SUAMIKU DOSEN KILLER

SUAMIKU DOSEN KILLER
BAB 38: TERNYATA


__ADS_3

20 menit Angkasa dan Aurora melakukan perjalanan, Kini mereka sudah sampai di depan kantor polisi.


"Ayo turun" Ucap Angkasa sembari membuka seatbelt nya.


Tanpa menjawab, Aurora segera membuka seatbelt nya juga dan membuka pintu mobil.


"Ayo masuk" Ucap Angkasa lagi. Lagi-lagi Aurora hanya diam dan mengikuti jejak sang suami.


Setelah mereka masuk, Mereka sudah ditunggu oleh Pak Firman di mejanya.


"Silahkan duduk, Pak Angkasa, Bu Aurora" Ucap Pak Firman sembari menyalami keduanya.


"Bagaimana, Pak?" Tanya Aurora to the point.


"Begini, Pak Angkasa, Bu Aurora. Setelah kami mengusut tuntas kasus ini, Ternyata bayi tersebut adalah anak dari seorang pelajar SMA yang ada di salah satu desa terpencil dipelosok kota"


"Setelah kami menemukan identitas pelaku, Kami melacak rumahnya dan kami berhasil menemukan rumah tersebut. Ibu dan Ayah dari bayi tersebut adalah seorang pelajar SMA kelas 11 yang memang sedang menjalin asmara bahkan sampai melakukan hubungan terlarang"


"Saat ini kedua remaja itu sudah kami proses sesuai hukum yang berlaku. Untuk Bapak dan Ibu Angkasa, Saya menyarankan kepada anda untuk berjaga-jaga meminta bantuan pengacara. Saya hanya menyarankan, Kalau suatu saat pihak keluarga bayi tersebut melawan dan mengajukan banding" Ucap Pak Firman panjang lebar.


"Baik, Pak. Terima kasih atas informasinya, Saya akan melakukan sesuai rencana saya sendiri. Sekali lagi terima kasih atas informasinya" Ucap Angkasa.


"Tapi Mas, Aku nggak mau sampai kasus ini dinaikin ke pengadilan" Ucap Aurora yang membuat Angkasa tersentak.


"Kenapa?" Tanya Angkasa.

__ADS_1


"Jangan ambil keputusan apapun dulu, Biarin mengalir seperti air. Sisanya biar tuhan yang nentuin jalan" Ucap Aurora sulit dipahami.


Bukan apa-apa, Entah kenapa Aurora ingat dan membayangkan bagaimana jika dia diposisi orang tua bayi itu. Pasti sangat dilema, Setelah mengetahui kebenarannya, Mendadak hati Aurora sedikit kasihan.


"Mengenai bayinya, Kami memutuskan untuk tetap berada dirumah sakit, Dia masih butuh bantuan khusus dan juga saya rasa ini adalah jalan tengahnya" Ucap Pak Firman.


"Berarti saya boleh jenguk dia setiap hari, Pak?" Tanya Aurora berbinar.


"Boleh, Bu. Kapanpun Ibu mau, Ibu boleh menjenguknya" Ucap Pak Firman.


"Terima kasih, Pak" Ucap Aurora.


Setelah itu, Angkasa dan Aurora pun pulang. Entah kenapa hati Aurora bahagia sekaligus khawatir. Bahagia karena dia bisa menjenguk bayi itu tanpa ada aturan waktu. Namun, Khawatir jika bayi itu kembali pada orang tuanya dan pergi jauh darinya.


Sejak awal dia menemukan bayi tersebut, Aurora sudah jatuh hati dan menyayangi bayi itu. Dia merasa jiwa yang selama ini hilang, Hadir dan bangkit kembali. Hidup yang awalnya hanya ada penyesalan, Perlahan tertutup dengan hadirnya bayi itu.


"Assalamu'alaikum, Mama, Papa" Ucap Angkasa dan Aurora berbarengan.


"Wa'alaikum salam, Sayang. Gimana?" Tanya Safira dengan sedikit lari tergopoh-gopoh menghampiri anak dan menantunya itu.


"Mama jangan lari!" Peringat Aurora. Wanita setengah baya namun masih terlihat sangat cantik itupun tersenyum kikuk dan berhenti tepat di depan Aurora.


"Gimana, Sayang? Apa keputusan dari pihak kepolisian?" Tanya Safira.


"Mama, Mbok ya disuruh duduk dulu, Masa mereka cerita sambil berdiri?" Ucap Aditya yang sedang berjalan menuruni tangga.

__ADS_1


"Oh iya, Sorry Mama lupa. Ayo cepetan Sayang, Cerita sama Mama!" Ucap Safira menarik pelan tangan Aurora.


Setelah duduk, Aurora pun membuka suara dan mulai menceritakan semua yang didapat dari kantor polisi, Sesekali Angkasa menimpali.


"Jadi, Bocil SMA yang ngelahirin bayi itu? Terus dia rela pergi ke kota sama pacarnya buat buang darah dagingnya sendiri? Kelakuan anak zaman sekarang, Ya! Akibat pergaulan bebas ya gitu! Anak nggak berdosa jadi korban. Angkasa, Mama nggak mau tau, Kamu harus ajuin banding. Urusan pengacara biar Papa yang cari pengacara terbaik" Ucap Safira sedikit emosi.


"Mama, Kita nggak bisa gegabah. Angkasa punya cara sendiri buat ngatasin masalah ini, Angkasa juga punya cara sendiri buat ngelawan mereka" Ucap Angkasa.


"Iya, Mamamu ada benarnya juga. Angkasa, Aurora, Kapanpun kalian butuh Papa, Jangan sungkan buat bilang. Papa akan bantu semampu Papa" Ucap Aditya.


"Papa jangan khawatir, Aku bakal atasi masalah ini" Timpal Angkasa.


"Ma, Pa, Rora nggak mau masalah ini sampai berlarut-larut, Kalau bisa kita selesaikan secara kekeluargaan. Kasihan juga mereka, Pasti tertekan" Ucap Aurora.


"Tapi....."


"Udah, Kita tunggu aja gimana belakangnya, Aku percaya takdir tuhan" Ucap Aurora yang menghentikan ucapan Angkasa.


Mereka pun pasrah dengan kemauan Aurora. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Aurora.


Bersambung.......


Halo, Update lagi! Mohon dukungannya, Dong! Biar semangat update. Like, Komen, Vote yang banyak!


Nuangin ide nggak gampang, Guys. Kasih dukungan biar otak saya lancar kayak jalan tol, Hehehe......

__ADS_1


Salam hangat dari Queen. Selamat membaca❤


__ADS_2