
Sudah satu bulan Aurora mengalami sedikit depresi akibat kematian orang tuanya. Dan kini, Aurora sudah kembali seperfi semula. Ini semua tak luput dari bantuan Gerhana, Sang adik Ipar.
Semua sudah kembali pada aktivitas yang sempat tertunda beberapa bulan yang lalu.
Gerhana pun kembali ke Inggris dan menjalankan aktivitasnya seperti semula.
"Ra? Kamu yakin mau ngampus lagi?" Tanya Angkasa ragu.
"Yakin, Mas. Udah deh, Aku udah baik-baik aja. Udah nggak gila" Jawab Aurora kesal dengan memutar bola matanya.
"Bukan gitu maksud aku. Apasih? Kok jadi gila?" Ucap Angkasa.
"Ya apa namanya kalau bukan gila? Depresi itu termasuk gila, Mas"
Memang, Kerap kali Aurora menyebut bahwa dirinya sempat gila. Dia tak memungkiri itu.
"Ra, Udah deh! Jangan mancing emosi. Masih pagi juga!" Sentak Angkasa.
Iya, Hari ini Aurora berniat kembali ke kampus dan memulai belajar dengan giat. Dia yang masih semester 3 harus giat supaya cepat menyelesaikan kuliah.
"Udah, Ayo kita turun. Sarapan!" Sambung Angkasa.
Seperti biasa, Aurora memakai dress selutut dan outer crop. Itulah stylish Aurora.
"Lain kali pakai pakaian yang pas" Ucap Angkasa sebelum mereka benar-benar keluar dari kamar.
Aurora yang tak mengerti hanya menggedikkan bahu. Dia menyambar tas kecil yang diletakkan dimeja rias.
Angkasa dan Aurora berjalan beriringan menuruni tangga. Terlihat Aditya dan Safira sedang duduk dimeja makan menunggu mereka.
"Eh, Anak-anak Mama! Ayo sini, Nanti kalian telat" Ucap Safira.
Aurora pun berlari kecil menghampiri Safira dan mengecup pipi Safira sekilas.
"Pagi, Mamaku sayang! Pagi, Papa" Sapa Aurora.
__ADS_1
"Pagi, Sayang. Ayo, duduk" Ucap Safira dan Aditya berbarengan.
Angkasa yang melihat interaksi antara Aurora dan kedua orang tuanya itu hanya tersenyum simpul. Rasanya bahagia sekali melihat keceriaan Aurora kembali seperti semula.
Iya, Aurora tengah mencoba membuka lembaran baru dan mencoba mengikhlaskan yang telah pergi. Bukan maksud melupakan, Tapi ini adalah takdir, Dan Aurora harus terima itu!
"Maaf, Ma. Rora nggak pernah bantu didapur" Lirih Aurora.
"Sayang, Itu bukan tugas kamu. Tugas kamu cuma layani Angkasa. Masalah dapur, Kan ada Mbok Junah sama yang lain"
Spontan pipi Aurora pun memerah, Mendengar kata 'Melayani Angkasa' membuat Aurora bergidik ngeri. Apa harus melayani sampai kesitu? Pikirnya.
"Kamu mikir apa, Sayang?" Tanya Safira heran. Aurora hanya menggeleng cepat dan segera menetralkan raut wajahnya.
Selesai sarapan, Aurora pun berangkat ke kampus bersama Angkasa. Awalnya Aurora keukeuh ingin berangakat sendiri, Namun Angkasa dan Safira memaksa mereka berangkat bersama. Alhasil Aurora pun pasrah dan berangkat bersama Angkasa.
"Turunin di perempatan depan kampus, Mas. Aku nggak mau kalau ada yang liat kita" Ucap Aurora dengan nada kesal.
"Kenapa? Malu punya suami kayak aku?" Tanya Angkasa.
Aurora menoleh. Apa maksud Angkasa? Dia cuma mau menjaga image Angkasa. Bagaimana kalau ada gosip miring? Pasti berimbas pada pekerjaannya.
"Walaupun aku melakukan kesalahan, Nggak akan ada yang berani mecat aku. Paham?" Tekan Angkasa sembari menoleh.
"Terserahh!" Kesal Aurora. Dia pun diam. Percuma berdebat dengan singa jantan, Tak ada ujungnya.
***
30 Menit lamanya mereka melaju, Kini mereka sudah berada di area kampus. Dan benar dugaan Aurora, Angkasa nekat masuk ke halaman luas kampus dengan dia yang masih berada di dalam mobil.
"Mas! Kamu gila, Ya?" Pekik Aurora.
"Apasih?! Kamu tuh yang gila. Tiba-tiba teriak"
"Kenapa dibawa masuk? Gimana kalau mereka liat?"
__ADS_1
Aurora menunjuk para mahasiswa yang berlalu lalang disekitar.
"Biarin!" Ucap Angkasa tanpa dosa.
"Stres nih orang!" Kesal Aurora. Ingin rasanya dia melompat seperti di novel-novel itu. Namun keberaniannya tak cukup kuat. Sehingga dia hanya bisa pasrah.
Angkasa diam tak menanggapi. Dia fokus ke stir mobil dan melajukan mobilnya menuju basement rahasia.
Aurora bingung, Dia melihat keadaan sekitar yang sepi dan tak ada mobil terparkir.
Angkasa menghentikan mobilnya disamping sebuah pintu dan dia pun turun.
Aurora diam tak bergeming.
"Tempat apa ini?" Batin Aurora.
Tanpa sadar, Angkasa sudah membuka pintu samping dan menunggu Aurora keluar.
"Ayo! Kenapa bengong?" Ucap Angkasa yang membuat Aurora sedikit berjingkat.
Aurora pun turun dan menatap suaminya seakan meminta penjelasan.
"Kenapa?" Tanya Angkasa sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Tempat apa ini?" Akhirnya pertanyaan itu lolos terlontar.
"Parkiran lah" Jawab Angkasa santai.
Angkasa pun menarik pelan tangan Aurora yang masih bingung itu dan memencet tombol disebuah pintu.
Pintu terbuka, Ternyata sebuah pintu rahasia yang otomatis terhubung dengan ruangan Angkasa.
Aurora semakin bingung dan kagum melihat hal ini. Ada banyak kejanggalan yang dialami sejak mereka pertama berurusan. Dan sekarang, Angkasa mempunyai akses pribadi.
"Apa-apaan ini? Sebenarnya siapa orang yang menjadi suamiku ini?" Batin Aurora.
__ADS_1
"Nggak usah kaget. Suatu saat kamu bakal ngerti" Ucap Angkasa seakan mengerti dengan tersenyum kecil.
Bersambung......