SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 15: HARI PERTAMA MENJADI ISTRI


__ADS_3

Aurora sudah siap dengan pakaian kampusnya. Celana jeans panjang di padu padankan dengan tank top dan tak lupa kacamata hitam yang bertengger di hidung manisnya.


Aurora menuruni anak tangga dan mendapati Angkasa yang tengah berkutat dengan alat-alat memasak.


"Udah bangun? Nih minum dulu susunya" Ucap Angkasa datar sembari menyodorkan segelas susu.


"Udahlah! Udah mandi juga!" Ketus Aurora. Mendengar jawaban sang istri, Angkasa pun mengangkat pandangannya dan menatap Aurora.


Angkasa menyipitkan matanya melihat penampilan Aurora.


"Kamu mau ke kampus?" Tanya Angkasa.


"Iyalah! Emang dandanan kayak gini mau ke pasar?"


"Dengan pakaian seperti itu?"


"Emang kenapa sama pakaian aku? Ini pakaian bagus kok, Kayak biasanya" Jawab Aurora masih keukeuh.


"Ganti!" Perintah Angkasa dengan nada dingin.


"Apanya?" Tanya Aurora.


"Bajumu! Cepat ganti!" Perintah Angkasa.


"Atas dasar apa anda menyuruh saya? Orang tua saya aja nggak pernah ngatur tentang pakaian saya!"


"Atas dasar saya suami kamu! Sekarang kamu adalah istri saya! Tentu saja, Semua yang ada dalam diri kamu itu tanggung jawab saya! So, Cepat ganti bajumu. Atau, Mau saya gantikan? Dengan senang hati loh Sayang" Ucap Angkasa menekan perkataannya di akhir kalimat.


"Ish! Baru aja kemarin udah ngatur aja!" Kesal Aurora. Namun, Tetap saja dia berganti baju, Daripada Angkasa nekat menggantikan bajunya.

__ADS_1


***


Aurora turun menghampiri Angkasa lagi dengan raut wajah kesal. Kali ini dia memakai dress tertutup. Dia menatap sang suami seakan bertanya "Puas?" dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Itu lebih baik. Kamu kalau berpakaian sopan akan lebih cantik!"


Aurora hampir tersipu dengan perkataan Angkasa, Namun dia buru-buru tersadar dan menetralkan raut wajahnya.


"Nih, Makan. Aku tau kamu belum bisa masak. Lain kali belajar gih sama Mama kamu"


"Iya!" Jawab Aurora malas.


"Oh iya, Hari pertama menjadi istri. Kamu harus mengikuti beberapa peraturanku. Aku nggak suka penolakan. Jadi, Kamu harus nurut" Ucap Angkasa di sela sarapannya.


Menu kali ini hanya nasi putih dan capcay. Sederhana, Namun Aurora tak menampik bahwa masakan Angkasa sangat enak.


"Peraturan apa? Jangan ribet deh, Mr! Saya nggak suka diatur!" Kesal Aurora sembari makan dengan lahap.


"Kalau permintaan Mr apa?" Tanya Aurora.


"Gampang, Kok. Aku minta hakku sebagai seorang suami" Jawab Angkasa santai.


Aurora tersedak. Kaget dengan ucapan Angkasa.


"Apa tadi dia bilang? Hak? Maksudnya ehem-ehem, gitu?" Batin Aurora.


Dengan cepat Aurora menyambar susu di hadapannya dengan kasar dan meminumnya hingga tandas.


Aurora bukan orang bodoh yang tidak tahu menahu tentang kehidupan pernikahan. Dia sering melihat di sosial media bagaimana proses kehidupan setelah menikah.

__ADS_1


"Mr gila, Ya! Nggak! Nggak! Saya belum siap"


"Yaudah, Ikuti peraturan saya. Aurora! Kamu cukup menurut dengan apa yang saya katakan! Maka kamu akan aman dan nyaman!"


"Yaudah, Iya! Apa peraturannya?" Pasrah Aurora.


"Toh saya nggak bisa milih, Kan? Anda curang Mr!" Sambungnya.


"Oke. Pertama, Saya paling nggak suka dengan panggilan kamu ke saya! Panggil saya "Mas!" karena saya bukan Dosen kamu disini. Kedua, Kamu harus berangkat dan pulang kuliah bersama saya! Seandainya saya libur, Kamu wajib saya antar jemput. Ketiga, Setiap libur harus wajib latihan memasak baik bersama saya atau bersama Mama. Keempat, Mulai detik ini kamu dilarang berpakaian seperti tadi, Kecuali dirumah dan bersama saya!. Kelima, Jangan pernah berdekatan dengan lelaki manapun. Karena kamu adalah istri sah saya!" Keenam......"


"Aduh! Mr......" Aurora hendak protes, Namun Angkasa dengan cepat menyela.


"Mas! Ingat poin pertama?" Tegas Angkasa sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Okey! M-mas, Nggak bisa gitu, Dong! Masa nggak boleh deketan sama laki-laki! Kalau ada tugas kampus terus tugasnya kelompok, Gimana?"


"Gampang! Mulai sekarang peraturan di kampus telah diubah" Jawab Angkasa santai.


"Gampang, gampang! Dikira kampus punya nenek moyang dia, Apa?!" Gumam Aurora tapi masih terdengar jelas di telinga Angkasa.


"Apa kebiasaan kamu bergumam tidak jelas seperti itu?" Tanya Angkasa.


"Apaan, Sih!"


"Oh iya, Aku juga bakal pantau belajar kamu. Jangan sampai nilai kamu merosot"


"Terserah Mas aja, Aku malas berdebat" Pasrah Aurora.


"Gitu dong, Sayang! Kalau nurut kan enak" Ucap Angkasa dengan ekspresi mengejek.

__ADS_1


"Nyebelin!" Kesal Aurora.


Bersambung.....


__ADS_2