir, Udah direncana aja mau jadi apa. Biarin dia sendiri yang mutusin nanti kalau udah gede" Ucap Angkasa sembari merebahkan tubuhnya di samping Canva.
"Terserah sih. Oh iya, Besok kan libur, Ke makam Mama Papa yuk? Aku mau ngenalin Canva ke Mama sama Papa" Ucap Aurora.
"Boleh, Canva mau ketemu Oma Opa, Ya? Duh, Gumush banget, sih!" Ucap Angkasa.
Di sela kegembiraan mereka karena mengajak Canva berinteraksi, Tiba-tiba terdengar dering handphone yang sedikit nyaring.
"Handphone kamu bunyi, Kenapa nggak di silent? Untung Canva pendengarannya belum tajam" Ucap Angkasa.
"Maaf, Mas. Aku lupa silent tadi" Ucap Aurora kesal sembari mengambil handphone nya yang berada di atas nakas.
"Siapa?" Tanya Angkasa penarasan.
"Kepo!" Jawab Aurora.
Aurora pun segera menggeser tombol hijau dan menempelkan handphone nya ke daun telinga dengan tersenyum lebar.
*di telfon
"Halo! Ngapain nelfon gue segala? Sok seleb banget lo nggak mau angkat telfon gue! Chat gue juga nggak pernah dibuka" Ucap Aurora dengan nada kesal.
"Hehehe..... Sorry, Anjir! Sabar napa, Nih gue jelasin" Ucap Serena di seberang telfon. Iya, Itu adalah Serena.
"Gue tuh sebenernya mau balik ke Indonesia. Kerjaan Om Awan udah selesai disini. Gue juga udah kangen banget sama lo. Sorry soal semua chat dan panggilan lo, Gue belum siap cerita banyak ke lo" Sambung Serena.
"Lo kenapa, Ser? Pasti ada masalah, kan?" Tanya Aurora mulai serius.
"Ceritanya panjang. Ntar kalau gue udah di Indonesia, Gue ceritain semua tanpa terkecuali" Ucap Serena.
__ADS_1
"Gue tunggu! Awas kalau bohong" Ancam Aurora.
"Iya, bawel! Oh iya, Lo lagi ngapain?"
"Nih lagi main" Jawab Aurora.
"Buset! Lo main sama suami sambil angkat telfon gue? Gila lo! Makin absurd aja kelakuan lo selama gue nggak ada" Ucap Serena sembari tertawa diakhir kalimatnya.
"Maksudnya main sama anak gue, dodol! Pikiran lo kotor banget, sih!"
"Oh, kirain. Hehehe....."
"Su'udzon mulu lo! Jangan lupa kalau pulang mampir ke Makkah, Umroh sekalian bawa air zam-zam. Datang kesini gue cuciin otak lo pakai air zam-zam biar ilang tuh pikiran kotor"
"Hehehe..... Sorry, njir"
"Eehh.... Apa tadi lo bilang? Anak? What? Kapan lo hamil? Nikah aja belum ada 5 bulan, Anjir!" Pekik Serena.
"Ceritanya panjang, Ser. Yang jelas, Dia anak gue tapi bukan lahir dari rahim gue. Pokoknya gitu, deh. Nggak bisa cerita lewat telfon" Ucap Aurora.
"Lo harus cerita apa aja yang gue lewatin selama gue pergi. Tunggu gue pulang, Lo harus cerita sama gue!"
"Oh iya, Ra. Gue sekarang lagi nemenin meeting terakhir Om Awan, nih. Bentar gue kirim foto dulu" Ucap Serena.
"Mau pamer lo? Dih...." Ucap Aurora.
"Bukan pamer, Cuma membanggakan diri aja, Nggak nyangka bisa keliling dunia, hehehe....."
"Bentar gue send"
"Tuh, Bagus kan? Iyalah, Om Awan yang fotoin tau!"
"Nggak nanya, sih. Tapi, Behhh..... Seksi parah lo sekarang"
"Biasa aja kali. Emang iya? Kelihatan seksi ya gue? Tapi Om Awan suka tuh, gimana dong?"
__ADS_1
"Hishh..... Om Awan, Om Awan terus. Ketahuan mak lo bisa abis lo"
"Gue mah udah nggak peduli, Ra. Mau dia nggak akuin gue sebagai anaknya juga nggak peduli gue. Mereka aja nggak pernah mikirin kebahagiaan gue. Otomatis gue cari kebahagiaan sendiri, dong" Ucap Serena mulai sendu.
Mendengar nada bicara Serena mulai berubah, Aurora pun merasa bersalah.
"Sorry, Ser. Gue udah ngelantur. Yaudah, Have fun yah. Jangan lupa oleh-oleh buat anak gue kalau lo pulang"
"Siap! Eh, btw anak lo cowok apa cewek? Takutnya anak lo cowok eh malah gue bawain dress, kan nggak lucu" Tanya Serena sembari tertawa.
"Cowok, Namanya Canva. Jangan lupa bawain yang banyak" Ucap Aurora sembari cekikikan.
"Kasihan banget kamu Canva, Punya Mama sengklek kayak Aurora. Mana udah dikasih hati minta ampela lagi" Ucap Serena.
"Udah ah, Gue mau happy-happy dulu. Nanti gue kabarin lagi kalau udah mau pulang"
Serena pun memutuskan sambungan telfonnya.
*telfon berakhir.
"Ada-ada aja nih orang. Lama-lama gue jadiin anak setan juga lo, Ser. Lama nggak ada kabar, Di telfon nggak pernah diangkat, Chat juga nggak pernah dibalas" Gerutu Aurora sembari meletakkan handphone nya kembali.
"Siapa, sih?" Tanya Angkasa mengalihkan perhatian Aurora.
"Ha? Oh, Serena. Katanya sih mau pulang, Tapi belum pasti kapan" Jawab Aurora.
"Oh, Sama teman gila kamu itu? Pantesan dzikirnya lancar banget" Sindir Angkasa sembari bangkit dari rebahannya dan berlalu meninggalkan Aurora.
Sedangkan Aurora yang tak mengerti ucapan Angkasa pun mengerutkan dahinya heran.
"Selalu nggak jelas. Mimpi apa gue dijodohin sama manusia aneh kayak dia?" Gumam Aurora.
"Tuh Daddy kamu, Can. Selalu aja gitu, Apa-apa marah, Apa-apa nggak jelas. Mommy kan bingung, Can" Adu Aurora pada sang anak.
"Udahlah, Dari pada nggak jelas mikir dia, Mending pindahin Canva ke box" Gumam Aurora.
Dia pun mengambil Canva dari atas kasur dan memindahkan Canva di box bayi yang diletakkan di samping sofa kamarnya.
__ADS_1
"Tidur yang nyenyak sayang. Good night" Ucap Aurora lalu berbalik menyusul Angkasa yang tengah berdiri di balkon kamar mereka.
Bersambung.......