
Pagi menyambut dengan terpaan sinar matahari yang terik. Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 WIB. Namun, Sinar mentari begitu terik.
"Kayaknya hari ini bakal panas seharian deh" Keluh Aurora.
"Iya nih. Tumben masih pagi udah terik gini" Sambung Angkasa.
Mereka pun turun ke meja makan untuk melakukan sarapan.
Terlihat Aditya dan Safira sudah berada di meja makan sedang menikmati sarapan paginya.
"Pagi, Mama! Pagi, Papa!" Sapa Aurora sembari tersenyum.
"Pagi, Sayang" Jawab keduanya dengan tersenyum juga.
"Anak Mama bahagia banget kayaknya. Ada apa, Sayang? Cerita dong" Ucap Safira penasaran.
"Mama kepo" Ucap Angkasa dan spontan mendapat pelototan dari Safira, Sedangkan Aurora dan Aditya hanya tertawa sembari menatap keduanya.
"Kamu jangan ikut campur! Mama tanya sama Anak Mama, Ya! Bukan sama kamu" Ucap Safira sewot.
"Loh, Aku kan anak Mama juga! Wah, Nggak adil nih!" Protes Angkasa pura-pura marah.
"Udah diam aja! Mama lebih percaya anak Mama satu ini dari pada kamu" Ucap Safira sembari memegang tangan Aurora.
"Mama jangan gitu, Nanti Mas Angkasa KDRT sama Rora gara-gara Mama nggak mau ngakuin dia" Ucap Aurora sembari tertawa.
"Awas aja kalau dia berani aniaya anak Mama. Mama jadiin kambing guling nanti!" Tegas Safira.
"Papa senang deh lihat pemandangan kayak gini pagi-pagi. Cuma kurang satu, Gerhana nggak disini" Ucap Aditya tersenyum haru.
Lama sudah Aditya tak merasakan kebahagiaan seperti ini. Apalagi semenjak Gerhana memutuskan untuk kuliah di luar negeri. Namun, Kebahagiaan itu datang lagi saat Aurora masuk ke dalam list keluarganya.
Bahkan kebahagiaan itu bertambah.
"Kita do'ain Hana biar cepat selesaiin kuliahnya, Semoga Hana bisa cepat-cepat kembali berkumpul sama kita" Ucap Aurora.
"Aamiin" Ucap mereka serentak.
"Oh iya, Sayang. Pertanyaan Mama kan belum dijawab. Kamu kenapa bahagia banget pagi ini?" Tanya Safira.
"Emmm..... Ma....." Ucap Aurora menggantung sembari senyum-senyum dan melirik Angkasa yang sibuk mengolesi roti dengan selai di sampingnya.
__ADS_1
Merasa diperhatikan, Angkasa pun menoleh dan mendapati istrinya yang sedang memandangnya seakan memonta bantuan penjelasan.
"Ada apa, sih? Bikin penasaran deh kalian berdua" Ucap Safira mulai kesal.
"Sabar, Ma. Jangan emosi" Ucap Aditya.
"Huhh..... Habisnya mereka aneh sih" Kesal Safira.
"Mama sama Papa mau punya cucu" Ucap Angkasa santai sembari melanjutkan kegiatannya.
"Apa?!" Kaget Safira.
"Iya, Jadi gini....." Angkasa pun menjelaskan apa maksud dari ucapannya tadi.
"Jadi, Kalian berniat mau adopsi si kecil? Bagus dong. Mama setuju banget, Iya nggak Pa?" Ucap Safira.
"Papa sih nggak masalah. Papa juga setuju" Ucap Aditya.
"Terus, Namanya siapa? Mama bingung dari kemarin belum tau namanya. Jadi, Mama manggilnya si kecil, deh" Ucap Safira.
"Canva, Ma. Canva Adellano Ausky" Ucap Angkasa.
"Nggak nyangka juga kalian bakal jadi Mama Papa. Selamat atas panggilan baru kalian, Sayang" Ucap Safira memeluk Aurora.
"Rora juga nggak nyangka, Ma. Takdir dan rencana Allah emang nggak di sangka-sangka ya, Ma? Ternyata jalan takdir Rora indah juga" Ucap Aurora sembari meneteskan airmata.
"Jangan nangis, Sayang. Mama kan udah bilang. Jangan pernah putus asa. Jalan kau mash panjang, Masih ada hal indah yang belum kamu rasakan" Ucap Safira ikut meneteskan airmata.
Udah ah, Jadi melow gini" Ucap Safira sembari tertawa kecil. Safira pun melepas pelukannya dan mengusap airmata Aurora.
"Panggilan kita nggak Mama Papa, sih. Mommy and Daddy, Lebih keren. Masa panggilannya sama kayak kita manggil Mama Papa" Jelas Angkasa bernada protes.
"Iya deh, Daddy Angkasa! Mommy Aurora!" Ucap Safira sembari tergelak. Sementara pipi Aurora sudah bersemu merah seperti kepiting rebus.
"Cieee..... Mom and Dad!" Goda Safira.
"Udah, Ma. Aurora nya malu, tuh" Ucap Aditya yang menambah rasa malu Aurora. Ingin rasanya dia menghilang dari ketiga orang itu.
"Hehehe..... Maaf, Sayang" Ucap Safira.
Mereka pun melanjutkan sarapan paginya.
__ADS_1
"Bang, Emang kasusnya udah selesai? Apa gimana?" Tanya Aditya pada Angkasa.
"Udah, Pa. Kemarin Abang udah selesaiin urusan sama pihak keluarga. Jadi aman. Tinggal nunggu keputusan Dokter, Kapan Canva bisa dibawa pulang" Jelas Angkasa.
"Loh, Mas. Kenapa kamu nggak bilang kalau kasusnya udah selesai?" Tanya Aurora.
"Belum sempat bilang. Tadi sih rencana mau bilang sekalian disini, Kebetulan Papa tanya ke aku" Jawab Angkasa santai.
"Kamu gimana sih, Bang? Masa istrinya disamain sama orang lain? Kalau ada masalah sekecil apapun, Istri yang harus pertama kali tau" Nasihat Aditya.
"Iya, Bang. Kamu gimana, sih?" Ucap Safira.
"Ya, Maaf. Tadi malam pas Pak Firman telfon Rora nya udah tidur, Abang nggak tega buat ngebangunin" Jelas Angkasa.
Memang benar, Sewaktu Angkasa membahas soal itu, Aurora sudah lebih dulu tidur, Sehingga Angkasa tidak tega untuk membangunkan sang istri.
"Yaudah nggak pa-pa, Ma, Pa! Rora ngerti, Kok" Ucap Aurora.
"Yang penting kamu nggak ngulangin lagi" Ucap Safira.
"Iya, Mama" Balas Angkasa.
"Yaudah, Papa mau ke kantor. Kalian nggam berangkat ke kampus?" Tanya Aditya sembari melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Kita ada jadwal jam 8, Jadi masih santai, deh" Jawab Angkasa.
"Yaudah, Papa berangkat dulu"
Aditya pun menyalimi mereka bertiga dan berangkat ke kantor diantar supir.
"Mama ke depan dulu antar Papa kamu" Ucap Safira dan diangguki Angkasa dan Aurora.
"Papa hati-hati dijalan" Ucap Aurora.
"Pasti, Sayang. Yaudah, Papa berangkat dulu" Ucap Aditya.
Aditya pun berjalan keluar diiringi Safira di sebelahnya.
Sementara Angkasa dan Aurora masih di meja makan menikmati sarapan mereka.
Bersambung.......
__ADS_1