SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 6: MAHASISWI TERBAIK


__ADS_3

Pagi ini Aurora sedikit bersantai. Kuliah di mulai jam 9, sementara ini masih pukul 7.30 WIB.


"Sayang, Mama mau tanya sama kamu" Ucap Elena yang tengah duduk di samping Aurora.


"Tanya apa, Ma? Tumben Mama serius" Jawab Aurora santai. Dirinya tengah memakan salad buatan sang Mama.


"Kamu punya pacar?" Aurora terbelalak. Spontan menoleh kearah Elena. Untung tidak tersedak.


"Kenapa Mama nanya gitu?" Aurora berbalik bertanya.


"Yaa.... Mama kepo aja, soalnya kamu nggak pernah bawa teman cowok ke rumah. Sekedar nganterin pulang juga nggak pernah" Tukas Elena.


"Ya kan Rora selalu bawa mobil sendiri. Rora nggak mau ngrepotin orang. Lagian, ngapain sih buang-buang waktu buat pacaran? Nggak penting!" Jawab Aurora.


Elena hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti.


"Emmm..... Ma, Mama dulu waktu kuliah gimana?"


"Gimana, gimananya?" Tanya Elena tak mengerti.


"Mama nilainya gimana? Terus ada keistimewaan apa, atau apa yang bersejarah waktu zaman kuliah?" Jelas Aurora.


"Oh, Itu...." Ekspresi Elena berubah menjadi girang. Sebelum memulai bercerita, Elena menebar senyum seakan mengingat momen paling bahagia.


"Dulu, Mama tuh selalu punya nilai tinggi, tau! Mama tuh Mahasiswi terbaik. Mama selalu dapat IPK tertinggi" Jeda Elena. Aurora memperhatikan dengan seksama.


"Mama sering ikut seminar diberbagai kota karena nilai Mama. Mama juga dipercaya jadi asisten Dosen waktu itu, Seru tau jadi asisten Dosen" Sambungnya.


Aurora mencebikkan bibirnya.


"Seru apaan? Iya seru kalau nggak dibawah tekanan. Lah gue? Tertekan banget, Mama!" Batin Aurora.


"Kalau awal ketemu Papa dulu waktu ada seminar di kampus. Papamu itu dulu juga rajin ikut seminar. Dia ikut seminar di kampus Mama, dan akhirnya ketemu Mama. Ah, pokoknya nggak bisa diceritain, deh. Terlalu panjang dan terlalu indah" Ucap Elena sembari membayangkan awal pertemuannya dengan Arkhan.

__ADS_1


"Oh iya, kenapa kamu nanya kayak gitu?" Mata Elena menyipit.


"Jujur, aku lagi kesel banget sama salah satu Dosen Killer di kampus. Dia masih muda, Sih! Tapi nyebelin banget!" Kesal Aurora.


"Dosen Killer? Siapa?" Tanya Elena mulai kepo.


Aurora bingung, kalau dia jujur bisa jadi boomerang buat dirinya sendiri. Mengingat Angkasa sudah kenal dekat dengan Mama dan Papa nya.


"Ada lah, dia nyuruh Rora buat jadi asistennya. Rora harus datang tepat waktu. Rora harus stand by di deket dia. Rora harus ini, harus itu!" Kesalnya.


"Sabar, Sayang. Ini awal yang baik, loh! Siapa tau kamu bisa kayak Mama"


"Semoga aja, Ma!"


Di sela percakapan mereka, sebuah notifikasi masuk ke handphone Aurora.


Ting!


"Kamu lupa sama perjanjian kita? Atau perlu aku ingetin? Ngomong-ngomong, aku tau loh alamat rumah kamu"


~ANGKASA*


Aurora mendelik. "Cobaan apa lagi ini, Ya Allah!" Batin Aurora.


"Ma, Aurora ke kamar dulu, Ya. Mau siap-siap" Pamit Aurora.


"Loh, masih setengah delapan, Sayang!"


"Iya, tapi Aurora belum mandi" Pungkas Aurora tersenyum kaku.


"Yaudah" Jawab Elena. Aurora pun segera berlari ke dalam kamarnya.


Dia pun duduk di tepi ranjang sembari mendial nomor Angkasa.

__ADS_1


Ini kejadian langka, dimana Aurora membuang semua gengsinya untuk menghubungi seorang laki-laki terlebih dahulu.


Tuutt.....


Terdengar beberapa kali suara sambungan telefon. Sementara di seberang sana, tepatnya Angkasa. Entah kenapa dia merasa deg-degan saat mendapati kontak Aurora memenuhi layar handphone nya.


"Tenang, Angkasa! Lo harus bersikap kayak biasanya" Gumamnya. Lalu menggeser tombol hijau.


"Kenapa? Mau saya jemput?" Angkasa memulai percakapan mereka.


"Mr! Jadwal kelas kan jam 9, kenapa disuruh datang sekarang? Please, Mr! Lama-lama aaya stres sendiri! Nggak lucu, Kan kalau saya gila padahal umur saya masih 20 tahun?!" Cerocos Aurora dengan nada emosi.


"Itu pilihan, Rora! Kalau kamu tidak mau, artinya kamu memilih opsi pertama, yaitu melaporkan ke orang tua kamu. Ingat, Rora! Saya sudah mengetahui alamat rumah kamu. Jika sekarangpun saya mau, saya bisa menjemputmu" Ujar Angkasa.


"Kamu ingat kan bagaimana reaksi kedua orang tuamu kepada saya tadi malam? Hal itu sudah meyakinkan bahwa kedua orang tua mu suka terhadap saya, Aresha Chandrika Aurora!"


Aurora segera mematikan sambungan telfonnya.


"Uuhhh...... Nyebelin banget lo, DosKill! Dasar singa jantan! Stres beratt guee!!" Teriak Aurora sembari mengacak-acak rambutnya.


Untung kamarnya kedap suara, jika tidak mungkin sang Mama akan berlari menemuinya.


Ting!


Lagi-lagi pesan masuk.


"Sebagai Mahasiswi terbaik, kamu harus membuktikannya, bukan?"


~ANGKASA


"Awas lo! Suatu saat gue bakal balas dendam sama lo, Angkasa! Gue sumpahin lo kena masalah di kampus!" Ujar Aurora.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2