SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 14: BISAKAH KITA BERTEMAN?


__ADS_3

Hembusan angin malam menerpa kulit Angkasa. Malam ini, Dia sedang berdiri dibalkon kamarnya menatap gemerlap Kota Jakarta.


"Andai ada kesempatan buat jelasin, Pasti Aurora nggak akan seterpukul ini. Gue nggak tega liat dia terpuruk" Gumam Angkasa.


"Gue yakin ini rencana mereka" Sambungnya.


Setelah dirasa cukup, Angkasa pun kembali masuk ke dalam kamar dan mengedarkan pandangannya. Tak ada Aurora disana.


Angkasa keluar dan menuruni anak tangga, Mencari keberadaan gadis yang berstatus istrinya itu.


"Didapur rupanya. Sedang apa, dia?"


Angkasa menyusul Aurora yang tengah sibuk berkutat di dapur. Entah apa yang sedang dimasaknya itu.


"Awww..... Sial banget gue!" Teriak Aurora yang sukses membuat Angkasa berlari kearahnya.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak apa-apa?" Tanya Angkasa panik sembari menghampiri Aurora.


"Saya lapar! Niatnya mau masak, Tapi malah tangan saya keiris" Jawab Aurora sembari meringis kesakitan.


"Kenapa nggak pesan makanan aja? Gimana kalau luka kamu parah?" Omel Angkasa. Dia pun menarik pelan tangan Aurora dan mendudukkan diatas kursi.


"Tunggu bentat. Aku ambil kotak obat dulu" Ucap Angkasa dingin.


Setelah beberapa saat mencari kotak obat, Angkasa datang dengan menenteng P3K.


"Siniin tangannya. Pasti perih, Ya?" Ucap Angkasa sembari meniup-niup pelan.


Angkasa membersihkan sisa darah dengan telaten dan menuangkan obat merah pada luka Aurora. Setelah itu, Dia pun menempelkan plester pada luka Aurora.


"Lain kali, Kalau nggak bisa masak mending bilang. Aku yang akan masak buat kamu" Jelas Angkasa.


"Maaf, Mr" Ucap Aurora dengan nada datar.


"Tunggu di sana aja, Aku udah pesan makanan buat makan malam kita" Ucap Angkasa sembari menunjuk sofa panjang di ruang tamu.

__ADS_1


Aurora menurut. Dia berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa sembari menonton kartun kesayangannya.


"Dih, Udah gede masih aja nonton botak kembar" Cibir Angkasa yang heran melihat Aurora fokus menonton serial botak kembar dari negeri seberang itu.


"Apaan, Sih! Suka-suka saya lah. Saya kan masih kecil, Beda sama situ, Udah bangkotan!" Timpal Aurora melirihkan nada di akhir kalimat.


"Apa kamu bilang?" Tanya Angkasa melotot. Walaupun lirih, Angkasa masih mendengar jelas.


"Apasih? Orang saya nggak ngomong" Elak Aurora.


"Kamu....."


Ting tong!


Angkasa hendak membalas ucapan Aurora, Namun suara bel menghentikan ucapannya.


Angkasa segera bangkit dan membukakan pintu apartmennya.


"Pesanan atas nama Bapak Angkasa Elzidane Ausky? Totalnya tiga ratus enam puluh lima ribu rupiah ya, Pak!" Jelas kurir yang mengantar makanan Angkasa.


"Kembaliannya buat Mas aja, Terima kasih!" Ucap Angkasa datar.


"Terima kasih, Pak! Selamat menikmati!" Ucap Kurir tersebut dengan senyuman dan berlalu dari hadapan Angkasa.


Angkasa kembali menutup pintu dan membawa makanan tersebut ke meja ruang tamu.


"Nih, Kamu tata gih di meja makan" Perintah Angkasa pada sang istri.


"Banyak banget" Ujar Aurora.


"Aku nggak tau makanan kesukaan kamu, Jadi aku beli itu semua. Kali aja ada salah satu yang kamu suka"


"Semua makanan bakal masuk di perut saya! Saya bukan tipe orang pemilih makanan" Pungkas Aurora.


Dia pun berlalu dan menata makanan tersebut.

__ADS_1


Setelah menatanya, Aurora pun menuang air ke dalam gelas.


Angkasa menyusul dan duduk di salah satu kursi, Dia menatap beberapa makanan yang terhidang dengan tatapan lapar.


Pasalnya, memang sedari pagi dia hanya memakan sehelai roti.


"Ayo makan" Ujar Angkasa. Tanpa menjawab, Aurora pun mengambil nasi di dalam box dan memakannya dengan lahap.


"Mr, Apakah Mr menyesal dengan kejadian tadi pagi?" Tanya Aurora di sela-sela makannya.


"Maksud kamu?" Tanya Angkasa pura-pura tak mengerti.


"Pernikahan ini" Singkat Aurora.


"Saya tidak pernah menyesali keputusan yang sudah saya ambil, Rora! Saya menganggap ini adalah takdir yang dipersiapkan tuhan untuk hidup saya. Jadi, Nikmatilah"


"Tapi, Bagaimana dengan kampus?" Tanya Aurora lagi.


"Kamu tenang aja, Kampus nggak akan berani mengusik kamu"


Kenapa Aurora bisa tenang dan tidak emosi? Jawabannya adalah, Aurora sadar dia harus bisa berdamai dengan keadaan supaya bisa berpikir jernih. Iya, Dia melakukan apa yang di sarankan Angkasa sewaktu dia baru tiba di apartmen ini.


"Aurora, Bisakah kita berteman? Setidaknya jika kamu belum siap menerima pernikahan ini, Kamu bisa menganggapku sebagai temanmu?" Ucap Angkasa sungguh-sungguh.


"Boleh, Mr boleh berteman dengan saya" Jawab Aurora.


"But, Jangan panggil saya Mr. Saat ini saya bukan Dosenmu. Saya ini suami kamu!" Tegas Angkasa.


"Now, Saya harus panggil Mr apa? Sayang? Hubby? Honey? Baby? Atau Papa? Seperti Mama saya memanggil Papa saya? Iuuhh..... Nggak banget! Jijik dengernya"


"Mas! Itu lebih baik, Dan lebih enak di dengar"


Aurora salah tingkah, Haruskah dia memanggil dengan sebutan itu? Pikirnya.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2