
Setelah selesai sarapan, Angkasa, Aurora dan tak lupa si gembul Canva pun pergi berkunjung ke makam Arkhan dan Elena.
Sebelum masuk ke area pemakaman, Angkasa terlebih dahulu membeli bunga dan air untuk ditaburkan diatas makam kedua mertuanya.
"Ayo, Ra" Ajak Angkasa setelah mendapat apa yang dia cari tadi.
"Udah semua, Mas? Sekalian bunga mawar tangkai, kan?" Tanya Aurora.
Angkasa mengeluarkan 3 tangkai mawar merah dari dalam plastik yang dia tenteng.
"Mama suka banget sama bau mawar merah. Untung ada yang jual disini" Ucap Aurora.
"Yaudah ayo! Keburu panas, Kasihan Canva kalau udah panas" Ucap Angkasa.
Mereka pun masuk melalui gapura yang menjulang di tengah-tengah jalan menuju makam tersebut.
Sebelum menginjakkan kaki lebih dalam lagi, Aurora berhenti sejenak sembari menghela nafas panjang.
"It's okay! Kamu pasti bisa!" Ucap Angkasa memberi semangat.
Aurora tersenyum lalu mengangguk mantap.
"Ayo!" Ajak Angkasa. Dia pun meraih pundak sang istri untuk memberi kekuatan pada Aurora.
"Lo harus yakin, Ra! Ikhlasin yang udah pergi. Do'ain Mama Papa bahagia di sisi Tuhan" Batin Aurora menguatkan dirinya sendiri.
Setelah berjalan menyusuri makam tersebut, Mereka berhenti tepat di atas makam yang bertuliskan Arkhan Winata dan Elena Mayangsari.
Hati Aurora bergemuruh melihat dua makam saling berdampingan bertuliskan nama kedua orang tuanya itu.
"Sayang, Kita do'akan Mama dan Papa dulu" Ucap Angkasa lembut sembari menuntun Aurora berjongkok.
Sekuat hati Aurora menahan sesak agar tak menangis. Dia sudah berusaha menguatkan hati agar tak menangis kala melihat makam tersebut secara langsung.
Memang, Baru dua kali dia mendatangi makam kedua orang tuanya karena tak sanggup menahan kesedihan. Dan dia tak mau akibat kesedihannya itu dapat memberatkan perjalanan Mama dan Papa nya di alam sana.
"Are you okay?" Tanya Angkasa pelan. Aurora pun menoleh dan tersenyum pertanda tak apa-apa.
Namun, Angkasa tahu jika Aurora berbohong. Sorot matanya terlihat jelas bahwa Aurora sedih dan terlihat sangat jelas bahwa Aurora menahan tangisnya.
"Kita berdo'a dulu, Ya?" Ucap Angkasa.
Mereka pun mendo'akan Arkhan dan Elena sesuai syariat islam. Setelah beberapa menit berdo'a, Angkasa pun mengakhirinya.
"Ra? Kamu nggak pa-pa?" Tanya Angkasa sekali lagi.
"Aku nggak pa-pa, Mas. Kamu tenang aja" Ucap Aurora tersenyum.
__ADS_1
Angkasa membalas senyuman Aurora. Dia pun mulai diam dan memberuli ruang untuk Aurora.
"Hai, Mama. Hai, Papa" Sapa Aurora tersenyum. Satu tetes airmata turun di pipi Aurora.
"Kalian apa kabar? Kalau Rora sih baik-baik aja" Jeda Aurora.
"Mama sama Papa tau, nggak? Rora sekarang udah jadi Mama, loh! Ya, Walaupun bukan anak kandung, Tapi Rora udah anggap dia sebagai anak kandung sendiri. Hehehe..... Mama sama Papa pasti kasihan kalau dengar cerita Canva"
"Iya, Namanya Canva, Ma! Pa! Canva Adellano Ausky. Bagus, kan?"
"Halo Oma, Halo Opa!" Ucap Aurora sembari menirukan suara anak kecil.
"Hiks..... Rora minta maaf, Ma, Pa. Hiks..... Rora salah! Rora salah!" Tangis Aurora pecah.
Angkasa yang sedari tadi diam di samping Aurora pun menyentuh pundak sang istri dan menenangkannya.
"Nggak seharusnya Rora nyalahin Papa sama Mama atas pernikahan Rora, Gara-gara Rora Mama sama Papa pergi"
"Maaf, Karena Rora sempat nyangkal dan sempat marah sama kalian. Tapi, Rora mau bilang, Makasih Ma, Pa, Berkat kalian Rora nggak sendiri lagi!"
"Ternyata Papa benar, Ya. Rora sekarang bahagia, Papa bilang Rora akan bahagia dengan pilihan Papa, Nyatanya benar, Pa! Rora bahagia. Rora di ratukan oleh suami pilihan Papa ini. Terima kasih, Papa! Rora sayang Papa, Rora juga sayang Mama"
Keluh kesah dan semua isi hati yang menumpuk sejak lama akhirnya terkuak.
Hati Aurora merasa lega setelah menumpahkan semua isi hati dan pikirannya saat ini.
"Pulang sekarang?" Tanya Angkasa.
Aurora mengangguk dan tersenyum.
"Ma, Pa, Rora pulang dulu, Ya? Lain kali Rora bakal kesini lagi. Rora ajak Canva juga. Mama sama Papa nggak usah khawatirin Rora. Rora baik-baik aja disini. Love you, Ma, Pa" Ucap Aurora.
Setelah itu, Dia pun mencium batu nisan kedua orang tuanya dan beranjak pergi.
"Rora masih nggak nyangka akan semua ini, Ma, Pa! Tapi sekuat hati Rora akan menerima kepergian kalian dengan lapang dada. Istirahatlah dengan tenang, Anakmu sudah bahagia dengan laki-laki pilihan kalian" Batin Aurora sembari berjalan keluar area makam.
***
"Kamu baik-baik aja?" Tanya Angkasa khawatir.
"Aku baik-baik aja. Maaf ya, Mas. Aku terbawa suasana tadi, Hehehe....." Jawab Aurora tertawa kecil.
"Nggak pa-pa, Wajar dong kalau kamu nangis. Yang penting, Kamu do'ain mereka terus, Pasti mereka bahagia kok ngeliat kamu bahagia di dunia" Ucap Angkasa mulai menjalankan mobilnya pelan.
Aurora tak menjawab, Dia hanya diam sembari mengusap-usap pelan pipi Baby Canva.
"Emm..... Ra? Soal tadi, Emang bener?" Tanya Angkasa ragu-ragu.
__ADS_1
"Soal apa?" Aurora berbalik tanya.
"Bener kamu bahagia hidup sama aku? Apa itu artinya di hati kamu udah ada cinta buat aku?" Tanya Angkasa pelan.
Aurora menelan saliva nya kasar. Harus menjawab apa kali ini?
Jujur, Jika ditanya tentang perasaan, Aurora bimbang. Aurora merasa bahagia dan nyaman saat bersama Angkasa. Tak ada sedikitpun kekecewaan yang di dapat selama bersama Angkasa. Jika ditanya tentang cinta, Entahlah dia pun bingung bagaimana menjabarkannya.
"Ra?" Panggil Angkasa saat Aurora melamun.
"Ha?"
"Boleh kamu jujur sama aku? Apa udah ada cinta yang tumbuh di hati kamu?" Tanya Angkasa sekali lagi.
"Soal cinta, Persetan dengan itu semua, Aku ngerasa nyaman, Aman, Terlindungi, dan bahagia, Mas. Aku nggak tau itu devinisi cinta atau enggak. Yang pasti, Saat aku bersamamu, Ruang kosong dalam diri aku tuh hidup kembali. Rasa sepi yang dulu selalu ada, Sekarang udah hilang" Jawab Aurora yang membuat Angkasa terpaku.
"Jadi, Intinya kamu udah nerima aku sepenuhnya?" Tanya Angkasa lagi dengan perasaan membuncah.
"Aku bakal coba pelan-pelan. Bantu aku untuk mencintaimu" Jawab Aurora tersenyum.
"Pasti!" Ucap Angkasa lantang.
"Makasih, Sayang. Aku nggak tau lagi harus ngomong apa, Seenggaknya aku udah lega atas semua pernyataan kamu. Sekali lagi, Makasih" Ucap Angkasa yang kini sudah menepikan mobilnya.
"Iya, Sama-sama" Jawab Aurora tersenyum teduh.
"Boleh cium?" Tanya Angkasa.
"Ha?" Spontan Aurora terkejut. Tanpa persetujuan, Angkasa pun mendekatkan bibirnya ke kening Aurora. Angkasa mencium kening Angkasa dengan lembut dan dalam.
"Aku harap, Kamu cepet-cepet nerima aku sepenuhnya. Oh, Canva! Mimpi apa Daddy dapat jackpot kayak gini? Ini semua berkat kamu, Nak" Batin Angkasa.
Setelah mencium Aurora, Angkasa pun kembali melajukan mobilnya dengan perasaan bahagia.
Walaupun pernyataan itu terasa gamang, Namun Angkasa menganggap itu adalah pernyataan cinta.
"Sayang Canva, deh!" Ucap Angkasa menoel pipi Canva.
"Ih! Kenapa sih suka banget noel-noel pipi Canva? Keganggu kan tidurnya?" Kesal Aurora karena Canva merasa tak nyaman.
"Bilang aja cemburu, Pengen ditoel juga. Tuh, Can. Mommy kamu emang gitu" Sindir Angkasa.
"Apa? Bilang gitu sekali lagi aku suruh turun kamu!" Ucap Aurora kesal.
"Iya-iya! Galak banget, sih!"
Aurora tak lagi menjawab, dia lebih memilih memperhatikan sekeliling dari pada menatap Angkasa.
__ADS_1
Bersambung......