SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 16: CINCIN KAWIN


__ADS_3

"Mas, Pasti semua orang di kampus udah tau kalau kita menikah?" Tanya Aurora ditengah perjalanan mereka menuju kampus.


"Kamu tenang aja, Mereka nggak tau, Kok!" Jawab Angkasa santai.


Aurora heran dengan Angkasa, Kenapa bisa suaminya itu bersikap sangat tenang? Padahal ini menyangkut hidup dan pekerjaannya.


Angkasa tak langsung melaju ke kampus, Dia belok ke Mall yang searah dengan jalur kampusnya.


Dia pun memarkirkan mobilnya dan bersiap untuk turun.


"Mas, Ngapain kita kesini?" Tanya Aurora heran.


"Aku ingat kalau kita belum punya cincin kawin. Kemarin kan cuma mahar uang" Jawab Angkasa sembari membuka "Safety belt".


"Cincin? Udahlah nggak usah! Malah bagus nggak pakai cincin, Nggak ada yang tau kalau aku udah nikah"


"Itu menurut kamu. Ayo, Kamu lupa kalau apa yang aku katakan adalah perintah? Ingat perjanjian tadi, Kan?" Ancam Angkasa.


Aurora pasrah, Daripada di unboxing. Apalagi posisinya di mobil. Nggak elit banget.


Mereka turun dan memasuki Mall besar tersebut. Aurora mengekor di belakang Angkasa karena memang takut kesasar.


Brukk


Aurora menabrak Angkasa yang tiba-tiba berhenti.


"Mas! Kenapa berhenti mendadak, Sih?! Sakit tau!" Gerutu Aurora sembari mengusap-usap keningnya.


"Kamu tuh istri aku! Bukan asisten aku! Jalan di samping!" Ucap Angkasa. Aurora pun menghentakkan kakinya dan berjalan mensejajarkan langkah dengan Angkasa.


Angkasa memasuki toko perhiasan di Mall tersebut. Sedangkan Aurora, Dia berdecak kagum melihat beberapa perhiasan berjejer dietalase. Netranya berpusat pada etalase di sudut ruangan tersebut. Dia berjalan berpisah dengan Angkasa dan mendekati etalase tersebut. Sedangkan Angkasa menuju etalase utama dan menayakan cincin yang dia pesan semalam.

__ADS_1


"Mbak, Saya Angkasa. Orang yang memesan cincin semalam" Ucap Angkasa pada penjaga etalase tersebut.


Sejenak penjaga toko tersebut terpaku dengan ketampanan Angkasa.


"Oh, Mas Angkasa. Ini pesanan anda. Silahkan!" Ucap penjaga tersebut menyerahkan paper bag berisi kotak beludru.


"Terima kasih! Pembayarannya sudah lunas tadi malam" Ucap Angkasa dingin nan datar.


"Baik, Mas" Jawab penjaga tersebut dengan senyum termanisnya.


Angkasa berbalik badan, Dia kaget dan mengedarkan pandangannya mencari Aurora.


"Kemana dia pergi?" Gumam Angkasa.


Namun, Angkasa mendengar ada keributan di sudut ruangan tersebut.


"Aduh, Dek! Jangan sembarangan menyentuh. Ini satu-satunya kalung termahal disini! Adek nggak akan mampu membayarnya kalau kalung ini sampai rusak" Kesal salah satu wanita penjaga etalase disana.


"13 M! Mampu?" Ucap penjaga tersebut dengan nada mengejek.


Aurora melotot mendegar pernyataan tersebut. 13 M? Bahkan uang sakunya selama sepuluh tahun belum mencukupi harga berlian tersebut.


"Ada apa, Ini? Kenapa ribut-ribut?" Tanya Angkasa seraya mendekati mereka.


Aurora takut jika Angkasa marah padanya, Karens jelas-jelas terlihat Aurora yang sedang bertengkar.


"Mas, Aku cuma mau nyentuh barang ini. Tapi Kakak ini malah mengataiku" Adu Aurora sembari mencekal lengan sang suami.


"Mas, Tolong adiknya dikondisikan, Masih kecil tapi udah kelayapan dan menyentuh barang-barang disini. Gimana kalau barsngnya rusak?" Sarkas penjaga toko tersebut.


"Lantas, Apakah barang tersebut rusak setelah disentuh adik saya? Saya bisa saja melaporkan tindakan kalian kepada manager toko ini. Apakah begini cara pelayanan di toko ini?" Ucap Angkasa menohok.

__ADS_1


Penjaga toko itu terdiam, Pekerjaannya akan terancam jika sampai Angkasa melapor pada manager.


"Mas, Udahlah. Ayo kita ke kampus. Aku takut telat" Ucap Aurora kasihan melihat penjaga toko itu tengah pucat pasi.


"Kali ini saya biarkan, Tapi jika saya mendengar ada keributan seperti ini lagi, Bersiaplah untuk bersimpuh di kaki adik saya!" Ucap Angkasa lalu pergi diikuti Aurora.


***


Sampai di parkiran Mall tersebut, Angkasa diam. Sedari kejadian tadi, Memang Angksa tak mengeluarkan sepatah katapun yang membuat Aurora sedikit takut.


"Mas marah?" Tanya Aurora takut.


"Marah? Kenapa aku harus marah?" Ucap Angkasa berbalik tanya.


"Mas, Jangan diem aja! Bikin takut tau!" Kini Aurora malah terlihat kesal.


"Kenapa kamu nggak ladenin dia aja, Sih?! Aku mampu membeli semua perhiasan yang ada disana! Bahkan tokonya sekalipun!" Kesal Angkasa.


"Buat apa? Kita hanya akan terlihat bodoh jika melawan orang bodoh dengan cara yang sama. Sudahlah, Ayo kita ke kampus" Ucap Aurora.


"Wait! Sesuai perkataanku. Ini adalah cincin perkawinan kita. Jangan sampai dilepas apapun keadaannya. Maaf, Aku pilih asal buat kamu. Aku janji, Setelah peresmian pernikahan kita, Aku akan memberikan cincin berlian sesuai keinginanmu" Ucap Angkasa sembari memasangkan cincin tersebut.


Aurora terpaku dengan perlakuan Angkasa. Hampir saja dia terlena.


"Udah ah! Mau cincin apapun juga nggak masalah. Ayo kita ke kampus. Aku nggak mau telat. Ntar di hukum sama Dosen Killer lagi!" Ucap Aurora dengan nada menyindir.


"Hari ini jadwal aku. Kamu bisa bebas selagi kamu bersamaku"


"Iya, Tapi bikin anak-anak di kampus curiga"


Angkasa tak menjawab lagi. Dia lebih memilih melajukan mobil sport nya membelah jalanan.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2